
"Mau ikut kita tidak?" ajak Ivan dengan ekspresi datar. Bahkan tak menatap sedikitpun.
Awalnya ia enggan untuk mengajak manusia di depannya itu. Ia terlalu kecewa akan apa yang telah dilakukan oleh manusia di depannya itu. Kalau saja Bagas tak menyuruhnya, mungkin ia lebih memilih jalan berdua dengan Bagas.
Ivan menghela napas kasar. "Sialaan Bagas!" gerutunya.
Sementara itu, Dhika melirik ke arah Ivan yang berdiri di depannya itu.
"Gak usah ngajak kalau gak ikhlas!" ujar Dhika malas. Tak bisa dipungkiri, perlakuan sahabatnya itu menyentil hatinya.
"Mau apa kagak? Tinggal jawab singkat doang repot amat!" ujar Ivan kesal.
"Gak!"
Tidak ada babibu, Dhika langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan Ivan sendirian di ruang tamu.
"Eehh! Enak saja nylonong gitu aja!" omel Ivan. "Mau kemana kau?!"
Ivan mencoba menghadang langkah Dhika yang tidak mau menghentikan langkahnya.
Ivan merentangkan tangannya, menghadang langkah Dhika.
"Apa sih mau lo?!" ujar Dhika yang kesabarannya sudah di ambang batas.
"Harus ikutt!!" paksa Ivan.
"Gila lo!"
"Gila juga temen lo."
"Sejak kapan?! Elo sendiri kan yang udah gak mau?"
__ADS_1
"Kapan?" Ivan pura pura lupa. Ia berkilah seolah tidak melakukan apapun. Dasar biadaab.
Dhika menghela napas kesal. "Terserah!"
Dhika menerobos begitu saja. Hal itu membuat Ivan panik. Bagas akan memarahinya jika ia datang tanpa Dhika.
"Ck ngambekan amat kau Dhik! Udahlah! Mau sampai kapan kita begini. Gak kangen apa, kita ngumpul bareng? Tega lo Dhik!"
"Mulai... mulai?! Playing victim lo!" Dhika memutar bola matanya malas.
"Astaghfirullah ... Berikanlah kekuatan pada hamba-Mu ya Allah. Hati hamba tersakiti."
"Cuiiih! Najis! Doa orang macam lo palingan juga nyangkut di tiang listrik!" ejek Dhika.
Ivan menggelengkan kepalanya. "Wah wah bener bener ya. Virusnya Bagas merajalela. Lama-lama aku jadi korban bullying." Ivan mengelus dadanya keras keras.
"Sana pergi! Gue mau tidur!"
"Maksa amat sih lo?!"
"Emang."
"Idihh!" Dhika kesal sembari memalingkan wajahnya.
"Pergi gak?!" ancam Dhika.
Ivan menggeleng tegas. Ia harus berhasil membawa Dhika bersamanya.
"Batu."
"Biarin, wllek!" Ivan memeletkan lidahnya.
__ADS_1
Tanpa diduga, Ivan memeluk Dhika.
"Gilak lo! Lepas gak?!" Dhika geli dipeluk sesama jenisnya seperti itu. Apa kata dunia kalau ada yang melihat posisi mereka. Sungguh, kesabarannya saat ini diuji.
"Harus mau dulu," pinta Ivan kayak anak kecil.
Dhika menghela napas dalam–dalam. "Hmm"
"Weh? Apa?" ujar Ivan dengan mata yang mengharapkan apa yang ia dengar itu benar.
"Udah ah! Menyingkir! Enek gue dipeluk. Hiii..." Dhika mendorong Ivan sembari bergidik ngeri. Ia berlalu ke kamarnya untuk bersiap–siap.
🍂
"Ngapain sih ke sini? Kayak anak kecil aja. Lihat noh! Lihat noh!" geruntu Dhika sembari menunjuk beberapa wahana yang isinya anak kecil semua. Sebenarnya bukan karena ia tidak suka. Namun ia suka saja cari gara–gara. Ia masih sakit hati mendengar ucapan kedua sahabatnya yang memojokkan nya waktu itu.
"Sensi amat, Pak! Gampang tua loh," ledek Ivan.
"Untung lo ikut Dhik. Kalau enggak, bisa bisa gue dikira pacaran sama tu manusia." Bagas menunjuk Ivan dengan dagunya.
"Amit-amit! Lo lihat aja tingkahnya. Ingin sekali ku menguburnya hidup-hidup!" ujar Bagas tanpa sedikitpun matanya beralih menatap ke Ivan yang tengah tebar pesona pada sekumpulan gadis SMA.
"Ck, dah tau dia rada-rada." Dhika menyunggingkan senyumnya.
"Thanks ya. Maafin gue," ujar Bagas tulus.
Dhika nengangguk ringan. "Maafin gue juga."
Tanpa basa basi lagi, Bagas merangkul pundak Dhika dari samping. Mereka berjalan meninggalkan Ivan yang asik sendiri.
"Eh eh tunggu!" Ivan berlari menyusul kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
Sejauh apapun mereka bertolak melangkah, mereka akan segera kembali. Tak ada yang bisa menghindar satu sama lain. Dhika yang pintar dan dewasa, Bagas yang bijaksana meski kadang oleng, dan Ivan sebagai peramai hubungan mereka.