
Semua sahabat Nisa mengamati Nisa yang berjalan mondar-mandir, seperti seterika yang menyeterika baju kusut.
"Nis, bisa duduk nggak sih lo? Pusing gue lihat lo mondar-mandir mulu. Hedeuhh." Begitu kata Okta sambil menepuk dahinya.
Nisa tidak menghiraukan perkataan Okta. Nisa masih melakukan aktivitasnya dengan muka cemas dan gugup yang bercampur menjadi satu.
"Nis, lo mau berhenti belum? Kalau belum gue ambilkan baju gue dulu deh di rumah. Lumayan kan, pekerjaan Bi Ijah berkurang," kata Ivan sekenanya. Bi Ijah adalah pembantu rumah tangga keluarga Ivan.
Alih-alih menjawab perkataan Ivan, Nisa memutuskan untuk duduk di bangku kosong di dekat Okta. Pandangannya masih sama, pandangan cemas. Sekarang bukan lagi seperti seterika yang terlihat, namun suara musik tak beraturan terdengar. Suara itu dihasilkan dari ketukan-ketukan ringan tangan Nisa di meja taman.
Semuanya menepuk dahinya berjamaah. Dhika menggeleng pelan sambil tersenyum melihat tingkah Nisa yang unik saat gugup menyerangnya.
"Ngomong-omong kalian udah ambil undian nomor urutnya?" tanya Bagas tiba-tiba, memecah ketenangan yang hanya diisi dengan suara ketukan Nisa.
"Udah tadi, gue yang ambil," jawab Dhika.
"Dapat urutan ke berapa kak?" tanya Rindang.
"Urutan terakhir,"
"Haha kasihan amat lo Nis. Gugup lo bertahan lebih lama," ledek Ivan. Seketika timbukan bolpoint melayang mengenai kepalanya.
"Aduh! Parah lo Ta! Kepala berharga gue setara dengan nyawa lo ini!" geruntu Ivan sambil mengelus kepalanya yang tertimbuk bolpoint.
Okta mengeluarkan jurus andalannya, yaitu menjulurkan lidahnya.
"Awas, kalau kalian kebanyakan berdebat, hati-hati nanti berujung jadi jodoh di masa depan loh," seloroh Nisa. Akhirnya kegugupannya sedikit ternetralisir oleh candaan Ivan dan Okta.
"Yang jaga stand bazar sekarang siapa? Kok kalian ada disini semua?" tanya Nisa.
"Udah gak usah ngurusin tentang bazar. Bazarnya udah ada yang ngurusin kok, banyak malah. Kan tiga kelas jadi satu," kata Bagas.
"Yaudah deh, gue mau ngecek bazarnya. Semoga beruntung untuk kalian berdua."
"Gas, gue ikut lo aja." Ivan menyusul Bagas yang berjalan lebih dulu.
"Gue juga ikut Kak,"
"Aku juga."
Okta dan Rindang berlalu mengikuti Bagas dan Ivan.
"Semoga berhasil kawan," ucap Okta dan Rindang bersamaan memberikan semangat untuk Dhika. Dhika dan Nisa hanya tersenyum menanggapi Okta dan Rindang.
"Ayok Nis kita ke ruang tunggu. Udah waktunya kita kesana," ajak Dhika kemudian berdiri.
Nisa mengangguk. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke ruang tunggu yang berada di belakang panggung.
Di panggung itu disediakan berberapa macam alat musik seperti gitar akustik, gitar elektrik, gitar bas, organ, kadjon, dan juga drum. Masing-masing peserta dibebaskan memilih akan menggunakan iringan apa. Bisa live music bisa juga dengan model karaoke.
Kedua siswa-siswi yang bertugas sebagai MC pun telah membuka acara di hari ini. Mereka adalah Dimas dan Ratna. Kali ini lomba nyanyi duet dilangsungkan bersamaan dengan bazar. Urutan nomor pertama telah disebutkan. Peserta lomba berjalan menaiki panggung.
Terlihat dua siswi cantik berdiri di atas panggung. Mereka menyapa sebentar semua orang yang menyaksikan lomba itu untuk menunggu siswi yang satu mengingat chord yang akan ia gunakan untuk bermain organ.
Suara dentingan dawai organ terdengar, diikuti suara merdu siswi cantik itu. Lagu mengalun indah. Semua terbuai dengan suara mereka.
Nisa terpesona dengan suara mereka. Namun semakin lama ia terpesona semakin besar pula kecemasan dan kegugupannya. Terlihat jelas di telapak tangannya yang memutih dan berair. Dhika menangkap kegugupan Nisa memberikan sentuhan ringan di pundaknya.
Nisa menoleh ke arah Dhika dengan raut muka dan pandangan yang masih sama. Dhika tersenyum.
"Tenanglah Nis. Yakinlah bahwa lo bisa, kita bisa," ucap Dhika menenangkan. Dhika meraih tangan Nisa dan menggenggamnya untuk mengatakan bahwa Dhika ada bersamanya dan semuanya akan berjalan sebagaimana semestinya.
"Oke tepuk tangan buat kedua kakak cantik sebagai peserta urutan pertama ini!" ucap kedua MC yang memandu acara ini. Tepuk tangan yang meriah terdengar di segala penjuru.
"Gimana penampilan mereka? Atau malah ada yang mau meminta nomor mereka?" ucap Dimas.
"Haih Kakak mah kalau lihat yang bening-bening langsung gas pol minta nomor segala dengan modus para pemirsa disini.... eyaakkk," ucap Ratna.
