
Sesampainya di pusat perbelanjaan Nisa, Okta, dan Rindang berkeliling. Mereka melihat barang - barang yang di jual di sana.
"Eh Ta, mau beli apa sih kamu?" tanya Rindang karena Okta mengajak Rindang untuk menemaninya shopping.
"Hehe bingung juga," Okta memperlihatkan deretan giginya.
"Oh ya kamu gak mudik Rin?" tanya Nisa.
"Enggak Nis, aku pulangnya 2 minggu sekali saja, atau juga bisa pulang kalau ada hal mendesak," ucap Rindang.
"Kalau kamu mau beli apa Nis?" tanya Rindang.
"Aku cuma mau nemenin Okta Rin. Mana ada uang aku untuk belanja di tempat kek gini? Lebih baik beli di pasar aja dapet banyak" ucap Nisa lalu tertawa.
"Dari pada nganggur di rumah mending ikut ke sini. Iyakan?" imbuh Nisa. Okta mengangguk mengiyakan.
Rindang hanya mengangguk - anggukan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau hidup Nisa sesederhana itu. Ia juga kagum, masih ada anak muda yang tidak gengsi menyebut kata pasar sebagai tempatnya untuk berbelanja kebutuhannya.
Mereka berkeliling tempat itu sampai perut mereka minta diisi. Mereka mampir makan di restoran jepang yang masih berada di pusat perbelanjaan.
Dari arah lain Cecil, Rere, Jeje, dan Lala ada disebuah butik terkenal yang ada di pusat perbelanjaan itu. Dari jauh mereka melihat Nisa dan lainnya juga ada di salah satu restoran jepang tak jauh dari butik itu. Rere, Jeje, dan Lala berjalan menghampiri mereka namun Cecil menghentikan mereka.
"Nggak usah disamperin. Hari ini gue mau berbaik hati sama mereka. Biarin saja mereka. Lagi pula gue pengin shopping sepuasnya," ucap Cecil. Mereka menuruti kata - kata Cecil lalu melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.
Sedangkan tidak sengaja Rindang melihat keberadaan Cecil dan yang lainnya berada di butik tidak jauh dari restoran tempat mereka makan siang. Rindang mengajak Nisa dan Okta untuk segera keluar dari sana tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
"****** nih, disebrang sana ada gerombolannya Cecil. Mana mereka nglihatin ke sini lagi," batin Rindang.
"Nis, Ta ayok pulang. Aku tadi masak air tapi aku lupa kompornya udah aku matiin atau belum," ajak Rindang dengan alibi yang cukup masuk akal.
"Hehhh??? Beneran Rin? Kok lo ceroboh banget sih?" ucap Okta kaget bercampur rasa khawatir dengan nasib tempat kos Rindang.
"Namanya juga lupa Ta. Lupa ya gak ingat," jawab Rindang merasa bersalah.
"Ehh tapi kan di sana ada anak kos lain kan?" ucap Nisa.
"Iya sih Nis, tapi sebagian besar mereka mudik Nis. Kalau disana gak ada orang gimana?" ucap Rindang meyakinkan.
"Iya juga sih. Yaudah ayok pulang. Lagian makannya juga sudah selesai," ucap Nisa.
"Nih Ta uangnya, sekalian kamu aja yang membayarkan ke kasir," Nisa memberikan sejumlah uang kepada Okta. Begitu juga dengan Rindang. Namun Okta menolaknya.
__ADS_1
"Jangan Nis. Hari ini aku yang traktir kalian yahh," Okta ingin mentraktir mereka makan karena tidak ada barang menarik yang dia beli.
"Syukurlah mereka percaya," Rindang lega mereka percaya dengannya.
Okta segera membayar makanan mereka. Mereka segera keluar dari pusat perbelanjaan. Nisa dan Okta memilih ikut Rindang ke tempat kos Rindang karena hari itu masih siang. Mereka ingin menghabiskan waktu mereka bertiga. Selain itu mereka penasaran dengan tempat kos Rindang.
Dalam waktu beberapa menit, mereka telah sampai di tempat kosnya Rindang. Ternyata tempat kos Rindang tidak jauh dari rumah Nisa dan Okta.
Mereka segera berlari ke dapur kosan untuk melihat kompornya sudah dimatikan atau belum. Mereka menghela napas lega. Nisa dan Okta menghela napas lega karena kompornya sudah dimatikan sedangkan Rindang lega karena untungnya masih ada pemasak air yang masih belum dia pindah dari kompor.
"Whoaaaa untung udah kamu matiin Rin. Kalau belum bahaya banget tuh," ucap Nisa.
"Hoo bener tuh, lain kali ingat Rin udah dimatiin ato belumnya. Jadinya kita nggak perlu buru - buru kayak gini," ucap Okta yang kesal namun juga peduli dengan Rindang.
"Hehe siap mak," Rindang menyengir.
