
Mereka bertiga berjalan saling merangkul ke arah lapangan upacara. Demikian juga dengan yang lain. Suara pemberi instruksi yang telah terdengar, menggiring mereka untuk segera sampai.
Mereka berbaris rapi sesuai dengan kelas mereka. Pak Bambang, guru pembimbing kesiswaan menyampaikan pengumuman perihal kegiatan sekolah seminggu kedepan, sebelum liburan akhir semester berlangsung.
"Anak-anakku, hari ini telah berakhir masa Ujian Akhir Semester. Bagaimana perasaan kalian? Senang, lega atau bagaimana?"
"LEGAA!"
"Nahh pasti kalian merasakan itu. Tapi jangan senang dulu. Minggu depan masih akan diadakan perbaikan nilai bagi yang masih kurang. Yang merasa ada perobaikan, pesiapkan agar tidak sampai berulang kali mengulang. Tapi saya berharap kalian semua nilainya bagus jadi tidak ada yang perbaikan."
"Untuk seminggu ke depan selain diadakan perbaikan, sekolah akan menggelar acara festival serta lomba antar kelas. Untung kelanjutannya nanti akan disampaikan oleh ketua kelas kalian masing-masing. Kalian boleh kembali ke kelas. Jangan ada yang pulang sebelum ketua kelas menyampaikan pengumumannya. Paham?!"
"PAHAM PAK!"
"Oke sekarang kalian boleh meninggalkan lapangan upacara. Untuk ketua-ketua kelas tetap disini untuk menerima pengumuman dari saya!"
Semua siswa berhamburan menuju kelas masing-masing.
Nisa, Okta, dan teman sekelasnya menuju ke kelas mereka. Mereka berjalan dengan wajah lesu, tak bertenaga. Wajah kecewa mereka nampak karena mereka masih harus menunggu di sekolah.
"Haihhh malesnya! Ingin kupulang ke rumah rebahaaaannn!!" ucap Candy keras.
Nisa dan Okta yang kebetulan ada di sampingnya menutup kupingnya. Suara Candy yang keras dan cempreng cukup menyakitkan telinga yang mendengarnya. Namun bukan Candy namanya kalau dia sadar teriakannya sangat mengglegar.
"Kasur amicuuuuuu....mmmm!" ucapnya lagi namun sebelum ucapannya selesai, mulutnya dibekap seseorang.
"Nah diem gini kan enak Zani! Bisa budeg nih kuping sekelas denger suara cempreng lo itu setiap hari." ucap Adi yang masih membekap Candy.
Candy berusaha melepaskan bekapan Adi. Bekapannya cukup kuat. Karena kesal bekapan Adi tidak kunjung lepas, Candy menggigit telapak tangan Adi.
"Aaaww...!" Adi mengaduh kesakitan. Dia mengibaskan tangannya.
"Waaa parah lo! Selain Tarzani lo juga temennya peliharaan gue! Tanggung jawab lo Zani!" Adi kesal sekali. Ternyata gigitan Candy cukup menyakitkan.
"Kalau sampai gue rabies, gue bakalan cari lo. Mau gue gigit lo biar rabies gue pindah ke lo," ketus Adi.
__ADS_1
"Yeee yang ada gue nih yang dirugiin! Tangan lo penuh kuman bakteri iyuhh! Nyesel gue gigit lo!"
"Kalau gue mati karena gue keracunan kuman yang bersarang di telapak tangan lo, gue gentayangin lo sampai mati!" ancam Candy.
Anehnya perselisihan Adi dan Candy malah menjadi suatu hal yang sayang untuk dilewatkan.
"Eheem!" Okta berdehem cukup keras. Semua mengalihkan perhatiannya kepada Okta.
"Kayaknya ada yang jodoh nih kawan," goda Okta sambil menaik turunkan alisnya. Adi dan Candy langsung terdiam, menoleh, lalu melongo bareng mendengar penuturan Okta.
"Kita tunggu kabar baiknya ya," ucap Okta yang berlalu ke tempat duduknya sambil membekap mulutnya sendiri karena berusaha sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak kelepasan.
Adi dan Candy mencerna perkataan Candy. Setelah sadar mereka saling membelakangi.
"Ogah!!" ucap mereka berdua bersamaan.
"Ciyee, bener nih kalau jodoh gak kemana," goda Okta semakin menjadi. Semuanya tertawa bersama. Yang digoda semakin gak terima.
