Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Pulang


__ADS_3

Sementara itu di dalam pesawat, Yosse tengah asik mengamati awan di luar sana. Mentari yang bersinar terang seakan tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjadi penenang pikiran Yosse. Pikirannya melayang-layang di kejadian beberapa tahun yang lalu.


Yosse berkumpul dengan para sahabatnya. Tanding PS adalah suatu alternatif untuk menghilangkan kepenatan mereka. Ia bertanding melawan salah satu dari sahabatnya itu. Ia berkonsentrasi untuk memenangkan pertandingannya. Hingga suara anak perempuan membuyarkan konsentrasi Yosse. Ia melompat ke pundak Yosse hingga membuat Yosse terkejut.


"Kak Oce bantuin Elin kerjain tugas," ucapnya manja.


"Bentar Lin, kakak baru main PS ini. Bentar lagi kelar," ucap Yosse yang masih berusaha melawan lawannya, Ivan.


"Aaaa Kak, ayolah!" rengeknya.


"Kalau nggak keburu, kamu minta bantuan Kak Dhika aja tuh." Yosse menunjuk Dhika yang lagi bersantai sambil mainan game online di gawainya.


Dhika menoleh. "Sini Lin, kakak bantuin," tawar Dhika sambil meletakkan gawainya.


"Gak mau. Aku maunya sama Kak Oce, kak," rengeknya lagi. Entah kenapa diumurnya yang terbilang masih kecil, ia senang sekali mencari perhatian sama Yosse.


Akhirnya Yosse tidak tega dengan rengekan Elin. "Yaudah deh ayok, Kakak bantuin"


"Yeeyyy," teriaknya sambil lompat-lompat kecil. Yosse tersenyum kecil melihat tingkah adik sahabatnya itu.


"Hati-hati Lin," tegur Dhika yang takut adiknya kenapa-napa.


Tanpa ia sadari Yosse mengulas senyum tipis saat mengenang kembali secuplik kenangan itu.


"Tuan Muda.... Tuan Muda," tegur pramugari yang bertugas. Sudah berkali-kali ia mencoba untuk memanggil Yosse namun Yosse tetap bergeming. Karena tidak kunjung mendapatkan respon, ia menyentuh pundak Yosse lalu memanggilnya kembali.


Yosse berjengit kaget. Yosse memijat lembut pelipisnya.


"Maaf Tuan Muda telah mengagetkan anda," ucap pramugari itu dengan perasaan takut karena telah mengganggu Tuan Mudanya itu.


"Ya, tak apa. Ada apa?!" ucap Yosse lalu menoleh ke arah pramugari itu. Pramugari itu menunduk was-was karena tatapan Yosse. Tatapannya bisa diartikan tatapan yang cukup kesal.


"Saya hanya mau menawarkan makanan maupun minuman untuk anda. Barangkali anda ingin?"


"Tidak perlu."


"Kalau begitu saya pamit undur diri Tuan." Pramugari itu menundukkan kepala lalu membalikkan badannya meninggalkan Yosse.


"Tunggu!"


Pramugari itu berhenti dan segera membalikkan badannya menghadap ke arah Yosse. "Ya, Tuan?" Ia munundukkan kepalanya.


"Berapa lama lagi kita sampai?"

__ADS_1


"Sekitar 2 jam lagi Tuan."


"Oke. Kembalilah bekerja!"


Pramugari itu pergi meninggalkan Yosse. Yosse menghela napas kasar. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan bermain game online. Kenangan itu indah untuk ia kenang namun menyesakkan ketika ia mengingat akhirnya.


*********


"Tuan Mellano, dua jam lagi Tuan Muda sampai di bandara." ucap Bram, bawahan Tuan Mellano. Tuan Mellano menutup dokumen yang baru dia teliti di ruang kerjanya.


"Siapkan mobil! Saya dan anak istri saya ingin menjemputnya sendiri!"


Bram mengangguk; ia membungkukan badan kemudian pergi untuk menyiapkan mobil yang diminta.


Tuan Mellano menghampiri istrinya yang sibuk berkutat di dapur untuk menyambut kepulangan anak-anak mereka.


Tuan Mellano menyangga kepalanya di meja dapur sebrang istrinya. Ia tersenyum mengamati gerak gerik istrinya itu yang tidak kunjung menyadari keberadaannya. Ia selalu kagum dengan pesona istrinya.


"Yohana sayang."


Panggilan sayang Tuan Mellano itu sukses membuat Yohana, Sang Nyonya Mellano mengalihkan perhatiannya. Wajahnya tersipu malu.


"Ihh Pa, malu tahu. Ingat umur Pa, udah tua. Masih pake sayang-sayang segala," ucap Nyonya Yohana. Dia malu karena disana banyak pelayan yang sedang berberes rumah.