"Ayok Nis Ta, masuk dulu ke kamar kos ku," Rindang mengajak Nisa dan Okta mampir dulu ke kamar kosnya.
Ruangan berukuran 4m x 4m terlihat bersih dan rapi. Nisa berdecak kagum dengan kebersihan dan kerapian Rindang
"Whoaa bersih banget kamarmu Rin, rapi lagi," celetuk Nisa. Dia merasa nyaman saat pertama kali memasuki kamar kos Rindang.
"Untung lo gak punya temen kos kayak gue Rin," ucap Okta tertawa kemudian disusul Nisa. Rindang hanya mengulas senyum.
Di sana mereka melanjutkan kegiatan mereka dengan bercerita ria, ngalor ngidul (kesana - kemari) sampai - sampai Rindang lupa mengecek hpnya. Rindang melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari seseorang. Rindang meminta ijin untuk menelpon balik.
"Halo... "ucap Rindang setelah panggilan tersambung. Rindang agak menjauh dari kedua sahabatnya.
"Siapa Rin? Penting ya?" tanya Okta.
"Bukan siapa - siapa kok. Dia cuma kembaranku," ucap Rindang.
"Wahh ternyata kamu punya kembaran? Cowok apa cewek?" Okta mendapat sikutan dari Nisa. Okta mengaduh kesakitan.
"Haha gak apa kalik. Dia cowok. Katanya dia mau ke sini sebentar lagi," ucap Rindang.
"Wahh kenalin dong Rin," pinta Okta yang mendapat lirikan tajam Nisa.
"Boleh kok santai, nanti aku kenalin," ucap Rindang.
************
__ADS_1
Tutt tutt tuuttt
Dia kesal, kembarannya tak kunjung mengangkat telpon darinya yang sudah kesekian kali.
"Haiss kembaran satu ini, kebiasaan ditelpon nggak diagkat - angkat," geruntu cowok itu.
Dia ingin bertemu dengan kembarannya sebelum dia berangkat lagi ke luar negeri esok paginya. Namun ternyata kembarannya tidak pulang ke rumah. Maka dari itu dia ingin mampir ke tempat kosan kembarannya itu.
Sambil menunggu telepon balik dari kembarannya, dia memilih untuk berkeliling di daerah sekitar tempat tujuannya dengan berjalan kaki. Dari pada dia menunggu kembarannya di tempat kos karena kembarannya pergi.
Drett drett
Ternyata itu panggilan masuk dari kembarannya.
"Halo dek.. " cowok itu mengangkat panggilan dari kembarannya, Rindang. Setelah selesai dia memasukkan hpnya ke dalam sakunya lalu dia berjalan menuju tempat kos kembarannya yang tidak jauh dari sana.
"TOLONG TOLONG!!" terdengar teriakan seorang ibu paruh baya saat dia berjalan menuju tempat kos kembarannya. Ibu itu kecopetan.
Cowok itu berlari dengan cepat mengejar copet itu. Perkelahian terjadi di antara mereka. Cowok itu berhasil merebut kembali dompet ibu itu dan menyerahkan dompet itu kepada sang pemilik.
Ternyata ibu itu adalah Bu Tin, mamaknya Nisa. Bu Tin sangat bersyukur dompet dan isinya tidak jadi hilang. Bukan masalah uang karena memang uangnya tidak seberapa tapi KTP dan yang lannya ada di dalam dompet itu.
"Makasih ya nak," ucap Bu Tin. Cowok itu menganggukan kepalanya. Bu Tin mengajaknya untuk mampir ke rumah namun dia menolaknya.
"Tidak usah bu, lain kali aja. Saya masih ada urusan yang ingin saya selesaikan," ucap cowok itu sambil berlalu pergi menuju tempat kosan kembarannya.
***********
Pukul 16.02, terpampang nyata di layar hp Okta. Nisa dan Okta memutuskan untuk pulang karena sudah sore.
"Rin gue sama Nisa balik dulu ya, udah sore nih," pamit Okta.
"Ehh kok udah mau balik? Katanya mau tahu siapa kembaran aku," ucap Rindang.
"Lain kali aja Rin kenalannya. Keburu kesorean ntar kita Rin," ucap Nisa. Nisa takut orang tuanya mencemaskannya karena sudah pergi seharian.
"Okelah kalau begitu. Hati - hati di jalan," ucap Rindang.
Mereka beranjak keluar tempat kosan. Rindang mengantar Nisa dan Okta sampai depan tempat kosannya. Di seberang jalan sudah ada sopir Okta. Sebelumnya Okta sudah menelpon sopirnya untuk menjemput Okta dan Nisa. Rindang melambaikan tangannya ke arah mereka.
Setelah mobil Okta tidak terlihat Rindang segera masuk ke dalam. Saat dia ingin membuka pintu, dia mendengar seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
"Hei bocah!" Rindang menoleh kebelakang. Dia terkejut.