Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Gara - Gara Bibit


__ADS_3

Seorang ibu paruh baya tengah duduk di sofa. Dia memainkan hpnya dengan serius. Ada sesuatu yang harus ia cari namun tak kunjung ia temukan.


"Dhik kamu tahu nggak siapa yang jual atau tempat untuk beli bibit terong sama cabai?" tanya mama dhika, Santi saat Dhika yang membawa gitarnya lewat di depannya. Sudah lama Tante Santi punya hobi berkebun. Jadi di halaman belakang rumahnya banyak tanaman yang dia tanam terutama sayuran dan buah - buahan.


"Enggak tahu sih mi, ntar aku tanyain ke temanku," jawab Dhika datar.


"Hmm baiklah. Kalau ada carikan masing - masing 15 buah ya Dhik," pinta Tante Santi.


"Hmm.." guman Dhika menanggapi mamanya itu. Dia segera berlalu membawa gitarnya menuju gasebo.


Dhika menghubungi sahabat - sahabatnya untuk menanyakan dimana dia harus mencari bibit terong dan cabe.


Sungguh suatu keberuntungan. Dhika langsung mendapatkan nomor penjual bibit dari sahabatnya. Dia segera menghubungi penjual bibit itu dan meminta penjual bibit untuk mengantarkannya langsung ke rumahnya.


*************


"Wahh pak, ada pesanan ya?" tanya Nisa saat melihat bapaknya mencampur tanah dan pupuk kandang untuk dimasukkan ke dalam polybag.


"Iya Nis. Lumayan lagi jumlah pesanannya," jawab Pak Man. Dia mengusap peluh di wajahnya dengan punggung tangannya.


"Aku bantuin ya pak," tawar Nisa.


Nisa langsung jongkok di sebelah Pak Man lalu membantu Pak Man memasukkan tanah campuran ke dalam polybag. Sebagian orang mungkin akan jijik memegang tanah bercampur pupuk kandang. Namun hal ini sudah menjadi hal biasa bagi Nisa. Tak butuh waktu lama, pekerjaan mereka selesai.


"Nis senggang tidak?" tanya Pak Man.


"Senggang pak," jawab Nisa sambil mencuci tangannya.


"Kalau begitu hantarlan bibit ini ke rumah di alamat ini ya. Bapak tidak bisa mengantarnya sendiri Nis, bapak mau menyemprotkan obat tanaman soalnya, keburu malam." pinta bapak sambil menyerahkan secarik kertas.


"Oke pak," Nisa menyetujui. Nisa menerima secarik kertas bertuliskan alamat itu.


************


Nisa mengendarai motornya yang membawa keranjang motor berisikan tanah yang sudah dipolybag. Bibitnya masih terpisah. Nantinya bibit itu akan ditanam setelah sampai di tempat pemesan.


Sampai di depan gerbang komplek perumahan elit, Nisa memberi tahu satpam untuk masuk ke kawasan itu atas perintah dari Tante Santi. Nisa juga menanyakan alamat yang dia bawa. Satpam mengijinkan Nisa masuk dan mengarahkan jalan menuju alamat itu.

__ADS_1


Sampai di depan sebuah rumah berpagar tinggi yang dituju, dia turun dari motornya. Nisa mengecek apakah alamatnya benar atau tidak. Setelah yakin alamat itu benar, Nisa segera menekan bel.


Ada seorang satpam membukakan pintu gerbang. Dia mempersilahkan Nisa masuk, atas perintah Sang Tuan Rumah.


"Masuk aja Dek, udah ditunggu sama Nyonya," ucap Satpam itu.


"Baik Pak," jawab Nisa.


Dia menaiki motornya lagi dan segera masuk ke dalam. Nisa sangat takjub melihat rumah yang begitu megah.


"Wahh memang benar. Yang namanya elit isinya juga kelewat elit," batin Nisa.


Kedatangan Nisa disambut dengan baik oleh Tante Santi. Tante Santi mengarahkan Nisa untuk menuju ke halaman belakang rumahnya. Nisa mengikuti perintah Sang Tuan Rumah. Nisa membawa motornya lewat samping rumah.


Sampai di sana Nisa melihat macam - macam tanaman yang tumbuh di sana. Ia heran, kenapa jaman sekarang masih ada orang kaya yang mau berkebun? Begitu pikir Nisa.


Nisa segera menurunkan polybag berisi tanah. Setelah selesai dia mengambil bibit terong dan cabainya. Nisa juga meminta air untuk menyiram tanah itu agar siyap untuk ditanami.


"Wah dek, kalau beli bibit di tempat Pak Man memang dipisah ya antara bibit sama tanahnya?" tanya Tante Santi.


