
"Emmmmm"
Tidak hanya mata yang tertutup. Namun mulut Nisa juga dibungkam.
Ternyata eh ternyata yang membawa Nisa tidak hanya satu orang, namun dua orang. Yang satu mengunci tubuh Nisa dan membungkam mulutnya, yg satu menutup mata Nisa.
Mereka berdua tak lain adalah Mbak Depe dan Babang Young Flash. Mereka berusaha keras untuk menyeret Nisa ke halaman belakang. Mereka berdua ditugaskan untuk melancarkan rencananya agar Nisa tidak curiga. Itu bagian dari rencana tambahan.
"Haihh kuat amat nih bocah, Depe aja masih kalah kuat ini." geruntu Babang Young Flash yang kesulitan membawa Nisa. Tenaga Nisa untuk memberontak terbilang cukup besar hingga membuat mereka kualahan.
Babang Young Flash berhenti sebentar. Mbak Depe bertanya dengan bahasa isyaratnya.
"Kenapa berhenti?"
"Apa aku gendong aja ya?" tanya Babang Young Flash tak bersuara dengan mulut komat-kamit.
Mbak Depe hanya mengangkat tangannya dan menggerakkan tangan melintas ke leher. Ia tersenyum mengerikan dengan tatapan membunuh.
"Sampai gendong ni bocah, tamat riwayatmu."
Mbak Depe tidak rela kalau calon suami yang telah melamarnya itu menggendong orang lain. Yah walaupun caranya melamar tidak ada elit-elitnya sama sekali. Tapi kalau cinta ya mau gimana lagi??
Babang Young Flash merasa ngeri ditatap seperti itu. Ia hanya menunjukkan deretan gigi putih rapinya.
Setelah beberapa waktu mereka kesusahan membawa Nisa, sampailah mereka di halaman belakang. Semua orang sudah bersiap disana.
Okta memberikan isyarat perintah untuk menunggu sebentar saja agar jangan melepas Nisa terlebih dahulu.
Okta menyalakan lilin di kue yang dibawa oleh Setyo. Setelah selesai, Mbak Depe dan Babang Young Flash melepas Nisa.
Happy birthday to you
__ADS_1
Happy birthday to you
Happy birthday Happy birthday
Happy birthday to you
🎶
Mereka bernyanyi serentak. Nisa melihat semua orang terdekatnya ada disana, mulai dari Bapak dan Mamaknya, Masnya, Okta, Kak Dhika, Kak Bagas, Kak Ivan, Tante Santi, Om Stevan, bahkan ada 2 orang yang tak dikenal juga ada. Bapak dan Mamak Nisa baru diberi tahu satu jam sebelum acara ini berlangsung. Sedangkan Mbak Depe dan Babang Young Flash kebetulan datang untuk berkunjung ke rumah keluarga teman lamanya yang sudah dianggap kakak olehnya, Tante Santi.
Butiran bening lolos dari tempatnya. Tanpa disadari, Nisa menangis haru melihat mereka semua berkumpul memberikan kejutan di hari ulang tahunnya.
Ia terharu mereka semua mengingat tanggal lahirnya yang bahkan ia saja lupa kalau hari ini hari ulang tahunnya. Seumur-umur baru kali ini Nisa mendapat kejutan yang membuatnya sangat terkejut.
"Kalian semua jahat," ucap Nisa menangis sambil tersenyum bahagia.
"Udah deh Nis, bilang jahatnya entaran saja. Keburu leleh semua nih lilinnya." Okta menyuruhnya untuk meniup lilin yang menyala itu. Sebelum meniup lilin Nisa mengucapkan segala doa dan permohonan untuk kebahagiaan orang tua, kakak, sahabat-sahabatnya dan juga untuk kebahagiaan dirinya sendiri.
Nisa berlari memeluk kedua orang tuanya.
"Hai udah jangan nangis. Ini hari bahagiamu. Berbahagialah Nak. Selamat ulang tahun, Tuhan memberkatimu selalu." ucap Bu Tin sambil menyeka air mata Nisa. Nisa mengangguk lalu tersenyum.
"Benar Nis. Kami juga ikhlas. Sebagai orang tua sudah kewajibannya mempertaruhkan semuanya untuk anaknya. Berbahagialah, Selamat ulang tahun Nak." Pak Man memeluk Nisa.
"Maaf, Bapak sama Mamak belum bisa memberikan fasilitas yang baik untukmu Nak," lanjut Pak Man penuh sesal.
Nisa menggeleng, "Kasih sayang kalian udah lebih dari cukup Pak, Mak," ucap Nisa tulus.
Mereka semua memberikan ruang untuk Nisa dan keluarganya. Mereka ikut terharu melihat keharmonisan keluarga Nisa. Kasih sayang mereka satu sama lain dapat dirasakan oleh orang yang melihatnya.
"Haihh jadi pengin dipeluk," ucap Mbak Depe tiba-tiba.
__ADS_1
"Sini aku peluk," tawar Babang Young Flash yang sudah merentangkan kedua tangannya. Mbak Depe sudah mau menyambut hangat pelukan Babang Young Flash.
"Eh eh eh kok mundur," keluh Babang Young Flash.
Tak disangka kerah belakang baju Babang Young Flash ditarik mundur oleh Om Stevan. Ternyata ucapan mereka berdua terdengar oleh telinga Om Stevan.
"Yang lagi kasmaran mau nikah jangan mengumbar kemesraan disini. Banyak anak dibawah umur tuh ckckck," tegur Om Stevan.
"Ya siapa tahu kan mereka langsung pengin nikah juga," ucap Mbak Depe sekenanya hingga tabokan maut dari Tante Santi mendarat di tangannya.
Mbak Depe meringis kesakitan. Babang Young Flash langsung mengelus tangan Mbak Depe yang terkena tabokan maut itu.
"Mau tambah lagi ya?" ucap Tante Santi gemas. Aura tabokan maut terlihat di mukanya. Mereka berdua langsung menunjukkan senyuman permohonan maaf. Gelak tawa terdengar disana.
***
Hai kakak- kakak semua, terimakasih telah bersedia membaca karyaku yang masih amburadul ini.
Lopeyu all 😘😘
Tanpa kalian karyaku hanya menjadi sebuah onggokan. 🌻
//
Yang ingin tahu lebih lanjut kisah Mbak Depe sama Babang Young Flash, ada di novel kakak onlineku yang ini.
Dan kisah seru seorang Rosa dengan kisah cintanya, ada di novel kakak onlineku yang ini juga
__ADS_1
Siapa tahu, dimasa depan aku ketularan mereka hahahaiiðŸ¤
happy reading semuaa 🤗🤗