
Beberapa waktu lamanya Nisa menggedor-gedor pintu toilet itu. Pintu masih tetap terkunci. Tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada seorangpun yang melintas di dekat toilet itu. Sungguh malang nasibnya. Semakin lama, gedoran dan teriakannya melemah.
Tubuh Nisa gemetar, keringat dingin bercucuran. Terkunci di ruangan yang sempit dengan suasana yang gelap, sendirian, memunculkan kembali memori lama yang sangat Nisa kecil takuti yang telah menghantuinya hingga saat ini.
Seorang anak kecil berjalan seorang diri, menyusuri jalanan yang sepi dikala itu. Jarak sekolahnya terbilang cukup jauh untuk kalangan anak kecil. Ia ditinggalkan oleh temannya yang memberikan tumpangan saat berangkat. Ia menangis di jalanan.
"Hahaha lihat si miskin. Udah miskin, cengeng lagi!" ucap temannya kepada yang lain. Ia membuka jendela mobil ketika berpapasan dengan anak kecil itu.
"Dasar gembel! Gitu aja gak bisa! Kalau mobilku rusak, kamu harus ganti!"
"Sana kamu pergi! Gak usah temenan sama kami!"
"Udah miskin, curang lagi. Pasti kamu nyontek ya kalau ulangan!"
"Pergi!" mereka mendorong anak itu hingga jatuh di kubangan air.
"Haha rasain, emang enak rokmu lengket!" ucapnya yang telah menaruh permen karet di kursinya.
"Jadi orang jangan belagu deh! Cuma karena peringkat 1 aja belagu!"
"Hei semua, jangan pernah mau temenan sama Si Miskin ini! Kalau kalian temenan, tanggung aja akibatnya!"
__ADS_1
"Miskin, kumuh, bau, belagu, cengeng!"
"Rasain kamu! Haha," ucap seorang anak yang mengunci Nisa kecil di dalam kamar mandi sendirian. Ia meninggalkannya sampai menjelang malam. Untung saja ada seorang guru yang kebetulan ingin buang air.
Segala umpatan dan kejadian di masa lalu silih berganti, muncul kembali. Kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan bercampur menjadi satu. Ia menangis sendirian dalam gelap. Tubuhnya melemah tak bertenaga. Ia terduduk lemas bersandar pada dinding. Sesekali ia mengeluarkan isakan tangisnya sambil menggedor lemah pintu yang terkunci.
"Hiks hu hu hu hiks... "
"Kok seperti dengar cewek nangis ya?"
ucap seorang pemuda yang kebetulan memakai toilet pria yang ada disitu.
Pikirannya melayang-layang. Apa jangan-jangan hantu ya?
Suara itu terdengar samar di indra pendengarannya. Suara itu disertai isak tangis dan gedoran pintu yang terdengar lemah. Karena penasaran, ia mendekat ke sumber suara itu.
"Kayaknya dari sana deh."
Ia menduga kalau suara itu berasal dari toilet wanita. Ia gamang, bingung antara masuk atau tidak.
"Masak iya gue mau masuk ke toilet wanita sih? Nanti kalau gue dikira mesum bagaimana? Tapi kasihan juga kalau nanti ada yang butuh pertolongan."
__ADS_1
Ia melihat ke sekelilingnya, agar tidak ada yang melihat kalau ia masuk ke dalam toilet wanita.
Setelah merasa aman, ia mengangkat kakinya, melangkah masuk. Baru saja kaki itu melayang di udara, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Dia masih berpikir, nanti kalau itu hantu sungguhan bagaimana?
Namun suara samar dari dalam masih saja terdengar. Suara itu terdengar memilukan.
"Sudahlah, urusan risiko pikir nanti. Kasihan juga kalau dia manusia."
Tanpa berpikir panjang ia masuk ke dalam. Ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Suara itu terdengar semakin jelas.
"Gak salah lagi. Gue harus cepat menemukannya."
Semua bilik toilet ia cek satu persatu. Hingga tersisa satu toilet yang terletak paling ujung. Ia melihat pintunya dikunci dari luar.
"Apakah ada orang di dalam?" tanyanya. Namun ia tidak mendengar lagi suara perempuan menangis itu.
"Kenapa pintu ini dikunci? Apa jangan-jangan beneran berhantu?" Ia bermonolog.
Pasalnya ia menemukan bilik toilet yang terkunci dari luar. Suara tangisan juga terdengar sebelumnya namun hilang ketika ia mendekat.
"Ahh sudahlah sudah tanggung juga."
__ADS_1
Ia membuka pintu itu.
"ASTAGA!"