
Nisa berjalan di karidor sekolah. Ia mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, melihat suasana kala itu. Banyak siswa-siswi yang berseliweran, kesana kemari menunggu jam sekolah mereka selesai. Ada juga yang mengobrol di gasebo taman. Nisa menghela napas dengan garis lengkung yanh terlukis di wajahnya.
Ruang Musik
Dua kata itu tertera pada papan nama ruangan di depannya. Ia mengintip dari jendela untuk memastikan apakah Dhika sudah datang atau belum. Dia berusaha berjinjit untuk mengimbangi tinggi jendelanya, karena tingginya memang tidak seberapa.
Dari luar ia melihat ada seorang anak laki-laki memegang gitar akustik. Anak laki-laki itu menundukkan kepalanya. Tangannya sibuk memutar alat pemutar yang terletak di kepala gitar akustik. Kepalanya sedikit ia miringkan untuk mendengarkan keselarasan nada setiap dawai yang ia petik.
Suara petikan gitar terdengar dari dalam ruangan itu. Dhika mulai menggenjreng ringan gitar ditangannya sambil menegakkan kepalanya. Merasa diamati seseorang, ia menoleh ke arah jendela. Ia melihat Nisa keberadaan Nisa. Dhika melambaikan tangannya sambil tersenyum, menyuruh Nisa untuk segera masuk ke dalam ruangan. Air muka sumringah terlihat jelas di wajahnya.
Nisa membuka pintu ruangan itu, berjalan ke arah Dhika. Tidak lupa ia menutup pintunya kembali agar suara mereka tidak menggema dari luar ruangan. Ruangan itu terbagi menjadi dua. Di ruangan yang mereka tempati merupakan ruangan untuk menyimpan alat musik yang mudah dipindahkan sedangkan ruangan yang satunya merupakan ruangan kedap suara.
"Wihh kakakku semakin tampan saja. Apa jangan-jangan nih gitar ada semar mesemnya nih?" gurau Nisa.
"Ada-ada aja Nis." Dhika tertawa.
"Udah lama?"
"Belum juga sih. Ngapain lo nggak langsung masuk saja, malah ngintip dari sana segala lagi?"
"Hehe kan mastiin dulu kakak udah datang atau belum," jawab Nisa yang masih berdiri.
"Haihh alasan. Bilang aja takut," ledek Dhika. Nisa tertawa, karena asumsi Dhika tepat.
"Sebentar," Dhika menyeret satu kursi lagi untuk Nisa lalu ia letakan di depannya.
Nisa segera duduk di kursi yang disediakan Dhika. Mereka duduk berhadapan, berdiskusi lagu apa yang cocok untuk mereka bawakan.
Sementara itu Cecil baru saja selesai perbaikan matematika. Muka kusut terlihat jelas karena kesulitan untuk menjawab soalnya. Ia berjalan menghampiri Jeje, Rere, dan Lala yang sedang mengobrol di gasebo.
"Gimana tadi Cil?" tanya Rere.
"Ya masih sama. Susah sih, tapi bodo amat lah yang penting gue sudah perbaikan," ucap Cecil santai.
__ADS_1
"Je, Re, La, muka gue berantakan nggak?" heboh Cecil.
"Udah Cil, rapi kok," jawab Rere untuk menenangkan Cecil. Namun bukan Cecil namanya kalau langsung puas. Ia tidak puas dengan jawaban Rere sebelum ia melihatnya sendiri.
"Gue gak percaya. Ayok temenin temenin gue ke toilet," ajak Cecil. Jeje memutar bola mata malas.
"Hedeh Cil, kalau nggak percaya ngapain nanya?" protesnya.
"Suka-suka guelah!" jawab Cecil seenaknya.
Mereka berempat berjalan menuju toilet. Sampai Lala berhenti di depan sebuah ruangan. Ia mendengar suara orang bernyanyi dari dalam ruang musik. Suaranya merdu, menyejukkan siapapun yang mendegarnya.
"Eh kemana Lala?" ucap Rere yang baru menyadari kalau Lala sudah tidak berjalan disampingnya.
"Itu orangnya." Jeje menunjuk ke arah Lala yang berdiri di depan ruang musik sambil memejamkan matanya, seperti sedang menikmati sesuatu yang didengarnya.
"La, ngapain lo di situ?" tanya Cecil. Lala membuka matanya lalu menyuruh mereka bertiga mendekat ke arahnya.
"Apaan sih La?" tanya Rere.
