
Nisa terkejut saat ada seorang siswa laki - laki yang memakaikan seragam di tubuhnya. Pandangan cowok itu cukup sulit Nisa artikan. Nisa memandang manik mata cowok itu. Salah satu yang dia tangkap hanya pandangan mata teduh untuknya. Pandangan itu mengatakan bahwa semua akan baik - baik saja.
"Kasihan sekali cewek ini," batinnya dengan tatapan mengiba melihat mata Nisa yang memerah walau dia tidak sampai meneteskan air mata.
Dia paham dengan hati Nisa. Siapa sih yang mau dibully orang lain? Siapa juga sih yang tidak sakit hati jika dibully? Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rahangnya mengeras. Tatapannya menajam. Dia kesal sekaligus marah.
Selesai memakaikan bajunya untuk Nisa, ia mambalikan badannya. Dia menatap tajam Cecil dan teman - temannya dengan rahang mengeras. Aura dingin menguar di tempat itu. Nisa khawatir kalau masalah yang menimpanya itu semakin rumit.
Okta yang semula sangat kesal mengeringai tipis. Dia tidak menyangka bahwa ada orang yang masih peduli. Rindang hanya memperhatikan semuanya dengan tatapan khawatir begitupun juga dengan yg lainnya.
"Syukurlah masih ada orang yang mau peduli dengan posisi kami," batin Rindang lebih lega.
Dia berjalan mendekati Cecil. Refleks Cecil terus mundur seiring Dhika semakin mendekatinya. Cecil berhenti sampai dia sudah menabrak meja di belakangnya. Dhika berhenti di depannya. Untuk situasi yang sehat mungkin ini adalah salah satu keinginan Cecil menatap dekat sang pujaan hatinya.
Namun tidak dengan kali ini. Suasana mencekam menyelimutinya. Cecil tidak mengira bahwa dia akan ikut campur dengan urusannya. Padahal biasanya dia diam saja ketika Cecil membully orang lain.
Adhika Kevern, cowok blasteran yang tentunya tampan, sang pujaan hati Cecil.
Bagas dan Ivan yang melihat suasana ini mau tidak mau harus ikut mendekat. Mereka tidak mau hal - hal diluar kendali mereka terjadi. Karena mereka tahu selama lebih dari 1 tahun sekolah di sini, baru kali ini Dhika ikut campur saat Cecil membully orang lain. Biasanya dia hanya melihat dan bersikap tenang saja. Kalau ada museumnya mungkin sikap Dhika akan mereka museumkan.
"Eh Gas ada apa sih dengan Dhika? Gak biasanya dia kek gini?" tanya Ivan ke Bagas.
Bagas hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban pertanyaan Ivan.
"Udahlah ayok samperin aja dianya. Gue takut Cecil nanti kenapa - napa kalau Dhika sampai tidak bisa menahan amarahnya," ucap Bagas.
Ya. Dhika memang termasuk orang yang tenang. Tapi jangan salah. Ketika seseorang mengusiknya bahkan menyakiti dirinya apalagi seseorang yang dia anggap penting di hidupnya, Dhika pasti kesulitan untuk mengontrol emosinya.
Mereka mengetahui saat kejadian beberapa tahun silam. Dulu mereka 4 bersahabat. Dhika dulunya juga anak yang periang. Sampai saat adik Dhika kecelakaan karena salah satu sahabatnya. Dhika memukuli salah satu sahabatnya hingga sahabatnya koma.
Bukan tanpa alasan; Dhika memukuli sahabatnya karena setelah kecelakaan itu nyawa adiknya tak terselamatkan. Dhika sangat kalut. Untungnya keluarga sahabatnya memahami bagaimana kekalutan Dhika hingga mereka tidak membawa perbuatan Dhika ke ranah hukum.
Mulai saat itulah Dhika mempunyai pembawaan tenang namun dia akan sulit mengontrol emosinya ketika orang yang dia anggap penting itu disakiti.
Bagas dan Ivan berlari mendekati Dhika dan yang lainnya.
"Huhhh huhhh capek," Ivan ngos - ngosan.
__ADS_1
"Ha..aai princess," sapa Ivan untuk Jeje sambil mengerlingkan matanya.
"Iyuhhh," Jeje melengos jijik.
"Awww," Ivan mengusap kepala sampingnya. Ivan mendapat jitakan Bagas. Bagas heran bisa - bisanya masih genit sama Jeje di waktu genting seperti ini.
"Heii Dhik santai, santai. Kalem men," Bagas mengelus pundak Dhika untuk menenangkannya.
Namun semua sia - sia. Dhika menepis tangan Bagas di pundaknya. Dhika tidak mau mendengar bahkan semakin menatap tajam Cecil. Cecil yang ditatap semakin gemetar ketakutan tapi ia menyoba menyembunyikan perasaan itu dengan sekuat tenaga.
"Hahahahaha!" Dhika tertawa hambar.
Seisi kantin yang mendengar tawa Dhika sungguh merasakan kengerian yang luar biasa. Seorang pangeran tampan ternyata bisa berbuat demikian. Cecil semakin tidak berani menatapnya. Nisa kawatir kalau suasananya akan memburuk.
"Udah ngrasa hebat lo?! Udah ngrasa sok berkuasa ha?!" bentak Dhika. Suasana jadi hening seketika. Cecil menatap Dhika semakin takut. Dia mencengkeram meja di belakangnya.