Perkataan Tuan Mellano sukses membuat istrinya tambah merona. Ia menutupi rona wajahnya dengan wajah kesal. Tuan Mellano tertawa keras melihat wajah istrinya. Pelayan yang ada disana cuma bisa diam-diam menikmati kemesraan tuannya yang tidak akan pernah pudar walau sudah termakan usia.


"Pa, nggak berhenti ketawa Papa puasa dan aku juga puasa bicara!" ancam Nyonya Mellano.


"Aduh duh istriku yang cantik, jangan ngambek dong," rengek Tuan Mellano seperti anak kecil.


Tuan Mellano merasa ngeri ketika istrinya sudah seperti itu. Pernah sekali ia merasakan bagaimana istrinya yang ngambek. Sampai tiga hari tiga malam istrinya tetap mendiamkannya. Nyonya Mellano tersenyum penuh kemenangan.


Setelah itu, Tuan Mellano memberi tahu tentang kepulangan anaknya.


Sementara itu disisi lain, Rindang tengah berada di dalam mobil, yang melaju menuju ke kediaman Keluarga Mellano. Mobil itu melaju sedang. Ia dijemput oleh sopir suruhan Papanya.


Di dalam mobil, Rindang bertukar pesan dengan Okta. Ia menanyakan tentang bagaimana kelangsungan rencana memberi kejutan Nisa karena Rindang harus segera pergi bahkan sebelum acaranya dimulai.


Rindang tersenyum dikala Rindang melihat foto Nisa yang dikirim Okta. Ia melihat Nisa begitu bahagia di foto itu.


"Semoga kebahagiaan selalu menghampirimu Nis. Selamat ulang tahun Nisa."


Tak lama kemudian, Rindang melihat nama Papanya tertera di layar gawainya. Ia segera mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Halo Pa,"


"Halo Rin, sudah jalan pulang belum? tanya Tuan Mellano di sebrang sana.


"Sudah Pa, ini baru di perjalanan."


"Sudah sampai mana Rin? "


Rindang melihat ke luar mobil. Ia mengamati jalan yang ia lalui.


"Aku sudah sampai di Jalan XXX Pa, mungkin 15 menitan lagi sampai."


"Yasudah, hati-hati. Bilang sama sopirnya, jangan ngebut."


"Iya Pa,"


Sambungan telepon pun mati.


15 menit kemudian, Rindang sampai di depan gerbang rumah kediaman Mellano yang terlihat megah dan mewah. Sang Sopir menghentikan laju mobil di depan gerbang rumah kediaman Keluarga Mellano. Pintu gerbang itu membuka dengan sendirinya.


Gerbang disana dilengkapi dengan sistem otomatis yang mampu mendeteksi nomor plat mobil keluarga Mellano dan orang-orang kepercayaannya yang sudah terdaftar di sistem itu. Sistem itu juga dilengkapi dengan sistem sensorik dimana sistem mampu mendeteksi siapa pengguna mobil itu. Karena foto wajah mereka sudah terprogram dalam sistem itu. Jika pemilik mobil maupun keluarga pemilik mobil tidak ada di dalam mobil, maka gerbang itu harus dibuka dengan sistem otomatis yang lebih manual.


Sistem keamanan gerbang yang dipasang oleh Tuan Mellano bertujuan untuk memperketat keamanan yang bisa melindungi keluarganya dari bahaya. Gerbang otomatis disana dilengkapi dengan beberapa perlengkapan lain. Seperti kamera keamanan yang akan memantau aktivitas di sekitar gerbang, juga saluran suara untuk mengetahui tujuan seseorang mengunjungi rumahnya.


Gerbang otomatis juga dilengkapi dengan sensor gerak jika ada seseorang yang memaksa masuk ke area rumah


Sesampainya di area rumah, Ridang segera turun dari mobil lalu memghampiri orang tuanya untuk bersiap menjemput saudara kembarnya itu.


**************


Seorang remaja laki-laki turun dari pesawat. Dia berhenti sejenak, kemudian mengambil napas dalam-dalam seperti mengambil energi yang banyak untuk mengisi ruangan yang kosong dalam dirinya. Lalu ia berjalan dengan langkah pasti sambil mendorong koper berisi barang pribadinya.


Saudara kembar dan orang tuanya sudah menunggunya. Dia berjalan menuju ke arah mereka. Dia memeluk kedua orangtuanya kemudian saudara kembarnya.


"Gimana Bang disana? Betah?" tanya Yohana, Nyonya Mellano.


Yosse ingin menjawab namun suara Tuan Mellano menginterupsi.


"Nanti saja Ma. Kita pulang dulu, nanti setelah sampai di rumah baru ditanya," tegur Tuan Mellano.


Mereka berempat berjalan beriringan menuju tempat mobil mereka terparkir. Yosse memasukkan kopernya ke bagasi. Kemudian mereka memasuki mobil. Tuan dan Nyonya Mellano di depan, sedangkan Yosse dan Rindang di kursi penumpang.


Sesampainya di rumah, Yosse melihat hidangan makanan yang begitu menggugah selera.

__ADS_1


__ADS_2