Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Bersandiwara 2


__ADS_3

Di sekolah


Terlihat bangunan yang beraromakan bumbu bumbu penyedap berbagai rasa. Begitulah sekolah. Ada yang menghirupnya seperti aroma masakan lezat yang menggoda untuk dimakan, ada yang menganggapnya seperti ramuan yang sungguh tidak enak untuk synonym, ada menganggapnya seperti penjara kebebasan namun ada yang biasa saja, datar dan membosankan.


Ketika sampai di area sekolah Nisa dan Okta segera memarkirkan motornya. Motornya Nisa motor memang sederhana. Namun Okta tidak merasa malu berboncengan dengan Nisa. Okta memang bukan anak kaya yang sombong.


Memang sudah seperti Upin & Ipin mau gimana lagi? iya kan? hahaha


Hemmfftt


Terdengar tarikan napas Nisa. Ia memejamkan matanya dan tersenyum. Wajahnya terlihat sudah ceria lagi.


"Kenapa lo Nis? Kayaknya bahagia amat?" tanya Okta sambil terkekeh namun juga heran.


"Kesambet apa sih Nis pagi pagi gini udah senyam senyum sendiri?" imbuh Okta


Nisa yang mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut best friend nya itu pun hanya menoleh ke arah Okta sambil tersenyum. Satu kata pun belum terucap dari mulutnya. Okta yang melihatnya malah jadi kesal sama Nisa.


"Iihhh Nis gue tanyanya beneran,, jawab yang bener dong, jangan bikin gue mati penasaran." ucap Okta cemberut.


"Wanih piro?" ucap Nisa sambil mencondongan badannya ke arah Okta. Okta yang mendengarnya semakin kesal. Alhasil bibirnya maju ke depan 5 cm haha.


Melihat tingkah sahabatnya itu Nisa malah tertawa terbahak-bahak.


"Haha gitu aja ngambek," ucap Nisa yang masih tertawa.


"Uluh uluhh sahabatku ngambek nih," Nisa mencubit pipi Okta. Okta semakin memalingkan mukanya.


"Yaudah deh. Gini- gini. aku cuma lega aja karena aku udah bisa menerima kenyataan bahwa aku sekarang sekolahnya di sini. And finally kedepannya aku bisa menjalaninya dengan ikhlas sepenuhnya. Aku akan memulainnya dari awal," jawab Nisa serius dengan semangat yang membara seakan akan tak akan pernah padam.


"Wahh ini nih baru namanya Nisa.. Sahabatku yang selalu ceria dan nggak pantang menyerah. Dengan begitu setidaknya beban lo itu banyak yang terangkat jadi lo sekolah disini tuh terasa ringan," timpal Okta dengan wajah yang kembali cerah karena sudah tahu alasan Nisa.


Percakapan singkat di parkiran pun selesai. Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri lorong menuju ke kelas mereka. Banyak siswa siswi sudah banyak yang memasuki area sekolah. Para guru dan staff karyawan pun mulai mendatangi sekolah. Sapaan demi sapaan terdengar ke sana ke mari.


Di dalam kelas Nisa dan Okta sudah ramai. Teman- temannya sudah banyak yang berangkat. Dika Mahendra yang dijuluki sebagai Si Gendut Tukang Makan juga sudah makan camilannya pagi ini. Hingga terdengar suara teriakan cepreng dari seseorang.


"SELAMAT PAGIIIIII" teriakan cempreng itu menggema di dalam kelas.

__ADS_1


Ya siapa lagi kalau bukan Candy Anting Dellice yang kerap dipanggil Candy, si gadis cantik berambut pirang tetapi bersuara peluit.


Semua orang yang di dalam kelas otomatis melindungi telinga mereka dari suara teriakan Candy. Sampai salah satu siswa yang bernama Adi Saputra angkat bicara.


"Hoiii Zani ini bukan di rumah lo kalik, bisa jebol nih telinga denger suara lo itu," ucap Adi yang kesal dengan suara teriakannya Candy. Semua yang ada di dalam kelas heran. Siapa Zani? Karena di kelas itu tidak ada yang namanya Zani.


"Eh Di, siapa Zani?" tanya Okta. Yang lainnya menganggukkan kepala karena pertanyaan mereka sama. Mereka semua menunggu jawaban dari Adi.


"Nah tuhh si Candy kan saudaranya Tarzan. Yaudah deh berarti dia Tarzani karena dia cewek," ucap Adi sambil tertawa. Sedangkan yang lainnya hanya saling berpandangan dan ber o ria.