"Hei Cil! Gue selama ini memang diem lihat lo sama sahabat - sahabat busuk lo ngebully orang lain. Tapi diem gue bukan berarti gue gak peduli. Gue cuma males berurusan sama lo! Cihh," ucap Dhika sinis.
Dhika menahan amarahnya agar tidak meledak. Mengganggu Nisa sudah berarti mengganggunya. Dia sudah menandai Nisa sebagai gadis yang berarti bagi Dhika. Ada sesuatu yang membuatnya ingin melindungi gadis itu. Memang secara fisik masih cantikan Cecil kemana - mana tapi soal hati? Nisa sungguh menyentuh hatinya.
"Tamat gue tamat nih. Gue harus cari cara buat keluar dari sini. Firasatku gak enak nih," batin Cecil yang menahan rasa takut agar semua orang tidak menyadari ketakutannya.
Nisa paham akan tatapan itu hanya diam. Dia menahan rasa dingin yang menusuk ke dalam kulitnya.
"Aduhh bahaya nih gawat! Bisa brabe ntar nih kalau nggak segera diselesaikan.' batin Rere cemas.
"Tamat tamat," batin Jeje sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Busuk?? Emang kita buah ya?" gumam Lala pada dirinya sendiri.
"Bsssssttt La diem aja lo," bisik Rere menyuruh Lala untuk diam saja.
Gumaman Lala dan bisikan Rere memang hanya lirih namun suaranya masih terdengar di indra pendengarnya Dhika. Hingga Dhika melirik ke arah mereka. Seakan mengisyaratkan 'bisa diem gak sih lo!'. Rere mengacungkan 2 jari telunjuk dan tengahnya.
Dhika kembali fokus ke arah Cecil. Dia ingin mengucapkan sesuatu namun terpotong dengan suara Nisa.
"Gue sebenernya kasihan sama lo La. Mau maunya lo jadi kac*ngnya Cecil? Dibayar pake apa lo?" ucap Dhika untuk Lala.
__ADS_1
Lala yang basic nya lola berusaha mencerna ucapan Dhika. Jeje yang di samping Lala membisikan sesuatu agar Lala tidak terpengaruh ucapan Dhika.
"La jangan dengerin ucapan Dhika. Dia bohong," bisik Jeje di telinga Lala. Anggukan kepala Lala adalah jawabannya.
"Gue bukan kacung Cecil tapi sahabatnya! Memang salah?" ucap Lala dengan berani.
"Cihh... Bodoh!" ejek Dhika.
"Eh Dhik, ada masalah apa sih lo sama gue? Perasaan gue gak ngusik elo? kenapa lo nyolot sih?" tanya Cecil kesal menahan marahnya. Dia begitu karena dia gak terima Dhika bela Nisa, begitu pikir Cecil.
"Ooohhh apa jangan - jangan lo ada rasa lagi sama cewek sialan itu!" selidik Cecil.
Dia menunjukkan telunjuknya di depan dada Dhika. Dhika menangkap pergelangan tangan Cecil dan mencengkeram tangannya dengan kuat. Cecil meringis kesakitan.
"Hei heii. Tahu apa lo tentang gue? Emang lo siapa gue HAaa?" ucap Dhika kesal karena kepeduliannya disalah artikan.
Dia mencengkeram tangan Cecil semakin erat. Cecil berusaha melepaskan cengkeraman yang menyakitkan itu. Nisa kasihan melihat Cecil meringis kesakitan.
"Cukup! Udah kenapa ha? Gak usah diperpanjang lagi. Lagian aku tidak apa - apa," Nisa berdiri, mencoba menghentikan ketegangan di situ.
"Permisi," ucap Nisa dengan suara lirih.
Nisa pergi dari kantin dengan kondisi yang tidak baik - baik saja. Okta dan Rindang mengikuti kemana perginya Nisa. Lewat di depan Cecil dan lainnya, Okta melayangkan tatapan penuh peringatan karena mereka telah menyakiti sahabatnya.
"Nis tunggu gue," teriak Okta sambil mengejar Nisa.
"Hufffttt udahlah terserah lo!" Dhika menghela napas kasar lalu segera pergi mencari keberadaan Nisa.
Dhika juga malas berdebat lebih lama dengan Cecil. Dia juga sangat khawatir dengan keberadaan Nisa. Baru kali ini Dhika melihat Cecil membully orang lain sebegitu parahnya. Bagas dan Ivan segera menyusul Dhika.
Cling
Ivan mengerlingkan satu matanya untuk Jeje, gadis yang beberapa bulan ini dia incar. Namun apa daya, nasibnya seperti Cecil yang mengejar Dhika.
Sampai di depan kantin mereka kehilangan jejak Nisa. Dhika mengedarkan pandangannya ke semua penjuru arah namun tak dia temukan keberadaan Nisa.
"Gas, Van lo berdua bantu gue cari Nisa dan 2 temennya. Gas lo ke gedung sebelah selatan, dan lo Van ke gedung sebelah utara. Gue ke sebelah timur. Kalau sudah ketemu nanti kabari gue," pinta Dhika yang diangguki kedua sahabatnya.
__ADS_1
Mereka pun berpencar mencari keberadaan Nisa, Okta, dan Rindang.