
Saat ini Nisa duduk di depan meja rias. Wajahnya di make up natural. Sungguh, wajahnya yang sudah cantik natural itu terlihat semakin cantik dengan balutan kebaya warna biru membuatnya semakin cantik mempesona.
Ia menghadiri pernikahan saudaranya itu. Lantunan janji suci ia dengar dengan mantap dari kedua calon mempelai. Rasanya sangat membahagiakan ketika melihat orang terdekat mengucapkan janji suci.
Nisa melihat kakak sepupunya itu duduk di pelaminan dengan seorang wanita yang saat ini sudah sah sebagai seorang istrinya. Senyum bahagia tidak lepas dari wajah mereka.
"Mas ayo samperin Mas Woro dan istrinya," ajak Nisa sama Setyo.
Mereka berdua berjalan menghampiri sang pengantin.
"Ehemm yang udah sah. Ada jomblo disini. Mesra mesraannya nanti saja ya!"
Teguran Setyo membuat mereka berdua terkekeh. Woro segera menyelesaikan kegiatannya mengelap keringat di dahi istrinya. Kemudian mencium keningnya tanpa canggung.
"Astaga, ayo Dek, gak usah kasih selamat, udah selamatan sendiri noh!" ajak Setyo.
Suara tawa Woro semakin keras. Ternyata niatnya untuk menggoda Setyo berhasil.
"Hahaha, makanya sono cari jodoh. Jangan adiknya yang dibawa-bawa mulu. Mentang-mentang adiknya cantik juga."
Woro mendekat ke arah wajah istrinya. Setyo langsung menutup wajah Nisa dengan tangannya.
"Kau parah Wor, ada bolos disini. Mau ehem ehem ya sono ke kamar tutup pintu. Jangan lupa mulutnya disumpal biar gak kedengaran dari luar!"
__ADS_1
Woro tertawa terbahak sambil memegangi perutnya. Ia juga mendapat cubitan manja dari istrinya.
"Bolos? Apa itu Yo?" tanya Dini, istri Woro.
"Nih bocah polos," tunjuk Setyo dengan dagunya. Akhirnya Dini paham apa yang dimaksud Setyo.
"Sebenarnya otakmu saja yang konslet Yo. Haha aku tadi itu cuma mau membisikan sesuatu sama istri tersayangku malah otakmu yang nglantur," ledek Woro.
Sementara itu Nisa tidak paham apa yang dibicarakan oleh kakak-kakaknya. Otaknya tidak sampai untuk berpikir seperti itu.
"Astaga aku gak paham pembahasan kalian," keluh Nisa.
"Udah nak kecil gak udah kepo! " ucap Setyo.
Nisa balik menatap Dini. "Mbak Dini, selamat ya, semoga kakak bahagia. Kalau Mas Woro nakal, cubit saja," ucap Nisa yang diselingi candaan.
Dini tersenyum. "Makasih ya, Dek." Dini memeluk Nisa. Kemudian Nisa beralih ke Woro.
"Mas bahagia untukmu. Jangan sakiti Mbak Dini. Semoga kalian segera dianugrahi keturunan yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Jangan lama-lama berikan aku keponakan yang lucu."
"Makasih Dek. Sini," Woro memeluk adik sepupu tersayangnya itu.
"Udah Mas, takutnya ada yang cembukur," goda Nisa. Woro tersenyum, mereka melepas pelukan mereka.
__ADS_1
"Selamat bro, semoga pernikahanmu langgeng, dan untukmu Mbak Dini, kalau dia.." Setyo menunjuk Woro dengan telunjuknya, "sampai mlenceng, hempaskan saja hahahaha!"
Setelah menemui kedua mempelai, Nisa dan Setyo mengambil hidangan makanan. Aneka macam hidangan ada di sana. Nisa langsung khilaf mata, begitu pun juga dengan Setyo. Mereka berdua mengambil banyak makanan di piring mereka, hingga mereka bingung mau makan dari yang mana.
"Hei Nis," sapa Okta dari kejauhan. Nisa langsung melambaikan tangan. Okta berjalan menghampiri Nisa dan Setyo.
"Hai Mas," sapa Okta lagi.
Setyo hanya mengangguk. Ia tengah sibuk dengan makanan di depannya.
"Wihh makan lo banyak amat Nis. Emang lo kuat menghabiskan segitu banyak makanan?" Okta geleng-geleng melihat porsi makan Nisa yang tidak pernah berubah. Makanan dengan porsi banyak alias jumbo.
"Nggak usah heran lagi Ta. Aku cuma kasihan sama suaminya kelak. Memberi makan buto kayak dia," ledek Setyo.
"Ngaca dulu Mas kalau mau ledekin orang. Lihat tuh! Banyakan punya Mas lagi. Ckckckck"
Okta tertawa melihat perdebatan kakak beradik itu.
"Mas, mbak jodohnya kemana?"
Pertanyaan Okta itu membuat Setyo tersedak. Ia meminta air minum pada Nisa.
"Haisst lagi-lagi yang ditanya mbak jodoh mulu." Setyo menelan makanannya.
__ADS_1
"Kapan kalian semua tanyain keberadaanku?" ucapnya lagi sambil memakan makanannya lagi.