
Room chat group 3 JS (3 Jomblo Sementara) yang sudah jelas dibuat oleh Ivan yang agak gesrek dan beranggotakan Dhika, Bagas dan Ivan.
"Heii bro I'm coming coming" chat dari Ivan muncul pertama kali.
"Comang coming.. ngapain lo? kesepian?" balas Bagas.
"*Wahh lo tuh kalau ngomong ya!"
"Suka bener 🤣🤣*" balas Ivan.
"Cihh 😒" balas Bagas.
"Napa? Lo sirik Britgas?" balas Ivan.
"Ngapain gue sirik ma lo? Sirik sama lo itu malu - maluin Van. Lo aja udah gak mampu, gue mau jadi apa? Sudah jelas gue terlalu berharga buat sirik sama lo Van HAHAHAHAHAHAH" ejek Bagas.
"😖😖 tega amat lo sama dedek tersayang lo ini Gas" balas Bagas.
Balasan Ivan menjadi chat terakhir di group 3 JS itu. Ketika obrolan sudah nglantur, Bagas memilih untuk mengabaikan Ivan. Kalau dijabanin bakalan nggak kelar - kelar.
Ting ting ting ting
Beberapa notifikasi muncul di layar Dhika. Dengan malas Dhika melihat siapa yang spam chat.
"wooii"
"yuhuuu"
"Kemanakah kau darling darlingku?"
"Haiss pada kemana sih kalian ha?"
"Mbuh lah mbuh" (terserah lah terserah)
Ternyata pengirim pesan spam itu tak lain adalah Ivan.
"Hais dari bocah tengik ternyata," gumamnya.
"Hei kalian, teganya lo pada cuma baca chat gue, tanpa balasan lagi. Sakit hati adek abang 🤧" balas Ivan lagi.
Namun tak ada balasan baik dari Dhika maupun Bagas.
"Yaaaaa! Bener nih gue gabut. Pada mau keluar gak sih? Ke bar atau kemana gitu kek?" chat Ivan lagi serius.
"Pumpung malem minggu nih" imbuhnya.
"Boleh lah kalau gitu." balas Bagas.
"Gimana lo Dhik?" imbuhnya.
"Ngikut." balas Dhika.
Obrolan mereka berlanjut. Bar menjadi tempat pilihan mereka menghabiskan malam minggu mereka. Mereka ingin bermain billiard. Sudah lama mereka tidak melepas penat ke tempat itu untuk bersenang - senang.
Mereka bermain billiard hingga dini hari. Begitulah mereka memanfaatkan waktu weekend mereka.
********
__ADS_1
Lain lagi dengan Nisa dan Okta. Okta menelpon Nisa untuk main ke rumahnya di Hari Minggu. Mereka ingin bercerita kesana kemari.
"Permisi, Okta," Nisa memanggil Okta.
"Sebentar mbak," teriak seseorang dari dalam rumah.
ceklek
Pintu terbuka. Mbak Susi, pembantu rumah tangga Okta membukakan pintu. Dia mempersilahkan masuk Nisa untuk menemui Okta di kamarnya.
Suasana rumah mewah bercat putih dengan desain elegan tak luput dari penglihatan netra Nisa. Walaupun Nisa anak dari pasangan yang sederhana, kemewahan rumah Okta sudah bukan menjadi hal baru baginya. Dia sudah sering main ke rumah Okta.
"Pakdhe, Budhe," Nisa mencium punggung tangan orang tua Okta yang menghampirinya.
"Eh Nisa, apa kabar? Kemana aja? Kok baru main lagi?" tanya papa Okta.
"Hehe nggak kemana - mana Pakdhe, cuma belum sempat saja" jawab Nisa.
"Padahal Budhe kangen loh Nisa" ucap mama Okta sambil mengelus rambut Nisa.
Nisa mengulas senyum. Kedua orang tua Okta sangat akrab dengan Nisa. Mereka telah menganggap Nisa seperti anak mereka sendiri.
"Mau cari Okta ya?" tanya Mama Okta.
Nisa menganggukan kepala.
"Iya Budhe," jawab Nisa kemudian.
"Ya sudah sana ke kamarnya langsung saja. Dia ada di kamar. Seret dia Nis biar kerjaannya gak rebahan mulu," ucap Papa Okta. Lalu mereka semua tertawa bersama.
"Budhe sama Pakdhe tinggal ke depan ya," ucap Mama Okta ramah. Nisa menganggukkan kepala dan tersenyum, mempersilahkan orang tua Okta menikmati waktu berdua mereka.
"Oktaa," ucap Nisa yang masuk ke dalam kamar Okta.
"Hai Nis sini," Okta bangun dari posisi rebahannya.
"Uluh uluh cayangku cintaku," ucap Nisa sambil menguyel - uyel kedua pipi Okta. Nisa dihadiahi bibir Okta yang mengerucut. Nisa menertawainya.
