
Beberapa minggu sebelumnya....
Flashback On
Okta dan Rindang duduk berdua di taman sekolah tanpa Nisa. Nisa tidak masuk sekolah karena sepupunya menikah di hari itu.
"Ta ulang tahunnya Nisa kapan sih?" tanya Rindang tiba-tiba.
"Beberapa minggu lagi Rin, kalau nggak salah," jawab Okta. "Emang kenapa sih?" tanya Okta penasaran.
"Emma bagaimana kalau kita bikin kejutan buat Nisa,"
"Boleh tuh, tapi bagaimana konsepnya?"
Mereka membicarakan dengan serius bagaimana konsep yang akan mereka gunakan. Sampai mereka tak menyadari ada seseorang yang mencuri dengar. Ia berjalan menghampiri mereka.
"Boleh gabung?" Dhika muncul dari belakang.
"Oh... Kak Dhika. Boleh kak, silahkan," ucap Rindang.
Dhika bersender pada sebuah pohon di dekat mereka.
"Gue dengar mau bikin kejutan ulang tahun buat Nisa ya?"
"Loh kok lo tau Kak?" tanya Okta heran. Dia memandang Dhika dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sorry, gue gak sengaja dengar obrolan kalian."
"Iya kak, rencananya gitu," ucap Rindang.
"Gue boleh gabung nggak?"
Okta dan Rindang saling berpandangan mengirimkan sinyal-sinyal untuk bertanya dalam diam.
"Boleh deh Kak," ucap Rindang.
Mereka merundingkan lagi bagaimana rencananya nanti. Okta dan Rindang merombak rencana awal mereka.
*************
Setelah beberapa minggu tiba saatnya rencana itu akan dilancarkan. Dhika, Bagas, dan Ivan menunggu Okta memberi tahunya dimana mereka membawa Nisa pergi.
Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar. Dhika mengambil handphone dari sakunya, lalu membaca pesan masuk yang tertera di layar handphone nya.
"Oke kita ke cafe XXX sekarang," ucap Dhika.
Mereka segera melajukan mobil ke tempat tujuan mereka. Dhika berada di mobil yang sama dengan Bagas, sedangkan Ivan mengemudikan mobilnya sendiri.
__ADS_1
Sesampainya di cafe, mereka mencari tempat duduk yang tidak terlihat dari pandangan Nisa. Mereka juga menggunakan apapun untuk melancarkan aksinya seperti; Dhika menggunakan koran untuk menghalangi wajahnya agar tidak terlihat, Ivan menggunakan buku menu, sedangkan Bagas yang membelakangi meja tempat Nisa dan yang lainnya menggunakan topi.
Flashback off
Dhika menggendong Nisa untuk ia bawa ke mobilnya. Ia menidurkan Nisa di jok belakang mobilnya. Bagas ikut dengan mobil Dhika sedangkan Okta dan Rindang ikut dengan mobil Ivan. Dhika melajukan mobil ke rumahnya diikuti oleh mobil Ivan.
Sesampainya di rumah, Dhika menggendong Nisa. Tante Santi panik melihat Dhika menggendong Nisa. Namun Dhika memberi isyarat untuk tetap diam. Ia membawa Nisa ke kamar tamu. Sementara yang lainnya masuk ke rumah Dhika membawa berbagai macam pernak pernik untuk mendekor tempat yang akan digunakan.
"Jelasin, Nisa kenapa? apa yang terjadi dengannya Dhik?" Tante Santi menodong Dhika dengan pertanyaannya.
"Udah dulu Mi. Ayo ke depan dulu. Temen-temenku sudah menunggu tuh," ucap Dhika memegang pundak maminya. Dhika mengapit lengan maminya itu. Di ruang tamu, Tante Santi melihat mereka dengan tatapan aneh.
"Loh ini ada apa? Jelasin ke mami, kenapa mereka membawa banyak barang ke sini?" tanya Tante Santi.
"Loh Dhika belum bilang sama tante?" tanya Bagas, kaget dengan reaksi Tante Santi.
"Belum. Dasar anak nakal!" Tante Santi gemas dengan anaknya sendiri sampai ia memukul ringan lengan Dhika.
"Wahh parah lo Dhik, ckckck" ucap Ivan.
"Maaf Mi, lupa," ucap Dhika cengengesan.
"Memang ini ada apa?" tanya Tante Santi.
Dhika menjelaskan tentang rencana mereka detail. Ia juga minta ijin untuk menggunakan halaman belakang rumahnya untuk dekorasi kejutan Nisa. Tante Santi pun mengerti. Dia mepersilahkan mereka untuk melancarkan rencananya. Bahkan Tante Santi juga akan ikut andil dalam rencana mereka.
"Tapi kenapa kalian tega beri Nisa obat tidur? Kasihan kan Nisa sampai tak sadarkan diri seperti itu?" omel Tante Santi. Walaupun baru bertemu beberapa kali, namun ia sudah menganggap Nisa seperti anaknya sendiri.
"Haihh kenapa gue yang disalahkan? Bukankah lo pada juga setuju dengan ide gue?!" protes Ivan.
