
"'Ck mana sih, mereka belum ada yang dateng?" ujar Nisa. Berulang kali Nisa menengok jam di pergelangan tangannya. Sudah beberapa menit dari insiden saling mengutuk dengan kakaknya, namun dua sahabatnya itu tidak kunjung datang.
"Jadi apa tidak sih? Kebiasaan deh mereka."
Nisa bersungut–sungut. Jika ia tau waktu molor seperti ini, mungkin seharusnya ia memilih untuk tidur saja di rumah, menikmati waktu bersama dengan kasur dan guling.
"Hmmm sepertinya ke Amerika lebih cepat deh dari pada ke sini," ujar Nisa sarkas. Lebih tepatnya terkesan melebih–lebihkan. Siapapun juga tahu jika butuh waktu berjam–jam untuk sampai ke negara itu.
"Yaelah Nis, Nis. Santai sedikit kenapa. Kan semuanya itu butuh berjalan. Semuanya membutuhkan proses untuk mencapai sebuah tujuan," jelas Okta sok bijak.
"Hilih" ujar Nisa.
"Preeett" ujar Rindang.
Mereka bersuara bersamaan.
"He'eleh... kalian tidak percayaan. Buktikan deh, buktikan. Pasti juga seperti itu. Ya kan, Budhe?" Okta menoleh ke arah Bu Tin. Ia mencari pembenaran sama Bu Tin yang baru saja keluar menghampiri mereka.
"Apa lagi ini, apa lagi, hm?" tanya Bu Tin. Ia mengulurkan tangan pada kedua anak remaja yang juga mengulurkan tangan pada Bu Tin.
"Tau tuh, Tan! Aneh memang," ucap Rindang.
__ADS_1
"Okta??" Bu Tin bertanya halus pada Okta dengan menatap Okta lebih intens.
Okta hanya meringis cengengesan. "Bercanda doang, Budhe. Masak bercanda tidak boleh. Hidupnya sepaneng lebih berbahaya loh."
Bu Tin menggelengkan kepalanya. Okta tidak ada berubahnya sedikitpun. Ada saja jawabannya. Mau bagaimanapun Okta tetap ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Sudah sudah. Mau sampai kapan kalian di sini? Keburu malam loh." Bu Tin mengingatkan mereka bertiga. waktu sudah kian larut. Ia tidak ingin gadis–gadis remaja itu dicari oleh orang tua mereka. Apa kata tetangga jika melihat gadis–gadis pulang larut.
"Oh iya, Mak. Kami berangkat ya, Mak?"
"Berangkat, Budhe."
"Berangkat, Tan."
"Mas Setyooo... berangkat. Awas aja kalau Mas ikut!" pamit Nisa yang juga memperingatkan agar Setyo juga tidak ikut menyusul bersamaan.
"Hhmmm" Suara gumaman itu terdengar cukup samar sebagai jawaban yang Setyo berikan.
"Mak jangan biarkan Mas ikut. Pokoknya hari ini Quality timeku dengan sahabatku. Spesias cowok dilarang menimbrung," pesan Nisa.
"Husst tidak boleh gitu, Nisa..." Bu Tin menasihati. Nisa mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Mamak ih... pokoknya jangan sampai dia nyusul, TITIK."
"Iya iya. Nanti Mamak bilangin. Sudah sana berangkat."
Nisa mengangguk.
"Oh iya Ta, Rin. Nanti kalau kemalaman lalu kalian tidak berani pulang sendiri, kalian nginep saja di sini. Kalian bisa sekamar dengan Nisa, atau nanti Budhe akan siapkan kamar spesial untuk kalian," tawar Bu Tin lembut dengan senyum yang merekah.
Okta dan Rindang tersenyum membalas.
"Iya Tan. Gampanglah nanti. Terima kasih atas tawarannya."
"Hooh Budhe. Budhe terbaik pokoknya," sahut Okta menimpali. Ia merentangkan tangannya untuk memeluk Bu Tin. Namun aktivitasnya terhenti. Nisa menghalangi niat Okta. Ia tidak rela Okta main peluk–peluk dengan ibunya. Ia cemburu.
"Gak bolehh!!" larang Nisa.
"Ih apaan sih Nis. Pelit amat."
"Biarin wleeek" Nisa menjulurkan lidahnya pada Okta. Sedangkan Rindang hanya geleng–geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Sudah ayo berangkat!" ajak Rindang. Ia memilih untuk mendahului mereka berdua. Tidak akan ada selesainya jika mereka berdua sudah mulai beradu mulut.
__ADS_1
"Hati–hati," seru Bu Tin.