Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Terbuat Dari Apa?


__ADS_3

"Eh Ta, kamu punya nomor whats**p Nisa nggak?" tanya Dhika ketika berpapasan dengan Okta yang berjalan sendirian. Sudah cukup lama ia mengenal Nisa tapi dia tidak memiliki nomornya.


Okta berhenti, "Enggak Kak. Emang ada apa kak?"


"Gue ada perlu sama Nisa Ta. Tapi gue gak bisa menghubungi dia. Kalau cari dia di sekolah kadang sulit, gak mesti ketemu."


"Emm gini kak. Nisa gak punya nomor WA. Dia hanya punya nomor telpon biasa."


"Loh kenapa gak punya?" Dhika heran karena jaman sekarang masih ada anak muda yang tidak punya nomor WA, padahal itu sudah menjadi trend masa kini.


"Gue tahu keheranan kakak. Tapi ya memang dia gak punya kak. Hpnya saja hanya handphone jadul yang masih cetak cetok gak ada kameranya," jelas Okta.


Dhika masih diam seribu bahasa. Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. Namun dia tidak tahu apa lagi yang harus diucapkan.


"Kalau ada informasi yang berhubungan dengan sekolah, gue nanti yang akan mengabari Niaa. Jika ada tugas yang mengharuskan kita melakukan pencarian di internet, Nisa akan pergi ke rumahku. Sebenarnya dia bisa saja minta ke Paklik Man, tapi dia tidak mau merepotkan bapaknya. Ketika dia mau dibelikan oleh masnya dia juga masih menolak Kak. Dia bilang belum perlu," jelas Okta panjang lebar seakan mengerti apa isi pikiran Dhika.


Dhika mengangguk mengerti. Dia meminta nomor Okta kemudian menyuruhnya untuk mengirim nomor hp Nisa.


**********


Beberapa bulan telah berlalu. Hari ini telah selesai Ujian Akhir Semester. Nisa menyelesaikan 1 semester ini dengan lancar. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri selama ini ada gangguan-gangguan kecil dari rivalnya, Cecil, seperti merebut paksa buku yang dia pinjam di perpus, mencoret-coret rok seragam yang ada di lokernya, menukar buku tugasnya dengan buku kosong, dan hal- hal lainnya.


Okta sangat geram dibuatnya. Namun Nisa menyikapi perbuatan Cecil dengan hati lapang. Saat ini mereka duduk di bangku taman sambil menunggu instruksi dari pihak sekolah untuk berkumpul di lapangan upacara.

__ADS_1


"Waaaa gue lega Nis, akhirnya sebentar lagi libur panjang," ucap Okta.


"Yakk betul, akhirnya sebentar lagi aku pulang," ucap Rindang.


"Eleh-eleh jangan senang dulu. Kalian yakin tidak ada pelajaran yang mengulang?" ledek Nisa.


"Ya...ya harus yakinlah," ucap Okta sedikit ragu, Nisa terkekeh. Rindang menggaruk tangannya yang tidak gatal sambil menunjukkan deretan giginya.


"Yang penting kan semua lancar Nis," ucap Rindang


"Yakk betul tuh," Nisa hanya tertawa. "Tapi gue sebel sama lo!" ketus Okta.


"Lah kenapa malah sebel sama aku?" Nisa memicingkan matanya heran.


"Lah habis lo diem aja waktu diganggu lalat-lalat. Gue yang geram Nis! Gue mau balas aja, lo larang. Greget tahu nggak?!" gerutu Okta saat mengingat perlakuan Cecil dan para sahabatnya.


"Haiss sudahlah, biarin aja. Entar juga kalau capek, berhenti sendiri," ucap Nisa dengan santainya.


"Haihhh mana bisa Nis?! Kayaknya dunia kiamat pun tetep seperti itu,"


"Huss ucapannya dijaga Ta. Ada waktunya seseorang itu berubah Ta," ucap Nisa.


"Haiihh gue gak tahu lagi jalan pikirmu Nis. Dan gue juga gak tahu, lo tuh terbuat dari apa Nis. Kalau gue yang digituin udah kubalas mereka dari dulu,"

__ADS_1


"Ya gak tahulah, yang buat aja bukan aku," timpal Nisa.


"Kalau kamu mau balas dendam, kamu sendiri saja ya. Aku gak ikut ya Ta. Aku udah pernah ngrasain gimana mereka bully aku," Rindang menunjukkan deretan giginya yang rapi. Okta berdecih malas.


"Ahh cemen lo Rin, takut sama modelan kayak mereka!" ejek Okta.


"Bukan takut Ta tapi kalau hanya berdua aku gak mau. Mereka berempat kita berdua. Kalah telak kita. Kalau tambah Nisa, aku masih mau," ucap Rindang. Memang ada benarnya kalau mereka menghadapi Cecil dan yang lainnya secara fisik, mereka bakalan kalah


"Elehh gak setia kawan amat lo sama gue!"


Nisa hanya tersenyum. Dia bahagia punya sahabat setia seperti Okta dan Rindang.


"Kenapa lo gak bilang aja sama Kak Dhika Nis kalau sering digangguin Lalat?" Okta menyebut Cecil dan sahabatnya dengan sebutan lalat. Okta menoleh ke arah Nisa.


"Huss mereka punya nama Ta. Jangan sebut mereka begitu. Emang kamu udah buatin mereka bubur merah?" ucap Nisa sambil mengibaskan tangannya. Dalam adat jawa, salah satu arti penyajian bubur merah adalah untuk selamatan orang yang berganti nama.


"Untuk orang seperti mereka mah gak perlu. Yang ada kalau dibuatin kayak gituan dunia penuh dengan lalat-lalat pengganggu."


Nisa memukul ringan lengan Okta. Okta mengaduh.


"Kalau aku ngadu, yang ada Cecil semakin menjadi Ta, Rin. Dan aku gak mau ada kesalahpahaman. Kan disini aku memang gak pernah suka sama Kak Dhika," jelas Nisa sambil melihat Okta dan Rindang bergantian.


"Iya juga sih memang. Btw kalian mau kenalan nggak sama saudara kembarku? Kemungkinan minggu depan dia pulang dari luar negeri." ucap Rindang. Okta tersenyum senang, matanya berbinar-binar.

__ADS_1


"Jangan dulu dikenalin ke kita Rin. Takutnya sohibku yang cantik ini oleng." Nisa merangkul pundak Okta dengan tertawa. Ridang juga tertawa.


"Emang gue motor yang bocor bannya?" ucap Okta tidak terima. Mereka tertawa bersama.


__ADS_2