
Nisa berdiri terpaku sembari menengadah, menatap benda menjulang berkelok. Ia menelan salivanya. Rasanya seperti ada biji salak yang nyangkut di tenggoroknnya.
"Beneran Ta, Rin?" tanyanya yang ragu dengan dirinya sendiri.
Okta mengangguk mantap. "Oh iya jelas. Yakin."
"Sangat yakin malah," imbuh Rindang.
Nisa mengernyitkan dahinya, bibirnya menekuk sempurna. "Kalian aja ya. Aku tunggu di sini saja."
Nisa tidak yakin. Sungguh, ia tidak bisa jika harus ikut dengan mereka kali ini. Tinggi rollercoaster yang menjulang, jeritan penumpang yang memekakan telinga, membuatnya takut dan enggan. Belum lagi ia tidak ingin kepalanya pusing bahkan mungkin lebih parahnya muntah. Uuuhh ... Tidam ingin pokoknya.
"Apaan dah. Ikut Nis sekali kali. Setiap kali kita ke sini, lo tu belum pernah sekalipun mau. Ayolah sesekali, Nis," bujuk Okta. Ia merengek dengan mata puppy eyesnya. Matanya berbinar–binar, sangat berharap.
"He'em, Nis. Kita ukir kenangan ya di sini. Nanti kalau tau tau aku balik lagi ke Jerman, gimana dong? Apa yang bisa aku ingat di sana. Sedih sekali." Rindang memasang wajah semelaa mungkin. Tak bisa dipungkiri. Ia juga ingin menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menyenangkan bersama dengan sahabat–sahabatnya itu. Momen itu sangatlah langka. Kesempatan itu bisa saja tidak akan datang untuk kedua kali.
"Tapi..."
"Nis... " panggil Okta dan Rindang bersamaan.
Nisa menatap ke dua sahabatnya itu enggan. Ia menghela napas panjang. "Sampai aku mabok, kalian tanggung jawab ya!" ujar Nisa sedikit ketus. Terpaksa, namun juga ia tidak kuat dengan rengekan kedua sahabatnya yang sudah seperti anak kecil.
"Yeyyy!!!" Rindang dan Okta mengangkat tangannya. Mereka tos dengan sebelah tangan mereka, lantas memeluk ria sahabat mereka itu.
"Makasih Nis!!" ujar Rindang.
Nisa menghela napas lagi. Ia berharap tidak akan terjadi apa–apa. Ia berusaha meyakinkan dirinya dengan afirmasi positif yang ia ucapkan berulang kali di dalam hatinya.
__ADS_1
Okta langsung berlari mencari tiket, sebelum ia kehabisan tiket di kloter itu.
Tak berapa lama, Okta telah membawa 3 tiket di tangannya yang ia tunjukkan pada kedua sahabatnya dengan wajah berseri.
"Ayo segera antre." Okta menggeret Nisa dan Rindang.
Mereka diberi alat pengaman oleh penjaganya. Seusai itu mereka memilih tempat duduk yang kosong untuk bertiga. Okta dan Rindang sudah duduk di kursi penumpang. Namun Nisa masih setia berdiri ragu untuk menginjakkan kakinya di badan permainan itu.
"Aku turun ya," ujar Nisa ingin mengurungkan niatnya.
"Nisaa... ayolah Nis. Coba ya sekali," bujuk Okta.
Nisa menunjukkan keraguan dari raut wajah yang ia tunjukkan. Sedangkan Okta dan Rindang menatap penuh harap.
Nisa menghela napas sekali lagi. Khusus malam ini ia semakin banyak menghela napas.
Mereka mengenakan sabuk pengaman. Wajah Nisa terlihat sangat amat tegang. Ia memegang erat pegangan yang ada di depan kursi yang ia duduki.
Semua kursi telah penuh. Perlahan mesin itu mulai menyala, menggerakkan badan permainan. Perlahan, perlahan, dan kemudian mulai cepat. Semua berteriak saat medan menanjak dan turun tiba-tiba dengan laju yang sangat cepat. Nisa tak berteriak, namun ia memejamkan matanya ketakutan. Pegangannya semakin erat.
Beberapa detik ia memejamkan mata, ia penasaran dengan medan yang dilalui. Ia mengintip di balik matanya yang masih menutup.
Dunia seperti bergoncang. Pusing mulai melandanya. Menyesal ia mengintip walau hanya sekejab. Perutnya seperti diaduk-aduk. Ia ingin turun. Ia ingin permainan itu segera berakhir.
Perlahan, mulai memelan dan berhenti. Nisa segera turun dan berlari sempoyongan, mencari tempat yang cukup sepi.
"Hoeeek!"
__ADS_1
Nisa memuntahkan seluruh isinya. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya, bahkan mengalir di pelipisnya.
"Nis..."
Okta dan Rindang yang juga berlari mengikuti Nisa pun kini telah berada di samping Nisa. Mereka khawatir dengan kondisi Nisa saat ini. Rindang memijat tengkuk dan punggung Nisa untuk mempermudah Nisa mengeluarkan isi perut yang membuat perut Nisa seperti diaduk-aduk. Sedangkan Okta berlari mencari air putih dan minuman hangat.
Setelah selesai, Rindang membantu Nisa berbaring di kursi panjang yang ada di dekat situ.
Okta berlari cepat ke arah Nisa. Bahkan ia sampai mengambil antrean orang lain demi bisa mendapat minuman lebih cepat.
"Ini minumnya!" ujarnya tergopoh-gopoh.
Nisa menyeruput minuman itu, lantas berbaring lagi. "Aku mau tidur bentar."
"Eh eh, Nis. Jangan tidur di sini!" larang Okta.
Sudah terlanjur. Nisa sudah tak sadarkan diri. Itu artinya Nisa pingsan.
"Eh eh... Gimana ini Ta?" ujar Rindang panik.
"Gue juga ga tau Rin..."
Mereka sama sama panik. Mau bawa Nisa pulang pun, tak ada dari mereka yang kuat mengangkat. Seketika itu juga mereka berdua menyesal mengajak Nisa naik permainan itu.
"KALIAN APAKAN NISA?!!"
Mendengar teriakan itu, Okta dan Rindang berbalik. Mereka menelan saliva. Ia melihat sesosok pria menghampiri mereka dengan wajah marah. Okta dan Rindang hanya bisa pasrah dengan nasib mereka setelah itu.
__ADS_1