Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Tempe Gosong


__ADS_3

"Mak, wadah untuk menaruh tempenya mana, Mak?" ucap Nisa tanpa menoleh ke arah Bu Tin sedikitpun. Ia masih sibuk berkutat dengan penggorengan.


"Cari sendiri Nis, di rak piring!" ucap mamak yang tengah sibuk mengulek sambal lombok ijo.


"Yahh, Mak, tapi kan nanti kalau ku tinggal bisa gosong ini tempenya."


"Kecilin dulu apinya, terus sana ambil sendiri!"


"Iya iya, Mak." Dengan wajah yang lesu, Nisa mengambil piring di rak piring. Sebelumnya ia telah mengecilkan api kompornya sesuai dengan anjuran mamaknya.


Nisa ingin mengambil satu piring, namun ia urungkan ketika ponsel di sakunya berdering. Ia mengecek ponselnya. Panggilan Video dari dua sahabatnya terlihat di layar ponselnya. Nisa menekan tombol telepon hijau.


"Hai!" Nisa melambaikan tangannya.


"Nis mau ikut ke pasar malam nggak nanti malam?" tanya Okta to the point. Kebetulan malam nanti adalah Sabtu Malam, sehingga esok harinya mereka tidak akan kesiangan walau pulang larut.


"Siapa aja Ta, Rin?"


"Ya kita, Nis," jawab Rindang.


Nisa berpikir sejenak. "Mak boleh ke pasar malam nggak?"


"Sama siapa saja, Nis?"


"Sama Okta, sama Rindang. Boleh nggak, Mak?"

__ADS_1


"Boleh, asal hati-hati!"


"Oke Mak!" ucap Nisa, Okta, dan Rindang bersamaan. Suara Bu Tin terdengar juga oleh Okta dan Rindang.


Nisa dan kedua sahabatnya itu melanjutkan video call mereka dengan ngobrol ringan. Hingga tercium bau aneh di hidung Nisa.


"Mak, mencium bau sesuatu nggak, Mak?" ucap Nisa sambil mengendus-enduskan hidungnya.


Bu Tin mengendus-endus. Ia juga mencium bau yang sama dengan Nisa.


"Tempe!!" seru Nisa dan Bu Tin bersamaan.


Nisa langsung mematikan video call dengan kedua sahabatnya. Ia berlari menghampiri tempe gorengnya yang telah berubah menjadi hitam. Untung saja wajannya tidak ikut terbakar.


"Yahh tempeku." Nisa mengangkat tempe yang telah gosong itu. Ia sangat menyayangkan tempe goreng kesukaannya itu.


Ucapan sarkas Bu Tin membuat Nisa menyengirkan senyumnya.


"Maaf, Mak, gak sengaja." Nisa tidak enak hati telah membuat salah satu menu makan malam mereka gosong.


Bu Tin menghela napas. "Lain kali jangan diulangi, Nis."


"Iya, Mak."


"Ingat! Kalau masak, terus ada telepon masuk matikan salah satu. Jika mau angkat telepon itu matikan dulu kompornya. Kalau mau menyelesaikan dulu masaknya, matikan telepon itu, dan beri pengertian pada dia yang menelponmu. Kalau sampai terbakar kan bahaya, Nis." Wejangan panjang lebar keluar dari mulut Bu Tin.

__ADS_1


"Iya iya, Mak. Kan tadi udah minta maaf!" Wajah Nisa cemberut karena ia merasa disudutkan padahal sudah minta maaf.


"Iya, udah minta maaf. Tapi mamak juga hanya mengingatkan agar tak terulang nantinya," ucap Bu Tin memberikan pengertian untuk Nisa.


"Iya deh, Mak," ucap Nisa. Raut wajah lesu terlihat kentara sekali di wajah Nisa. Bu Tin tidak tega melihatnya.


"Sudahlah! Ambil selonjor tempe yang baru. Bumbui tempe itu terus digoreng sekalian Nis. Mamak mau mandi dulu," ucap Bu Tin sambil menutup sambalnya dengan tudung saji. Kemudian berlalu meninggalkan Nisa disana sendiri.


"Iya, Mak."


"Haihh gegara kelamaan VC (video call ) nih, tempeku jadi gosong."


Nisa menggeruntu tidak jelas saat ia memotong tipis tempe yang baru. Suara pertemuan antara pisau dengan talenan kayu terdengar cukup nyaring.


"Yang ikhlas, Dek, masaknya. Ntar gosong lagi tempenya!" ucap seseorang dari arah belakang yang diiringi suara tawa renyah darinya. Ia ingin mengambil air minum di dapur. Ia mengetahui tragedi tempe gosong yang belum lama terjadi.


Nisa sudah hapal betul dengan suara itu. Siapa lagi orang yang sering meledek Nisa kalau bukan Setyo? Nisa memutar bola matanya malas.


"Diem aja napa, Mas? Udah tahu adiknya kesusahan masih saja diketawain. Gak lucu tauk!" Nisa semakin kesal karena ulah Setyo. Namun itulah Setyo. Ia semakin tertawa saat melihat wajah masam Nisa.


Nisa tak menghiraukan ledekan Setyo lagi. Ia terus melakukan aktivitas memasaknya lagi, agar cepat selesai dan dia bisa beristirahat. Sedangkan Setyo berjalan menuju teras rumahnya, untuk menikmati senja dikala itu.


*****


//

__ADS_1


Hai haii semua, adakah yang pernah mengalami kejadian seperti yang pernah Nisa alami? Hahaha


Happy reading semua 💕💕


__ADS_2