Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Diculik??


__ADS_3

Di Negara A, Yosse bersiap untuk pulang ke rumah. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 16 jam. Diperkirakan ia akan sampai ke Indonesia Sabtu sore.


"Hahh gue kangen banget sama kalian." Yosse memandangi foto keluarganya yang ia pegang. Lalu ia meletakkan kembali. Dia membalikan badan mengarah ke dinding dekat meja belajarnya. Ia melihat fotonya bersama sahabat-sahabatnya.


"Apakah kita akan terus begini? Akankah bisa kembali seperti semula?" tanyanya dalam hati ketika mengingat kejadian yang membuat mereka terpecah.


************


Weekend adalah hari yang ditunggu-tunggu semua orang untuk melepas penat setelah melakukan rutinitas padat sehari-hari. Bagitu juga dengan Nisa.


Saat ini dia ingin bermalas-malasan di rumah. Mendengarkan musik dengan headset dan membaca buku adalah hobinya.


"Nissa!"


Terdengar suara teriakan Bu Tin dari luar kamarnya. Nisa melepas headset yang ia pakai lalu membukakan pintu untuk mamaknya.


"Iya Mak?"


"Astaga, pantesan dipanggil dari tadi tidak nyahut." Mamak berdecak.


"Hehehe maaf. Ada apa Mak?"


"Itu kamu dicariin Okta sama temenmu satu lagi mamak lupa namanya. Udah dari tadi."


"Oke mak, suruh mereka menunggu sebentar mak."

__ADS_1


"Heem, cepetan tapi. Kasihan mereka kelamaan menunggu!"


"Siyap Mak Bos!"


Nisa segera masuk ke dalam kamarnya bersiap untuk menemui sahabatnya itu.


"Hai Ta, Rin. Tumben kalian ke rumah?" tanya Nisa ketika sampai di ruang tamu.


"Tumben-tumben, haihh udah kesini malah dikatain tumben," ucap Okta berpura-pura menekuk wajahnya.


"Uluh-uluh sahabatku yang ngambekan," ucap Nisa dengan wajah imutnya.


"Gini Nis. Mumpung ini weekend, kita jalan-jalan yuk!" ajak Rindang.


"Boleh. Tapi bentar gue siap-siap. Belum mandi soalnya," ucap Nisa cengengesan.


"Biarin dah biarin. Tapi jangan salah Ta, Rin. Sekali nyantol paling dia susah move on. Kan aroma tubuhku beda dari yang lain," ucap Nisa sambil berlalu menuju kamarnya.


"Iyuhh Nis!" teriak Okta. Rindang hanya tertawa melihat keakraban mereka.


Tak sampai hitungan 15 menit Nisa telah usai.


"Nis kamu tadi mandi atau cuci muka doang?" tanya Rindang heran. Baru kali ini dia membuktikan secara langsung definisi orang apalagi cewek yang mandi kilat.


Nisa memanyunkan bibirnya. "Ihhh dari tadi kalian komen mulu. Lambat salah cepet salah. Terus yang bener apa nih?"

__ADS_1


Okta dan Rindang terkekeh. Mereka berangkat ke tempat tujuan mereka.


Setelah beberapa waktu sampailah mereka di sebuah cafe. Nisa mengikuti mereka masuk dengan ragu.


"Emm.. Ta, Rin. Beneran kita kesini?" tanya Nisa.


"Iya bener Nis. Kenapa?" ucap Okta.


"Aduh Ta, aku gak punya uang buat makan disini," cemas Nisa yang berbicara dengan volume lirih.


Rindang mencuri dengar ucapan Nisa pun angkat bicara, "Tenang Nis, kita yang traktir."


"Tapi aku gak enak sama kalian. Setiap kali jalan selalu kalian yang traktir aku," ucap Nisa.


"Haihh lo itu seperti sama siapa saja. Udahlah santai. Ayok masuk!" Okta menyeret tangan Nisa agar masuk bersamanya. Tak kalah, Rindang juga ikut menyeret tangan Nisa.


Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela yang mengarah pada sebuah danau.


Tak berapa lama pesanan mereka sampai. Mereka menyantap makanan mereka dengan tenang.


"Ta, Rin kenapa aku merasa ngantuk sekali?" ucap Nisa lemas.


"Aku mau tidur sebentar ya, nanti kalau sudah 10 menit bangunkan aku,"


Okta dan Rindang mengangguk. Tak lama kemudian Nisa tertidur.

__ADS_1


Okta dan Rindang saling berpandangan dan tersenyum penuh arti. Rupanya mereka yang telah meminta pelayan cafe untuk memasukkan obat tidur ke dalam makanan dan minuman Nisa.


Tiga orang laki-laki yang bersembunyi untuk menguntit mereka, keluar dari tempat persembunyiannya. Salah satu dari mereka menggendong Nisa dan memasukkannya ke dalam mobilnya untuk ia bawa.


__ADS_2