"Iya Bu, supaya bawanya mudah. Kan mengantarkannya kalau jumlah tidak terlalu banyak cuma pakai keranjang motor," jelas Nisa sambil menyirami tanah itu.


"Ya nanti kami menyewa pick up tetangga kami Bu," jelas Nisa sambil tersenyum.


"Tapi apa tidak rugi Dek?" tanya Tante Santi.


"Mungkin hasilnya memang berkurang tapi masih untung kok Bu," jawab Nisa.


Semua tanah telah selesai Nisa siram. Nisa mengambil bibit terong dan cabe yang dia bawa. Nisa mengambil 1 bibit terong terus dia tanam di polybag itu dengan teliti. Tante Santi kagum melihat Nisa yang mahir menanam tanaman. Sangat sedikit anak muda yang mau belajar menanam tanaman pertanian sepertinya. Tante Santi juga ikut turun tangan, membantu Nisa.


"Namamu siapa Dek?" tanya Tante Santi, mengambil bibit lalu menanamnya.


"Nisa Bu," jawab Nisa sambil terus menanam bibit itu.


"Jangan panggil 'Bu' tapi panggil saya Tante," pinta Tante Santi. Nisa menganggukkan kepalanya tersenyum. Tak butuh waktu lama, semua bibit itu tertanam dengan baik.


Tante Santi mengajak Nisa untuk minum sejenak di dalam rumah. Nisa mengiyakan ajakan Tante Santi. Kebetulan tenggorokan Nisa terasa kering. Saat memasuki rumah itu, Nisa dibuat takjub dengan kemewahannya.

__ADS_1


Tante Santi mempersilahkan Nisa duduk di ruang tamu.


"Nis diminum dulu," ucap Tante Santi.


Nisa menganggukan kepalanya lalu meminumnya, "Makasih Tan."


Tante Santi tersenyum.


"Nis kayaknya umurmu gak beda jauh dengan anak tante. Atau bahkan kamu malah lebih muda darinya," ucapnya. Nisa hanya tersenyum canggung, bingung bagaimana menanggapinya.


"Kapan - kapan Tante kenalin deh," imbuhnya.


"Mi... " ucap Dhika yang ingin memanggil maminya terhenti. Dhika terkejut saat melihat Nisa di rumahnya.


"Nis kok lo bisa di sini?" tanya Dhika.


"Ya kan aku nganter pesanan Kak. Terus Kakak sendiri?" tanya Nisa balik.


Tante Santi berdiri menghampiri Dhika.


"Ini dia anak Tante Nis," Tante Santi merangkul pundak Dhika.


"Wah ternyata," Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya masih tidak percaya dengan kenyataan di depannya.


"Tahu kalian saling kenal, tadi Tante suruh Dhika aja yang ambil bibitnya saja. Jadi kamu nggak perlu susah - susah nganterin," ucap Tante Santi.


"Ya namanya juga nggak tahu Mi. Aku aja baru tahu kalau nama bapak Nisa itu Pak Man," tutur Dhika.


Nisa mengamati interaksi ibu dan anak itu. Terlihat dekat dan hangat. Tapi kenapa sama orang lain dia kelihatan tak tersentuh ya, pikir Nisa.


"Oh iya Mi. Mami dicari Papi noh, ditunggu di ruang kerjanya," ucap Dhika menyampaikan tujuannya.


"Okay Dhik. Nih Nis uangnya," ucap Tante Santi memberikan sejumlah uang pembelian bibit.


"Kalian lanjut saja ngobrolnya. Tante tinggal dulu ya Nis," imbuh Tante Santi kemudian berlalu.


Saat itu Tante Santi tidak langsung menemui suaminya. Namun dia mengintip interaksi Dhika dan Nisa di balik tembok. Gelak tawa terdengar di telinganya. Melihat dan mendengar Dhika tertawa lepas adalah impiannya. Semenjak kecelakaan putri bungsunya, Dhika tidak pernah tertawa selepas itu. Hatinya sebagai ibu tersayat melihat kenyataan itu. Namun hari ini dia sangat lega. Masih ada orang yang bisa membuat anaknya tertawa lepas.

__ADS_1


Tak terasa air matanya membasahi pipinya. Dia sangat bahagia. Tante Santi juga merasa ada suatu kemiripan antara Nisa dan putri bungsunya. Diantaranya bola matanya dan sifat - sifatnya. Tante Nisa jadi kangen sama mendiang anaknya. Tante Santi sangat ingin memeluk Nisa, namun dia menahannya. Dia tidak mau membuat Nisa bingung dengan tindakannya.


__ADS_2