
POV Nisa
Makan kami telah usai. Aku dan Okta bergegas pulang. Huuhhh sungguh melelahkan sekaligus melegakan. Akhirnya ujian akhir sudah kulewati.
Sesampainya di rumah aku bergegas ke kamar dan melakukan aktivitasku seperti biasa. Ganti pakaian, makan siang, tidur siang, bantu mamak bersihkan rumah dan masak. Aku tetap menyantap makan siang di rumah karena memang aku sudah lapar lagi walaupun aku tadi sudah makan di kantin bersama Okta.
Selama beberapa hari ini, aku berpikir keras mau kemana aku melanjutkan sekolah. Perlu diketahui, sampai detik ini aku adalah orang yang berprinsip mengikuti arus saja. Aku akan menentukan langkah tujuan selanjutnya saat mendekati kapan aku akan mulai melangkah. Aku bukan orang yang penuh dengan rencana matang. Lihat saja cara belajarku, benar-benar sangat tidak teratur.
Ibarat kata aku berpergian ke suatu tempat menggunakan google maps tanpa pernah pergi ke sana sebelumnya. Agak mengerikan kalau tersesat, tapi dipastikan sampai tujuan juga. Tapi itulah prinsip yang mendarah daging di hidupku.
Setelah berpikir matang dengan mempertimbangkan impianku, aku ingin melanjutkan study di SMA favorit di kota ini. Aku ingin mengejar impianku menjadi seorang dokter dimasa depan. Di sana aku juga ingin mengembangkan salah satu bakatku, yaitu bermusik.
Kata orang sih suaraku terbilang merdu, walaupun kadang aku masih merasa minder bersanding dengan orang lain yang bersuara merdu. Menurutku sekolah itu sangat cocok untuk pengembangan bakatku. Aku harus membicarakan keinginanku nanti malam.
Saat malam tiba semua anggota keluarga makan malam bersama. Memang sederhana. Namun semua terasa nikmat ditengah kehangatan kebersamaan keluarga. Aku menyantap makan malam bersama keluargaku dengan penuh rasa syukur.
Makanan yang telah kuambil aku habiskan semua tanpa menyisakan sisa makanan dipiringku. Kata bapak kalau makan jangan sampai menyisakan makanan di piring kita. Sebisa mungkin harus dihabiskan kecuali kondisi badan tidak memungkinkan, sakit misalnya.
Sebisa mungkin aku mengambil makanan sesuai kebutuhan makan yang mampu aku makan. Menurut bapak itu menyisakan makanan dipiring berarti kita mengambil jatah orang yang tidak bisa makan. Atau orang yang kekurangan makan.
__ADS_1
Selesai makan aku dan keluargaku menyisakan waktu untuk bercengkrama. Disinilah bapak maupun mamak akan memberikan wejangan sebagai bekal hidup dan berdiskusi. Kami juga bersenda gurau berbicara ngalor ngidul tidak jelas.
"Mak Pak tahun ajaran besok aku dibeliin tas ya, udah rusak tuh yang lama," ucapku.
"Boleh Nis," ucap ibu mengiyakan.
"Tas siji loro tas loro telu tas telu papat," celetuk bapak dalam bahasa jawa yang artinya setelah satu dua, setelah dua tiga, setelah tiga empat. Ucapan bapak berhasil membuatku dan Mas Setyo terbengong. Mamak yang sudah tahu maksud bapak malah tertawa melihat ekspresiku dan Mas Setyo.
"Gagal paham aku pak, iya nggak Mas?" ucapku masih terbengong dan berpikir.
"Heem Dek aku juga. Jelaskan dong mak pak," ucap Mas Setyo.
"Gini lho nduk le maksudnya tas siji berarti loro, tas loro berarti telu. Siji loro telu papat hahahahaha," jelas bapak lalu tertawa. Aku sama Mas Setyo pun tertawa setelah tau apa yang dimaksudkan bapak.
