
Perubahan Dhika yang cukup drastis itu benar -benar menggemparkan seisi sekolah. Setelah kedatangannya pagi ini dengan senyum yang terlukis di wajahnya menjadi trending topik. Siapa sih yang gak kenal Dhika?
Sesampainya di kelas Dhika, Bagas, dan Ivan menaruh tas mereka. Bagas yang sebangku dengan Dhika, menghadapkan badan mereka ke arah Dhika. Ivan berdiri bersandar di meja, samping Dhika. Ia melipat tangannya di depan dada. Mereka masih penasaran kenapa Dhika berbeda pagi ini.
"Bro sebenernya lo tuh kenapa? Lo beda dari biasanya, sumpah." Ivan mengangkat tangannya dengan menekuk jari jempol, manis dan kelingkingnya.
"Gue baik-baik saja," jawab Dhika seadanya. Dia melihat Bagas dan Ivan bergantian.
"Pagi my prince," sapa Cecil. Bagaikan tamu tak diundang, Cecil muncul di depan Dhika. Dhika berjengit kaget sampai mengelus-elus dadanya. Dia berdiri membawa tempat makan berisi roti isi untuk Dhika. Ketiga sahabatnya dengan setia mengikuti Cecil ke kelas Dhika.
Dhika berdecih malas melihat Cecil yang muncul di depannya. Dia melihat tempat makan di tangan Cecil.
"Mau ngapain lagi sih lo pagi-pagi udah muncul saja?" ketus Dhika. Ternyata perubahan kecilnya masih tidak berlaku untuk menghadapi Cecil.
Cecil menunjukkan deretan giginya. Kemudian ia menyerahkan tempat makan itu. Namun Dhika bergeming. Dia hanya melihat Cecil datar tanpa ada niatan mau mengambil tempat makan dari Cecil.
"Bawa balik!" ucap Dhika datar tanpa melihat ke arah Cecil. Namun Cecil bergeming. Dia tidak bergerak dari posisinya. Dhika mendengus kesal. Dia tak tahu bagaimana mengusir Cecil.
"Yaampun my prince, kenapa senyummu menghilang? Padahal tadi seisi sekolah sudah gempar dengan senyummu." ucap Cecil dengan muka melas yang dibuat-buat.
Dhika hanya berdecih sebal, muak dengan segala kelakuan Cecil.
"Udah deh Cil, lo nyerah aja. Mending itu makanan dikasih ke gue sama Bagas. Pasti kita habisin kok," ucap Ivan enteng. Bagas mengangguk setuju.
"Enak aja! Ini gue buatnya khusus buat my prince seorang. Bukan buat lo!"
"Santai santai, gak usah ngegas Cil." Kali ini Bagas yang angkat bicara. Cecil menatap sinis Bagas dan Ivan.
"Atau jangan-jangan Princess Jeje udah bawain juga nih buat A'a yang ganteng ini," imbuh Ivan narsis. Jeje memutar bola matanya, jengah dengan sikap Ivan. Ivan malah terkekeh.
"Dhik lo gak kasihan sama Cecil yang udah bawain lo sarapan?" ucap Rere membela Cecil. Cecil memasang muka semelas mungkin.
"Pagi-pagi dia bikinin makanan itu hanya buat lo Dhik," imbuh Jeje sedramatis mungkin. Sayangnya, Dhika tetap tidak peduli.
"Ehh.... Bukannya tadi Cecil beli makanan itu terus lo taruh di tempat makan itu ya?" Dengan polos, Lala membeberkan rahasia Cecil yang mereka tutup rapat tanpa ia sadari.
Rere menepuk keningnya. Dia merutuki kepolosan Lala yang loadingnya lama. Cecil mengumpati Lala dalam hatinya karena sudah menghancurkan rencananya untuk pendekatan sama Dhika.
__ADS_1
"Itu maksud Lala tadi yang beli makanan Jeje terus ia masukkan deh makanan itu ke tempat makannya Jeje. Gitu!" sahut Rere cepat.
"Iya betul itu. Lala salah lihat kalik," ucap Jeje agar mereka tidak curiga.
"Tapi kan---" ucap Lala terputus saat mendapat tatapan tajam dari Rere.
"Oh iya, gue salah melihat, hehehe," Lala merasa gak enak karena hampir saja dia menghancurkan rencana Cecil.
Tapi Bagas dan Ivan, terutama Dhika tidak percaya. Mereka lebih percaya dengan perkataan Lala yang pertama. Biar pun sering gak nyambung tapi justru itu dia malah berbicara jujur sesuai dengan hatinya.