Gelak tawa terdengar di area sana. Setelah urutan pertama selesai, urutan yang kedua dan seterusnya dipanggil untuk menyanyi di atas panggung. Semakin dekat dengan gilirannya untuk naik ke panggung, kegugupan Nisa semakin menjadi. Dhika memberikan air minum untuk Nisa agar Nisa lebih tenang.
Dhika menyuruh Nisa untuk mengambil napas kemudian mengeluarkannya dengan perlahan sampai beberapa kali. Cara itu cukup efektif untuk mengurangi kegugupan Nisa.
"Okay semua, sekarang tiba saatnya memanggil undian terakhir."
__ADS_1
"Wah wah, kayaknya nih Kak yang terakhir ini bakalan menjadi suatu hal yang mengejutkan deh Kak, terutama bagi kaum hawa sepertiku Kak."
"Betul ini betul. Untuk kalian semua yang ada disini jaga hatinya agar tidak meleleh ya," goda Dimas.
"Oke langsung saja. Kita panggilkan nomor undian terakhir. Urutan terakhir segeralah naik ke atas panggung," ucap mereka.
Suara riuh terdengar, suara histeris mereka memenuhi tempat itu. Siapa lagi kalau bukan ulah Dhika yang menaiki panggung bersama dengan Nisa.
Pakaian yang mereka kenakan terlihat sangat serasi. Wajah cantik bersanding dengan wajah tampan, membuat siapapun iri melihat pasangan duet kali ini.
Begitupun juga dengan seseorang yang memandang mereka dengan tatapan penuh amarah. Kecemburuan tergambar jelas diwajahnya. Hatinya panas melihat mereka berdua bersama di panggung yang sama.
Nisa langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Semaksimal mungkin ia akan melawan rasa gugup yang kembali menyerangnya untuk menampilkan yang terbaik. Nisa mengambil napas dalam-dalam untuk menetralisir kegugupannya sambil menunggu Dhika bersiap memainkan gitar akustik.
Dhika memberi kode pada Nisa untuk bersiap. Suara petikan gitar mulai terdengar. Mereka membawakan lagu berjudul "Percayalah" yang dipopulerkan oleh Afgan dan Raisa disambung dengan lagu yang berjudul "Dengan Caraku" yang dipolulerkan oleh Arsey dan Brisia Jodie dengan cara medley.
Aku yang tak akan melepaskan
Kamu yang mengenggam hatiku
Kita tak kan mungkin terpisahkan
Biarlah terjadi apapun yang terjadi
🎶
Dengan penuh penghayatan Dhika mulai menyanyi sambil memetik gitarnya. Suara indah nan merdu ditambah wajahnya yang rupawan seakan-akan menghipnotis semua penonton. Ia menyampaikan semua rasa lewat lagu yang ia nyanyikan.
Aku yang tak bisa melepaskan
Kamu yang miliki hatiku
Walau mungkin terlalu cepat
Bagi kita berdua
🎶
Nisa bergantian menyanyikan lagu bait kedua ini. Suaranya yang lembut nan merdu sangat selaras dengan suara Dhika yang merdu, membuat mereka yang mendengar semakin hanyut.
Selamanya kita akan bersama
Melewati segalanya
Yang dapat pisahkan kita berdua
Selamanya kita akan bersama
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
🎶
Dhika dan Nisa menyanyikan reffren lagu itu bersamaan. Mereka bernyanyi sambil berhadapan satu sama lain, menciptakan suatu kemistri yang membuat penonton iri. Para pendengar ikut meleleh, terbawa perasaan dengan lagu yang Nisa dan Dhika bawakan.
Setelah reffren Percayalah selesai dinyanyikan, lagu langsung disambung ke reffren Dengan Caraku yang dinyanyikan oleh Nisa dan Dhika secara bergantian.
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
__ADS_1
🎶
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
🎶
Mereka membawakan lagunya dengan porsi penghayatan yang pas, hingga semua yang mendengar hatinya ikut sakit tak berdarah, teriris pisau tak berbentuk.
Aku tak suka bila hoo
Kau selalu dekat dengannya oh-hoo
🎶
Semuanya turut merasakan rasa cemburu yang Dhika torehkan saat menyanyikan part lagu ini.
Jangan engkau cemburu
Dia hanya sahabat di kelasku
🎶
Lalu lagu yang mereka berdua bawakan beralih lagi ke lagu Percayalah. Mereka menyanyikannya secara bersamaan.
Selamanya kita akan bersama
Melewati segalanya
Yang dapat pisahkan kita berdua
Selamanya kita akan bersama
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Percayalah
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Percayalah
🎶
Semua orang berdiri, tepuk tangan dan suara riuh terdengar. Mereka benar-benar hanyut di dalam lagu yang dibawakan oleh Nisa dan Dhika. Mereka dibuat baper oleh pasangan duet yang serasi kali ini.
Dhika dan Nisa saling melempar pandang tersenyum satu sama lain.
//
NB
Medley adalah suatu cara dalam penyajian musik dengan teknik menyambung lagu satu dengan lagu lainnya dengan diiringi musik yang mengikuti tiap rangkaian lagu tersebut. Biasanya bisa sampai habis atau cuman sampei reff nya trus di lanjut lagi dengan lagu selanjutnya tapi, dengan transisi kord yang selaras.
//
Terimakasih telah bersedia mampir di cerita ini 😘😘 cerita yang receh dan masih amburadul.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN kalian yahh 😁
__ADS_1
Kalau mau nge-vote sangat diperbolehkan apalagi Fav hehehe
Terimakasih 🤗🤗🤗