
Pagi ini, Ivan berada di depan rumah Jeje. Ia bersender di mobilnya, menunggu Jeje siap berangkat.
Mau tidak mau, Jeje menuruti perintah Mamanya. Ia tidak punya pilihan lain. Yahh hitung-hitung menghemat uang jajan. Kan lumayan hehehe. Toh tinggal hari ini saja mereka sekolah. Mereka ke sekolah hanya untuk mengambil raport dan juga mendengar pengumuman sang juara kelas.
Tanpa menyapa Ivan, Jeje langsung membuka pintu belakang mobil. Ivan membiarkannya. Ia masuk ke dalam mobil. Namun ia hanya masuk saja tanpa meghidupkan mobilnya kembali.
Tingkah Ivan membuat Jeje kesal.
"Ck, cepat, jalan kenapa?" ketusnya.
"Siapa lo siapa gue? Gue bukan sopir lo."
"Terus kenapa lo mau ngantar jemput gue kalau lo bukan sopir?!"
Alih-alih menjawab, Ivan malah menggunakan headset di telinganya.
"Van cepat jalan, keburu telat!" rengek Jeje. Namun Ivan malah terlihat santai.
"Van!" bentaknya.
"Apa sih, Je?" jawab Ivan malah bersender di jok mobil.
"Kalau mau jalan ya pindah depan. Kalau tidak ya aku sih seneng." ucapnya santai.
Jeje sangat kesal. Ia ingin keluar dari mobil itu, namun sayang. Mobil telah dikunci dari dalam. Alhasil Jeje pindah ke kursi penumpang dekat kursi kemudi lewat dalam mobil. Jeje duduk dan memasang sabuk pengamannya. Ivan tersenyum tipis, akhirnya ia bisa semobil berdua dengan Jeje.
Tak lama kemudian, Ivan langsung melajukan mobilnya ke sekolah.
*******
"Semua siswa harap berkumpul ke lapangan!"
__ADS_1
Suara itu menggiring semua siswa berkumpul, berbaris rapi untuk mendengarkan berbagai hal pengumuman.
Banyak pengumuman yang diumumkan, mulai dari pengumuman juara kelas, libur sampai pesan-pesan dari para guru untuk muridnya.
"Setelah ini kalian bisa kembali ke kelas kalian untuk menerima rapor hasil kalian belajar di semester ini. Mengerti?"
"Iya, Pak."
"Baiklah selamat berlibur, sampai jumpa tahun depan. Bubar jalan!"
Semua siswa kembali ke kelas mereka masing-masing.
Setelah itu satu persatu dari mereka menerima rapor mereka. Semuanya berhamburan pulang. Ivan mencari-cari keberadaan Jeje. Namun ternyata Jeje telah pulang bersama Cecil dan yang lain. Akhirnya Ivan menghampiri sahabat-sahabatnya yang masih ada di sekolah dengan muka masam.
"Astaga baru muncul aja. Kemana aja lo?!" tanya Bagas. Muka Ivan sangatlah tidak enak untuk dipandang.
"Gue habis pepet tuh Caisdep gue. Tapi gagal," ucapnya lunglai lalu mendudukkan di bangku yang kosong.
"Calon Istri Masa Depan," jawabnya malas.
"Jiahh pantesan kabur, yang mepet aja kaya gini modelannya!" ledek Okta.
Ivan bergerak cepat. Ia memiting kepala Okta karena ia kesal. Okta meronta ingin dilepaskan namun tak kunjung lepas. Tenaga Ivan lebih kuat darinya.
"Kak lepasin, Kak."
"Gak akan gue lepasin."
Karena kesal, Okta mencubit tangan Ivan. Ivan meringis kesakitan.
"Astaga sakit Ta!" Ivan mengusap tangannya yang pedih karena dicubit Okta.
__ADS_1
"Wlek, sukurin!" Okta memeletkan lidahnya.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Okta dan Ivan. Mereka heran, kenapa mereka tidak pernah akur kalau bertemu. Is is is ish.
"Sepertinya ada yang jadi juara kelas nih," ucap Bagas.
"Dua orang lagi. Bakalan makan-makan nih!" sahut Okta.
Di semester itu, Dhika dan Nisa menjadi juara kelas di kelas mereka masing-masing.
"Okay deh, gue traktir. Mau makan apa?" tanya Dhika.
"Bakso aja gimana? enak tuh kayaknya, seger," ucap Okta.
"Apalagi yang mercon, behhh," Ivan membayangkan saat ia memakan bakso itu.
"Iya, apa lagi sekarang ada yang kompakan," goda Nisa.
Seketika Okta dan Ivan tersadar.
"Ngapain lo ikutin gue?!" mereka berdua serentak bersuara.
"Wahh ketahuan sehati nih," goda Bagas.
"Gak sudi!" ucap mereka serentak lagi.
"Wihh ku doain kalian jodoh," ucap Dhika.
"Amit-amit!"
"Awas ntar imut-imut loh," ucap Rindang kemudian tertawa.
__ADS_1
Okta dan Ivan memalingkan mukanya kesal. Seketika gelak tawa terdengar, menertawakan tingkah laku Okta dan Ivan.