"Haiss kalian. Kalian semua salah. Udah tahu idenya kayak gitu masih aja tetap diikutin! Kamu juga Van. Kasih ide tuh mujur, belok mulu. Lain kali kalau mau buat rencana jangan begini. Kasihan Nisa sampai begitu. Mungkin kalau keluarganya tahu mereka bakalan marah sama kalian!" omel Tante Santi panjang lebar.
"Iya Tante,"
"Iya Mi,"
Jawab mereka bersamaan seraya menunduk. Mereka juga merasa bersalah. Namun bagaimana? Semuanya sudah terlanjur. Tak bisa diulang lagi.
"Sisa berapa lama lagi ini sebelum Nisa bangun?" tanyanya kemudian.
"Sekitar 2 jam lagi tante," ucap Okta dengan hati-hati, takut ucapannya salah. Dia masih menundukkan kepala.
Tante Santi menghampiri Okta dan merangkul pundaknya pelan.
"Gak usah seperti itu. Tante nggak marah, cuma apa ya? Kesal kali," ucap Tante Santi kemudian tertawa. "Cara kalian aneh-aneh aja."
Okta mendongakkan kepalanya. Ia melihat Tante Santi tersenyum ke arahnya. Okta membalas senyuman itu. Hatinya lega.
__ADS_1
"Anak cantik berdua ini namanya siapa? Baru kali ini Dhika bawa teman cewek main ke rumah kecuali Nisa yang dulu memang pernah datang ke sini secara tidak sengaja."
"Aku Okta tante,"
"Dan aku Rindang,"
"Aku Santi, panggil saja tante," ucap Tante Santi. "Sudah cepat sana. Keburu Nisa bangun," perintahnya.
"Tante disini saja mengawasi Nisa. Kalian yang anak muda yang mengurus semuanya. Orang tua terima beres saja," ucap Tante Santi. Semuanya tertawa mendengar ucapannya.
Tak berlama-lama mereka bergegas melangkah pergi ke halaman belakang.
Bunyi bel terdengar. Tante Santi yang kebetulan masih di ruang tamu segera menghampiri orang yang bertamu itu. Terlihat seorang pemuda berdiri membawa kue dan bingkisan.
"Maaf Mas, cari siapa ya?" tanya Tante Santi.
"Saya Setyo, kakaknya Nisa Bu. Saya ingin ikut memberikan kejutan untuk Nisa. Katanya acaranya didakan disini," ucap Setyo dengan sopan. Beberapa hari yang lalu Setyo diajak Okta untuk ikut memberikan kejutan di hari ulang tahun Nisa.
"Oh silahkan masuk Nak. Langsung saja ke halaman belakang. Mereka disana semua."
"Baik bu, terimakasih. Saya permisi,"
Setyo menuju ke halaman belakang rumah Dhika.
"Hai Mass!" teriak Okta antusias.
"Langsung sini aja mas," ajak Ivan.
Setyo segera menghampiri mereka. Dia menyerahkan kue yang ia beli untuk adiknya kepada Okra.
"Udah dari tadikah?" tanya Setyo.
"Belum mas, baru saja." jawab Bagas yang membawa balon.
Setyo mengangguk. Setelah itu dia mengedarkan pandangannya ke segara penjuru tempat itu, seperti mencari seseorang. "Dimana adekku?" tanya Setyo.
Mereka hanya diam dan saling berpandangan satu sama lain. Mereka takut Setyo marah jika mengetahui kebenarannya.
"Anu mas, Nisa tadi katanya ngantuk. Terus dia tidur dulu deh. Nah mumpung dia tidur kita menyiapkan semuanya deh termasuk mendekor tempatnya. Biar kejutan gitu," jawab Okta dengan gugup.
Setyo memicingkan matanya curiga dengan jawaban Okta yang ragu dan terlihat gugup. Okta pun semakin gugup. Begitu juga dengan Dhika, Bagas, dan Ivan. Pasalnya mereka tidak memberitahu rencana mereka secara detail.
"Iya Kak, memang tadi Nisa ngantuk pengin tidur sebentar." timpal Rindang, yang mengerti kegugupan Okta.
"Oh okelah, malah bagus itu. Rencana kita tambah lancar. Yaudah ayokk deh kita lanjut lagi persiapannya," ucap Setyo.
Karena ucapan Rindang, akhirnya ia percaya. Dia juga tahu kalau adiknya tipe orang yang kalau sudah mengantuk bisa tidur dimana saja, ya walaupun dia merasa ada yang janggal. Namun Setyo mengabaikannya. Toh mereka juga teman-teman Nisa, pikirnya.
__ADS_1
Dalam hati Okta sangat berterimakasih dengan Rindang. Dia lega, begitupun juga dengan yang lain. Okta paham kalau seandainya Setyo tahu, pastilah dia akan marah besar karena adiknya dikasih obat tidur.
Mereka melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda. Yang laki-laki mendekorasi tempat, yang perempuan menyiapkan kue dan peralatan serta bahan makanan untuk acara pesta barbeque. Itu acara tambahan dari Tante Santi.