"Ooooo...." ucap yang lainnya bersamaan.


Candy yang diledek pun kesal sama Adi sangat kesal hingga dia berteriak kembali.


"ADDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!" Candy berteriak di dekat telinga Adi. Suaranya sungguh mengglegar seperti peluit yang ditiup kuat. Semuanya semakin mempererat pertahanan penyumpalan suara di telinga mereka masing-masing.


clubkk


Adi mengambil camilan Si Gendut di dekatnya dan memasukkannya ke mulut Candy. Candy pun diam seketika.


Candy yang sudah kesal tingkat dewa akhirnya menuju ke tempat duduknya untuk meletakkan tasnya.


Semua orang yang ada di kelas itu tertawa tak terkecuali Nisa dan Okta.


Ya itu salah satu alasan kenapa Nisa akan memulai semuanya dari awal. Selain karena dia sudah memantapkan hatinya, teman sekelasnya banyak yang asik dan membuatnya semakin bersemangat untuk menjalani kehidupannya.


***************


Sesaat kemudian Cecil menghidupkan laptopnya dan mulai mencari film yang ingin ia tonton. Berbagai film yang dibintangi oleh salah satu aktor Korea Selatan berjajar rapi dihadapan Cecil. Siapa lagi kalau bukan Ji Chang Wook, aktor tampan dengan sejuta pesona untuk melelehkan hati para wanita. Wanita manapun tidak akan menolak pesonanya tak terkecuali Cecil.



Gimana dong? hanya dengan melihat aktor idolanya pakai kaos oblong gitu aja Cecil udah klepek- klepek.


Di dapur, Mbok Seneng sedang memindahkan bubur dari panci ke mangkok. Tak lupa dia mengambil segelas air dan 1 tablet obat penurun panas. Mbok Seneng meletakkannya di atas nampan. Setelah selesai, dia membawanya ke kamar Cecil.


Tok tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu Mbok Seneng terdengar. Cecil yang ada di dalam kamar panik. Dia malah mondar mandir gak karuhan.


"Aduh gawatt. Gimana nih, woi berpikir Cil,, ahh tutup laptop balik rebahan" batin Cecil. Cecil kembali ke kasurnya lalu merebahkan tubuhnya dan menyelimuti badannya


"Non buburnya udah masak. Simbok masuk ya Non," suara Mbok Seneng terdengar dari balik pintu.


Ceklek


Pintu terbuka. Mbok Seneng masuk ke kamar Cecil membawa semangkuk bubur, air putih serta obat penurun panas dengan nampan.


Mbok Seneng membangunkan Cecil dengan lembut. Cecil terbangun, lalu Mbok Seneng membantu mendudukkan Cecil untuk bersandar di sisi ranjang. Mbok Seneng menyuapi Cecil dengan tlaten. Ia akan menunggu Cecil sampai Cecil meminum obat. Namun Cecil melarangnya.


"Mbok udah aku bisa sendiri mbok minum obatnya. Mbok tinggal aja nggak papa mbok. Perutku masih terlalu penuh, jadi nunggu agak longgar mbok minum obatnya," ucap Cecil sambil tersenyum lemah.


"Tapi Non.... "


"Udah mbok nggak papa, nanti biar Cecil yang jelasin ke ayah kalau nanti ayah tanya mbok," jelas Cecil. Dalam hatinya berharap Mbok Seneng percaya padanya.


Mbok Seneng terdiam. Dia berpikir langkah apa yang akan dipilihnya.


"Baiklah Non," putus Mbok Seneng setelah memikirkannya beberapa saat. Mbok Seneng berjalan keluar kamar untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ceklek


Pintu tertutup kembali. Mbok Seneng sudah keluar dari kamar Cecil.


Huffttt


"Akhirnya keluar juga Mbok Seneng," ucap Cecil pada dirinya sendiri. Akhirnya Cecil bisa bernapas lega. Itu yang dipikirkan Cecil.


Cecil tidak mungkin meminum obatnya karena ia memang tidak sakit. Untuk menghindari kecurigaan, Cecil mebuang obatnya ke toilet.


Setelah semuanya selesai, Cecil melanjutkan agendanya menonton film. Ia memandangi idolanya tanpa berkedip sampai lupa menutup mulutnya. Bagaimana tidak idolanya yang dia pandang sangatlah gagah dan menggoda iman.



Dan seharian itu Cecil menghabiskan harinya dengan maraton film Korea favoritnya.

__ADS_1


__ADS_2