Kami mempunyai cara bercanda kami sendiri. mungkin orang lain akan berpikir bahwa bercandaan kami itu aneh. Tapi ibarat kata, candaan seperti itu sudah menjadi makanan sehari - hari kami. Tak hanya bercanda. Aku maupun masku bisa membicarakan masalah kami maupun pendapat kami. Dan hari ini akan kugunakan hakku dikeluargaku.
"Mak, Pak, mas bolehkah aku berbicara sebentar?" tanya Nisa memulai pembicaraan.
"Boleh Nduk, ada apa?" bapak mulai memusatkan perhatiannya padaku.
__ADS_1
"Gini Pak, Mak, Mas. Bentar lagi kan aku lulus. Emmm bolehkah aku membicarakan keinginanku melanjutkan mau sekolah kemana?" ucap Nisa yang sebenarnya cemas akan segala jawaban yang ia dapat nantinya.
"Boleh Nduk. Memang kamu mau melanjutkan sekolah kemana?" tanya bapak penasaran.
"Kalau boleh, aku ingin sekolah di SMA Bangun Mulya pak," jawab Nisa. Bapak mengulas senyum.
"Kalau bapak menyarankan lebih baik kamu sekolah di SMK Guna Bakti, Nduk. Di sana kualitas sekolahnya juga tidak kalah bagus loh. Di sana kamu sudah menjurus ke dunia yang sesungguhnya, kalau SMA kan masih pengetahuan umum Nduk," ucap bapak yang menurutku tak bisa kubantah.
"Tapi Pak," ucapanku berhenti.
"Udahlah Nis sekolah disana saja. Lagian kualitasnya nggak kalah lho sama yang di SMA Bangun Mulya," tukas mamak menyela ucapanku. Mas Setyo tidak bisa berkata- kata. Dia menatapku dengan tatapan iba.
Akupun hanya terdiam. Tak percaya dengan semua jawaban yang kudapat. Aku tau mereka menyarankan sekolah ke SMK Guna Bakti karena memang biaya sekolah ke sana lebih terjangkau bagi keluargaku. Tapi seandainya diperbolehkan, sebenarnya aku ingin mencari beasiswa untuk bersekolah di SMA Bangun Mulya untuk mengejar impianku. Sayangnya mereka sungguh tidak pernah bertanya apa impianku. Aku kecewa.
Aku tau cara pandang mereka masih kolot tentang anak perempuan. You know lah kehidupan di jaman Ibu Kartini. Cuma bedanya aku masih bisa sekolah dan bebas main. Soal sekolah perlakuan mereka ke Mas Setyo berbeda denganku. Mas Setyo boleh memilih sekolah sesuai yang Mas Setyo mau. Tapi aku? Sebenarnya aku iri sama Mas Setyo.
Aku meninggalkan ruang keluarga tanpa berbicara lagi dan mengabaikan semuanya yang menatapku pergi. Aku sudah dipenuhi rasa kecewa. Untuk kedua kalinya keinginanku bersekolah digagalkan mereka. Kenapa? Aku tau maksud mereka baik untukku. Tapi kenapa mereka tidak pernah mendengarkan keinginanku untuk megejar impianku?
Tapi mau bagaimana lagi. Perkataan bapak sulit untuk dibantah. Memang, semua perkataannya selalu benar untuk satu aspek kehidupan dan aku menyetujuinya. Tapi tidak untuk sekolah. Aku selalu bertentangan dalam hal pemilihan sekolah.
__ADS_1
Sesampainya dikamar aku merebahkan diri. Aku menghela napas berat. Saat ini aku harus berpikir, apakah aku harus nurut lagi ataukah aku harus mengejar impianku? Sulit bagiku untuk memutuskan. Dari dulu aku bukan tipe pembangkang. Bagiku apapun yang kulakukan harus ada restu dari orang tua. Tapi bagaimana dengan impianku?
Aku larut dalam pikiranku sampai-sampai aku telah berada di alam mimpi.