"Amit-amit gue dapet jodoh modelan lo Zani!"
"Apa lagi gue?! Yang ada gue gila kalau berada seatap dengan lo!"
"ckckck Ta, Ta."
"Haihh lo tu ya Ta.... " ucap Adi terjeda saat Samuel, ketua kelas mereka sudah masuk. Sam membawa secarik kertas berisi tentang pengumuman yang ingin dia sampaikan.
Semua siswa kelas itu segera diam mendengarkan pengumuman yang Sam bawa. Mereka ingin segera pulang.
"Dengarkan baik-baik ya kawan. Jangan ada yang menyela selagi aku belum selesai berbicara." Sam menatap mereka ke semua penjuru.
"Seperti yang disampaikan sedikit oleh Pak Bambang tadi, minggu depan sebelum penerimaan raport, kita ada perbaikan nilai bagi yang masih belum lolos. Kedua, sekolah kita akan mengadakan festival tahunan. Kegiatan festivalnya adalah bazar dan lomba antar kelas. Nah kelasnya itu nanti gabungan, perkelompok itu 3 kelas. Kita gabung dengan kelas X BM 1 dan kelas senior kita, XI BM 2."
"Untuk bazar kita diberi kebebasan dari pihak sekolah. Nah untuk kita, kami memilih bazar makanan, buku bekas, pernak pernik dari kerajinan tangan masyarakat sekitar......" Sam menjelaskan panjang lebar soal bazar.
"Sedangkan lomba yang diadakan itu ada 2. Yang pertama lomba 'Ratu Sekolah', yang kedua lomba menyanyi duet. Nah dari hasil musyawarah perwakilan ketua kelas tadi, lomba ratu sekolah diambil dari kelas X BM 1, untuk duetnya kita mengajukan 1 siswa cowok dari XI BM 2 sedangkan yang cewek dari kelas kita. Nah disini siapa yang sukarela bersedia?" tanya Sam. Semua diam, tidak ada yang bersukarela mengusulkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sam melihat ke semua penjuru. "Ada yang punya usul siapa? tanya Sam. Namun masih tidak ada yang menanggapi.
Sebenarnya Okta ingin mengusulkan Nisa. Suara Nisa tergolong suara merdu. Namun Nisa tidak akan setuju kalau dia yang mengusulkan. Okta memutar otaknya agar bisa menemukan cara bagaimana membuat Nisa mengusulkan dirinya.
Okta menggerakan tangannya ringan. "Eh Nis coba deh angkat tangan lo. Ngerasa kebas nggak?" ucap Okta.
"Emang kenapa Ta?"
"Tak tau juga Nis. Coba deh angkat tanganmu."
Nisa benar-benar mengangkat tangannya.
"Enggak kebas tuh Ta," ucap Nisa kemudian menurunkan tangannya.
Sam melihat Nisa mengangkat tangannya.
"Ya sudah. Sudah diputuskan kalau Nisa yang mewakili kelas kita untuk lomba duet. Segera temui partner duetmu untuk mempersiapkan lagu dan latihannya."
Nisa melongo tak percaya saat mendengar ucapan Sam. Dia menatap kesal Okta. Nisa merasa telah dijerumuskan Okta. Namun yang ditatap hanya menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya sambil tersenyum penuh permintaan maaf.
"Tapi Sam, aku gak bisa," ucap Nisa.
"Kenapa Nis?"
"Kan masih ada yang lain yang bersuara bagus. Lagian aku tidak terbiasa dengan orang banyak."
"Lah kan kamu tadi mengangkat tanganmu secara sukarela," ucap Sam heran.
"Tidak, tapi itu..." ucapan Nisa terpotong oleh Okta.
"Ayolah Nis, suara lo bagus loh. Masak iya suara bagus gak mau dimanfaatkan?" sahut Okta.
"Nah aku setuju. Untuk di panggung kan kamu juga gak akan sendiri. Ada dari kelas Xi BM 2,"
"Tapi...."
__ADS_1
"Udah Nis gak apa. Yakin bisa kok. Iya gak teman-teman?" ucap Sam. Semuannya mengiyakan ucapan Sam. Dan sudah diputuskan bahwa Nisa partner duetnya. Mau tidak mau Nisa harus mau.
Setelah selesai menyampaikan pengumuman, Sam mempersilahkan teman-temannya untuk pulang.