"Coba deh kalian dengarin suara samar- samar dua orang bernyanyi dengan iringan gitar dari dalam ruangan ini. Merdu deh suaranya."
Cecil penasaran itu suara siapa. Ia berjalan ke arah jendela lalu menjinjitkan kakinya agar bisa melihat siapa orang yang ada di dalam. Seketika rahangnya mengeras, tangannya menggenggam erat hingga buku-buku jari tangannya memutih.
"Kurang ajar!" umpatnya.
Jeje, Rere, dan Lala penasaran kenapa raut muka Rere berubah dan umpatan terdengar dari mulut Cecil. Mereka ikut mengintip. Akhirnya mereka mengetahui penyebab marahnya Cecil. Ada dua orang di dalam sana. Dan yang mereka lihat, dua orang itu adalah Nisa dan Dhika. Nisa yang bernyanyi diiringi oleh Dhika dengan alat musik gitar ditangannya.
"Pantesan Cecil muntab" ucap Rere.
*muntab \= marah besar.
"Wah wah wah gak bisa dibiarin nih," ucap Jeje memprovokasi.
"Aduhduh so sweet sekali mereka," ucap Lala yang dihadiahi senggolan dan tatapan tajam dari Rere. Seketika Lala terdiam.
Cecil meninggalkan tempat itu dengan rasa marah yang besar sedangkan yang diintip masih melanjutkan aktivitasnya tanpa terganggu dengan kehadiran Cecil dan sahabat-sahabatnya. Karena mereka tidak menyadarinya.
__ADS_1
Jrenggggg
Dhika mengakhiri lagunya dengan satu genjrengan. Mereka tertawa bersama, saling melempar senyum satu sama lain.
"Akhirnya jadi juga lagunya," ucap Nisa sambil tersenyum.
"Haah ternyata susah juga lagunya." Nisa menoleh ke arah Dhika. Dia melihat Dhika sedang memandanginya sambil tersenyum.
Nisa salah tingkah dipandangi Dhika seperti itu. Nisa mengamati dirinya sendiri, meneliti apakah ada yang salah dengan dirinya. Namun ia tidak menemukan kejanggalan pada dirinya.
"Apa ada yang salah dengan diriku kak?" tanya Nisa bingung.
Dhika terkekeh melihat tingkah Nisa. "Enggak Nis, enggak ada yang salah kok. Yang ada gue kagum. Gak nyangka ternyata suara lo semerdu itu," puji Dhika yang membuat Nisa tersipu.
"Aduh kak, jangan gitu. Aku masih belajar kok. Suara kakak juga bagus, lebih berkualitas lagi. Mana kakak ahli gitar juga," puji Nisa terang-terangan.
"Dan aku harus menyiapkan mental lebih ini," ucapnya lagi.
"Kenapa?" Dhika penasaran.
"Ya kan... sudah dipastikan para cewek akan berteriak histeris melihat kamu kak. Kan kakak tahu sendiri kalau kakak itu the most wanted. Aku yang hanya remahan peyek berduet dengan kakak si pangeran sekolah. Takutnya nanti aku malah dibully lagi sama mereka yang terpikat pesonamu Kak," ucap Nisa kemudian tertawa. Ia tidak menyadari perubahan wajah Dhika yang semula tersenyum jadi terdiam. Pandangan matanya sendu mengamati Nisa yang sedang tertawa.
"Bagaimana denganmu Nis? "
"Memang lo sendiri gak terpikat?" Dhika melontarkan pertanyaan untuk memancing respon dari gadis di depannya itu.
"Haihh kak, aku udah biasa kalik melihat kakak. Jadi ya gimana?" ucapnya masih tertawa.
"Segitunya arti gue di hidup lo Nis? Bisakah lo melihat ke arah gue Nis? "
Dhika hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Ia belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya karena ia sendiri masih bingung menganggap Nisa sebagai apa. Tentu saja Nisa tidak akan pernah tahu karena Nisa bukan cenayang.
"Yakin nih gak terpikat?" Dhika masih terus mengejar Nisa dengan pertanyaannya untuk mendapatkan jawaban.
"Haha yakinlah kakak tersayang. Udah deh kak, aku mau pulang dulu," pamit Nisa.
__ADS_1
Dengan entengnya Nisa berjalan meninggalkan ruangan itu, menyisakan Dhika seorang diri. Nisa tidak menyadari maksud yang tersirat dari ucapan Dhika untuknya. Dhika memandang punggung Nisa yang semakin menghilang dari pandangannya.