Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Hati yang Berbicara


__ADS_3

Di sebuah bukit di kota itu, Yosse duduk di bebatuan. Ia meluruskan kaki, tangannya menyangga tubuhnya di bebatuan itu. Ia menatap lukisan Sang Pencipta yang begitu indah. Semburat jingga terlihat di sana. Indah namun hanya sesat. Itulah rasa yang pernah hinggap di hatinya sebelum petang melanda hidupnya.


Yosse terus menatap sang surya yang perlahan menghilang. Ia mengulas senyum kecut. Sangat asam, hingga ia merindukan gula untuk menetralkan rasa itu.


"Tuhan, bolehkah aku meminta? Aku ingin menjadi Yosse yang dulu. Yosse yang ceria, Yosse yang tidak sembunyi di balik topeng yang kubuat sendiri. Aku berlari, aku bersembunyi. Memang bisa membantuku bersembunyi namun hanya sesaat. Aku ingin melepas semua, ingin mengikhlaskan semua. Tapi kenapa Tuhan? Sampai saat ini aku masih belum bisa."


"Rasa cinta, sayang, kecewa, bersalah, dan takut, menghantuiku setiap hari. Aku tidak tahu harus bagaimana selain meratapi."


Yosse bermonolog sendiri.


Suasana mulai petang. Yosse masih berdiam di sana memandangi langit yang mulai menggelap.


Hari benar-benar sudah gelap. Yosse beranjak pergi dari sana. Ia telah ditunggu sopirnya di dalam mobil.


"Jalan Pak,"


Mereka melajukan mobilnya ke kediaman Keluarga Mellano.


****


"Bang baru pulang? Dimana Rindang?" tanya Nyonya Mellano ketika Yosse menghampirinya.


Yosse mencium tangan mamanya. Lalu duduk di sebelah mamanya.


"Aku tadi ada urusan sebentar, Ma. Terus Rindang gak bisa pulang. Katanya sih ia menginap di rumah temannya," jelas Yosse.


"Okay baiklah. Memang kamu ada urusan apa Bang?"

__ADS_1


Yosse mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkin dia berkata jujur dari mana dia. Karena mamanya tahu, sudah menjadi kebiasaan Yosse ketika kalut, Yosse akan pergi ke bukit itu. Bukit itu telah menjadi obat untuk Yosse.


"Tadi Yosse nolongin orang dulu Ma. Dia butuh pertolongan. Dia pingsan di kamar mandi, Ma."


"Siapa dia Bang? Cowok apa cewek?" tanya Tuan Mellano yang datang menghampiri mereka.


"Ihhh Papa kepo deh sama urusan anak muda," ucap Nyonya Mellano sewot.


"Lah Papa nggak kepo, Ma, cuma nanya. Masak nggak boleh tanya sama anak sendiri? Kalau cewek, siapa tahu kan dia pacarnya Abang," goda Tuan Mellano.


Setahu mereka, sampai detik ini Yosse belum pernah berpacaran. Jadi Tuan Mellano memancing Yosse untuk bercerita tentang punya pacar atau tidak.


Wajah Yosse berubah sendu. Cintanya telah tiada. Bagaimana dia akan punya pacar? pikirnya. Tuan dan Nyonya Mellano menangkap perubahan muka Yosse segera mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Bang, udah makan?" tanya mamanya.


"Belum Ma"


****


Jam menunjukkan pukul 21:00.


Nisa, Okta, dan Rindang tengah merebahkan tubuh mereka di ranjang milik Nisa. Biarpun kecil, namun cukup untuk menampung mereka bertiga. Mereka tidur terlentang sambil menatap atap di atas mereka.


Mereka memutuskan untuk menginap di rumah Nisa, sedangkan Dhika, Bagas, dan Ivan memutuskan untuk pulang setelah makan malam.


"Ta, Rin" ucap Nisa lirih. Nisa masih tetap menatap atap.

__ADS_1


"Hem?" gumam Okta dan Rindang bersamaan. Mereka menunggu kelanjutan kata yang akan keluar dari mulut Nisa.


Nisa kembali bergeming. Memikirkan kata yang cocok untuk ia katakan.


"Apakah aku harus bercerita tentang kesulitanku saat ini atau tidak ya. Jika kupendam, apakah aku bisa menghilangkannya sendiri? Tapi jika kuungkapkan apakah bisa mereka membantuku untuk menyembuhkan? " ucapnya dalam hati.


"Emm pasti kalian sudah tahu kenapa aku bisa sampai pingsan kan?" Nisa memantabkan hatinya untuk bercerita.


Okta dan Rindang masih setia diam untuk mendengarkan.


"Tadi aku terkunci di toilet. Entah kenapa aku merasa seperti ada yang sengaja mengunciku dari luar. Aku benar-benar ketakutan."


Mereka bertiga sudah berasumsi kalau yang mengunci Nisa adalah Cecil. Okta dan Rindang masih menunggu kelanjutan cerita Nisa.


"Terus aku nggak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika aku sadar yang kulakukan hanya menangis. Ada yang menenangkanku tapi ku tidak tahu siapa dia."


Cerita Nisa membuat mereka merasakan betapa mirisnya hidup dalam bayang-bayang masa lalu.


"Bagaimana caranya agar aku lepas dari bayang-bayang itu Ta, Rin? Aku lelah, setiap aku keluar dari rumah aku selalu ketakutan. Dan sekarang, disaat aku ingin memperbaiki semuanya, dia datang lagi di hidupku, mengganggu hidupku lagi. Aku harus bagaimana?" ucapnya lirih. Matanya memerah, cairan bening sudah menumpuk di pelupuk mata, siap untuk diluruhkan.


Okta bangun dari tidurnya. Ia menatap Nisa penuh rasa iba. Okta mengisyaratkan agar Nisa ikut bangun. Nisa bangun lalu memeluk sahabatnya itu. Ia menangis, namun ia berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh keluarganya. Ia tidak mau keluarganya tahu dan bersedih karena apa yang dialami Nisa. Rindang ikut memeluknya. Nisa menumpahkan semua bebannya kepada sahabatnya itu.


"Tenanglah Nis, lo masih punya kami. Jangan anggap lo cuma sendiri. Ada kita, ada Kak Dhika, ada Kak Bagas, ada Kak Ivan Nis. Ayo kita lewati semua bersama. Jangan simpan semuanya sendiri. Curahkanlah, kami siap mendengarkan." ucap Okta.


"Iya Nis. Ulurkan tanganmu kepada kami, maka kami akan menggandengmu agar kamu tidak terjatuh."


Ucapan mereka berdua berhasil membuat Nisa menangis lagi. Kali ini bukan tangisan sedih, namun menangis bahagia.

__ADS_1


Ia bersyukur saat ini memiliki sahabat seperti mereka. Mereka anak dari kalangan atas, namun mereka perhatian dan peduli padanya tanpa peduli latar belakang Nisa. Mereka merangkulnya seperti saudara.


"Tuhan terimakasih telah menghadirkan mereka saat ini. Tuhan, jika boleh, aku ingin memiliki sahabat seperti ini Tuhan. Sampai tua nanti," batin Nisa. Ia menangis sambil berdoa dan mengucap syukur dalam hati.


__ADS_2