"Dhik setidaknya lo nerima pemberian Cecil. Sekali ini saja." Rere menekankan kalimat terakhirnya penuh dengan permohonan.
Dhika mengambil tempat makan itu dengan malas. Cecil pun terlihat sangat bahagia. Akhirnya pemberiannya diterima. Rere, Jeje, dan Lala juga terlihat senang.
Namun berbeda dengan Bagas dan Ivan. Mereka heran dengan tindakan Dhika. Mereka berpandangan satu sama lain.
Tak disangka, tiba-tiba Dhika berdiri lalu berjalan keluar. Dia menghentikan seseorang.
"Hei Nis,"
*********
Saat melewati kelas Dhika, Nisa dan Okta melihat Cecil dan ketiga sahabatnya berada di dalam kelas Dhika. Namun apa peduli mereka? Nisa dan Okta tetap berjalan, sampai suara Dhika menghentikan langkah mereka.
"Hei Nis," mereka berhenti. Mereka mendapati Dhika sudah berdiri di belakangnya. Kebetulan Nisa dan Okta ingin pergi ke perpustakaan sebelum masuk jam pelajaran. Letak perpustakaannya pun terletak tidak jauh dari kelas Dhika.
"Ya kak, ada apa?" tanya Nisa.
"Nih makanan buat kamu," Dhika menyerahkan tempat makan itu. Nisa terkejut dengan tindakan Dhika. Nisa enggan untuk menerimanya.
"Yakk sudah." ucap Dhika setelah Nisa menerima tempat makan itu. Dhika membalikkan badan Nisa agar segera pergi ke tujuan awalnya.
"Bye Nis, Ta." Dhika melambaikan tangannya.
Mau tidak mau Nisa dan Okta melanjutkan langkahnya menuju ke perpustakaan. Ada banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan namun terpaksa mereka urungkan.
"Kamu merasa ada yang aneh nggak Ta? Kenapa tiba-tiba Kak Dhika memberiku makanan segala?" tanya Nisa masih heran.
__ADS_1
"Iya Nis. Tapi gue gak tahu. Udahlah makan saja."
"Atau lo gak mau? Sini buat gue aja." ucap Okta lagi.
Nisa menyerahkan tempat makan itu. Ia enggan untuk memakainya.
"Mayan nih, dapet makanan untuk makan siang," ucap Okta girang.
***********
Disisi lain
"Hah selesai," ucap Dhika dengan dirinya sendiri. Dia menghela napas lega, lalu kembali masuk ke dalam kelas.
"My Prince.... kenapa lo kasihin makanannya ke Cewek Sialan sih?" ucap Cecil sebal.
"Yang penting gue udah nerima. Itu berarti udah jadi milik gue. Jadi terserah gue mau gue apain. Toh udah jadi hak milik gue!" Dhika tersenyum sinis.
"Dan lagi. Dia punya nama, bukan Cewek Sialan tapi Nisa!
"Awas lo Cewek Sialan! Tunggu pembalasan gue! " batin Cecil.
Cecil dan ketiga sahabatnya pergi tanpa berkata apapun lagi. Rasa sedih, marah dan kesal bercampur menjadi satu. Dhika merasa puas, melihat Cecil pergi dari hadapannya tanpa berpikir panjang.
"Gila! Parah lo Bro." Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka Dhika bisa berbuat demikian.
"Tapi apa itu tidak terlalu kejam? Lo gak kasihan sama Cecil, Dhik?" ucap Bagas yang kasihan sama Cecil. Ivan memandang heran Bagas karena ucapannya.
"Maksud gue, apa lo gak mikirin ketenangan Nisa nanti kedepannya?" jelas Bagas.
Seakan tertampar, Dhika baru sadar dengan apa yang telah ia perbuat. Dia tidak memikirkan sampai kesana. Padahal ia sudah tahu seperti apa hubungan antara Cecil dengan Nisa. Rasa cemas menghampirinya.
Ivan menepuk pelan pundak Dhika, untuk memberikan ketenangan.
"Udah bro, santai. Itu nanti kita pikirkan bareng. Tenang, gak bakal terjadi apa-apa kok." Kata-kata yang keluar dari mulut Ivan memang belum terbukti kebenarannya, namun cukup ampuh untuk menenangkan Dhika.
"Maafin gue Nis. Gue harap lo nggak digangguin Cecil," batin Dhika.
__ADS_1