Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Bertemu yang Tertunda


__ADS_3

"Hai Bocah!" Rindang menengok kebelakang. Dia terkejut. Niatnya untuk membuka pintu IA urungkan.


"Abaaaaang!" Rindang berlari kedepan lagi dan memeluk saudara kembarannya.


Sungguh Rindang senang sekali melihat saudara kembarnya itu datang mengunjunginya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Yosse, saudara kembarnya itu. Rasa rindunya baru terobati. Memang hampir setiap mereka senggang mereka berkomunikasi via vc, namun itu hanya sedikit mengobati rasa rindu mereka satu sama lain.


Beberapa tahun ini memang mereka jarang bertemu. Sejak SMP mereka sudah tidak satu sekolah. Saat SMP Rindang menempuh pendidikannya di kota tempat tinggalnya sedangkan saudara kembarnya, Yosse memilih menempuh pendidikan di daerah tempat tinggal neneknya. Dan sekarang saat mereka SMA, Yosse disekolahkan di luar negeri sedangkan Rindang memilih di SMK Guna Bakti, tak jauh dari tempat tinggal neneknya dulu. Memang dulu karena Neneknya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu jadi Rindang memutuskan untuk ngekos saja. Namun keadaan itu tidak mengurangi kedekatan mereka.


"Bang Yoss... Rindang kangen," Saking sumringahnya Rindang sampai memeluk erat kembarannya itu.


"Hei bocah tengil, lepasin nggak. Abang engep nih," Yosse berusaha melonggarkan pelukan adik kembarnya itu yang terlalu erat itu sampai sesak.


"Hehehe maaf Bang," ucap Rindang cengengesan. Dia melepaskan pelukannya.


"Ciyee, kebukti nih siapa yang kangennya akut," Yosse tertawa penuh kemenangan melihat tingkah Rindang yang teramat rindu dengannya.


"Yee Abang.. Abang kali yang kangen denganku," Rindang memasang wajah yang cemberut. Yosse semakin tertawa melihat tingkah adek kembarnya itu.


"Hahaha iya iya Abang juga kangen sama kembaranku satu ini yang gak tinggi - tinggi," Yosse memeluk Rindang. Rindang kesal dibuatnya. Yosse tertawa lagi. Entah kenapa Yosse senang sekali membuat mood kembarannya berubah - ubah.


"Aku tuh kasihan Bang sama pasanganmu kelak," ucap Rindang menahan tawanya.


Yosse mengernyitkan dahinya, menunggu penjelasan lebih lanjut darinya.


"Nanti aja haha, ayok bang masuk dulu. Entar kujelasin di dalam. Gak enak dilihatin banyak orang. Entar abang dikira pacarku lagi" ucap Rindang membuat Yosse semakin penasaran.


Yosse melihat sekelilingnya. Memang benar ada beberapa orang yang lewat di depan tempat kosnya Rindang. Mereka yang lewat memang mengira bahwa Rindang dan Yosse adalah pacar yang sudah lama tidak berjumpa. Rindang membuka pintu yang tadi belum sempat dia buka, mengajak abangnya masuk. Yosse berjalan dibelakang Rindang.


Dari kejauhan Ibu kos melihat mereka dengan tatapan menyelidik. Dia curiga, apakah cowok itu pacarnya Rindang. Ibu kos penasaran. Dia mengamati aktivitas Rindang dan Yosse. Sampai dia melihat Rindang mengajak masuk Yosse masuk ke dalam kamar kos Rindang, ibu kos segera berlari menghampiri mereka.


Ibu kos menjewer telinga Yosse. Yosse mengaduh kesakitan.


"Aaaaakkkh" Yosse mengerang kesakitan sambil memegang tangan ibu kos. Namun ibu kos tidak peduli.

__ADS_1


"Mau kemana ha? Main masuk - masuk aja. Ini kosan putri. Laki - laki dilarang masuk," ibu kos merapatkan giginya dan berbicara dengan aura galak.


"Aaaaakkh..... Lee.. passin bu.. ampun...... saya bukan pacarnya bu," jelas Yosse.


Ibu kos itu tidak mendengarkan ucapan Yosse, sampai Rindang menjelaskan bahwa Yosse adalah kakak kembarnya, ibu kos baru melepaskan jewerannya. Ibu kos minta maaf kepada mereka. Walaupun Yosse kakak kembar Rindang tapi ibu kos tetap tidak mengijinkan Yosse masuk ke dalam kamar Rindang.


"Tidak boleh nak. Kos ini kos khusus putri. Jika ibu mengijinkan kamu masuk, yang lain pasti bakal tetap mengira kalau kamu pacarnya. Akan ribet nanti kalau saya mengijinkan kamu masuk, kecuali kalau sama orang tua kalian baru bisa. Takutnya nanti terjadi kesalahpahaman," jelas ibu kos.


"Males ibu jelasinnya," bisik ibu kos.


Yosse dan Rindang terkekeh. Mereka memahami itu. Yosse berterimakasih pada ibu kos. Untuk melepas rasa rindu dengan saudara kembarnya itu dia mengajak Rindang berbincang di luar saja sambil makan malam.


Sesampainya di sebuah warung makan, Rindang dan Yosse memesan makan malam. Mereka makan malam sambil bercerita banyak hal. Mulai dari aktivitas sehari - hari mereka sampai apa yang mereka alami. Sebenarnya Yosse penasaran kenapa Rindang memilih untuk hidup mandiri saat ini. Bahkan sampai ngekos segala. Padahal orang tuanya memiliki rumah di sekitar SMK Guna Bakti.


"Dek Abang penasaran deh, kenapa kamu nggak tinggal di rumah papa yang di sini saja? Kan di sana lebih nyaman," tanya Yosse.


"Nggak Bang, Rindang gak mau. Di sana sepi bang. Rumah Papa terlalu besar untuk Rindang tempati sendirian," jawab Rindang. Yosse juga membenarkannya. Rindang menyuapkan lagi makanan ke mulutnya.


"Dek apa jangan - jangan kamu menyembunyikan identitasmu sama temenmu juga?" tanya Yosse tiba - tiba.


Rindang Mellani, adik kembar dari Aukseliyosse Mellano. Mereka anak dari pasangan pengusaha dan pemilik salah satu Yayasan pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Tapi Rindang memilih merubah penampilannya menjadi culun karena dia tahu bahwa seseorang yang tulus berteman mau menerima apa adanya tanpa memandang siapa dan bagaimana dia. Dia ingin mempunyai teman yang tulus tanpa memandang siapa dia.


Yosse akhirnya mengerti alasan adeknya tidak mengungkap siapa sebenarnya dia. Seketika Yosse teringat kata Rindang yang mau mengenalkannya dengan sahabat Rindang.


"Dek katanya tadi mau mengenalkan Abang sama sahabat barumu. Dimana mereka?" tanya Yosse.


"Udah pulang Bang. Sudah kesorean soalnya. Lain kali lah Rindang kenalin." jawab Rindang.


Rindang tidak tahu kalau Yosse dulunya satu SMP dengan Nisa dan Okta. Begitupun juga dengan Yosse dan juga Nisa maupun Okta.


*********


Saat ini Nisa sekeluarga makan malam bersama di rumahnya. Hidangan sederhana menjadi menu tiap harinya. Namun kehangatan keluarga selalu menyelimutinya. Mereka sudah terbiasa makan sambil berbincang ringan.

__ADS_1


"Nis tadi seharian kemana saja?" tanya Bu Tin lalu menyuapkan makanan.


"Main ke rumah Okta terus disuruh nemenin Okta belanja terus main deh ke kosan Rindang," jawab Nisa.


"Emang kenapa mak?" tanya Nisa balik sambil mengunyah makanannya. "Emm enakk," gumam Nisa kemudian.


"Enggak. Mamak cuma nanya saja," jawab Bu Tin.


"Weselehhh adek Mas udah kenal main nih" goda Setyo sambil mencomot kerupuk Nisa.


"Biarin wlekk," Nisa menjulurkan lidahnya.


"Sudah - sudah. Ayok lanjutkan makannya. Ributnya dipending dulu. Takutnya nanti tersedak kalau sambil bercanda," ucap Pak Man mengingatkan.


huggh


Baru saja Pak Man mengingatkan, Nisa malah tersedak makanannya sendiri. Dia segera mengambil minum. Pak Tin geleng - geleng dengan tingkah anaknya itu. Nisa hanya cengengesan. Setelah itu mereka melanjutkan makan malam mereka dengan lebih tenang.


Selesai makan, Nisa pamit masuk kamar duluan. Dia ingin mengistirahatkan badannya setelah seharian berpergian. Tak disangka hpnya berbunyi. Ternyata itu panggilan masuk dari Okta.


"Hmm??" jawab Nisa.


"Lo lagi ngapain Nis?" tanya Okta.


"Tiduran ini. Tumben telpon Ta?" tanya Nisa. Tidak biasanya Okta menelponnya kalau hanya mau bertanya 'lagi ngapain'.


"Ohh yaya. Berarti gue gak ganggu dong hehehe."


"Et dahh ni anak," Nisa semakin heran.


"Eh Nis gue penasaran deh sama saudara kembarnya Rindang. Cakep gak ya? Secara walaupun culun tapi Rindang tetap kelihatan cantik Nis," diseberang sana Okta membayangkan seperti apa rupa saudara kembar Rindang.


"Amsyong deh ni anak otaknya cuma cogan dan cogan. Hedeuuhh Ta Ta. Mana aku tahu, emang aku cenayang?" Nisa tidak menyangka ternyata Okta menelponnya hanya untuk membahas saudara kembar Rindang. Perlu dirukiyah nih anak, pikir Nisa.

__ADS_1


"Hehehe tahu sendiri kan gue kek gimana hahahahaha."


"Udah deh Ta, besok tanya aja ke Rindangnya langsung. Aku juga gak tahu soalnya. Bye!" Nisa mematikan teleponnya. Dia ingin segera istirahat agar paginya dia fit kembali.


__ADS_2