"Hahaha ada apa sih Ta, tumben suruh aku main ke rumah?" ucap Nisa masih tertawa.
"Ihh Nisa ih," geruntu Okta. Nisa semakin tidak kuat telihat raut muka Okta yang sedang cemberut.
"Haha gimana - gimana, ada apa?" ucap Nisa serius.
"Hehe nggak ada apa - apa sih," Okta malah cengar cengir.
"Gue cuma mau gibah" imbuhnya berbisik.
"Etdah Ta, gibah doang?? Tahu gini aku lebih milih rebahan di rumah Ta," canda Nisa tapi malah mendapatkan timbukan bantal dari Okta.
"Hahaha Ta Ta. Canda doang kali," ucap Nisa disisa tawanya.
"Roman - romannya bukan sekadar roman picisan nih," Nisa menyindir Okta.
"Bukannya Roman itu pakenya topi ya? Udah ganti pake peci toh?" canda Okta.
"Topinya gak ketemu Ta, udah dipake sama si botak katanya," sahut Nisa. Mereka berdua tertawa terpingkal.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka berhenti tertawa. Mereka cukup kesullitan menghentikan tawa mereka. Bagi mereka itu sangat lucu. Padahal kalau dipikir, dimana letak kelucuannya? haahh author pun tak tahu. Hanya mereka berdua dan Tuhan saja yang tahu. eyaakkk 🤣
"Eh Nis, lo inget nggak 3 cowok yang bantuin lo?" tanya Okta.
"Hmm," gumam Nisa mengiyakan.
"Kenapa itu cowok terlihat ganteng banget yah," Okta membayangkan wajah Bagas yang belum Okta ketahui namanya.
"Siapa Ta? Yang mana? Kan kemarin ada 3 cowok," ucap Nisa.
"Itu Nis yang nempiling temennya," kata Okta lagi.
"Hehh?? Yang mana? Aku gak lihat plus lupa lagi," jawab Nisa terkekeh.
"Yee lo Nis. Lo sih. Jangan - jangan kemarin lo terpana yah sama senior kita yang datarnya kek tembok, ketusnya sekeras batu?" selidik Okta.
"Yee mana ada begitu!" kilah Nisa. Padahal sedikit banyak dia juga terpana dengan ketampanannya.
"Kan siapa tahu kan yah," ucap Okta menggoda Nisa.
"Ya nggak lah. Atau yang kamu maksud Kak Dhika ya? Secara dia tampan," ucap Nisa.
"Ciyee yang sudah gas poll, dah tahu namanya lagi," goda Okta.
"Hahaha resek kau Ta, mendingan aku dah langsung tahu. Nah kalau kamu?" ejek Nisa.
"Hei heii kawan, tunggu tanggal mainnya," ucap Okta.
"Kenapa nggak Kak Dhika saja?" tanya Nisa.
"Cihh. Mana mau gue sama orang kek gitu, udah datar ketus lagi. Bisa gila gue," ucal Okta.
"Kan siapa tahu kan yah," ucap Nisa menirukan omongan Okta.
"Huwaa mas adek meleleh mas," ucap Okta membayangkan hal hal romantisnya Bagas.
Mereka berdua tertawa lagi. Disela tawanya, Okta memanggil Mbak Susi untuk mengambikkannya minuman dan camilan.
"Btw Nis, tempo hari gimana? Ditanyain macem - macem nggak sama ortumu atau mas mu saat melihatmu pulang dengan baju berukuran king size ?" selidik Okta. Okta penasaran reaksi keluarga Nisa saat melihat keadaan Nisa.
"Untungnya tidak Ta. Mereka gak ada di rumah sih Ta waktu aku sampai rumah," Nisa mengingat kejadian yang di alami setelah sampai rumahnya.
"Kalau sampai mereka ada terus nanya aku pasti juga bingung cari jawaban yang tepat. Nggak mungkin juga aku bilang kalau itu perbuatan Cecil," ucap Nisa. Nisa tidak bisa membayangkan betapa sedih dan khawatirnya orang tua Nisa kalau sampai tahu anak mereka dibully orang lain.
"Mereka tahu jelas sejarah pastinya bagaimana hubungan aku dengan Cecil sebelumnya. Pasti mereka khawatir kalau aku kasih tahu mereka," imbuhnya. Okta setuju dengan pernyataan Nisa.
"Bener Nis, bener banget," ucap Okta. Dia merentangkan tangan lalu memeluk Nisa. Dia ingin menegaskan kepada Nisa bahwa dia akan selalu ada bersamanya.
Mereka melanjutkan pembicaraannya ngalor ngidul gak selesai - selesai. Bagi mereka curhat dan berbicara panjang lebar adalah cara mengasikan untuk menghabiskan waktu weekend mereka ketika senggang.
"Nis gabut gak?" tanya Okta melepaskan pelukannya. Dia menatap sahabatnya itu.
"Lumayan nih Ta," jawab Nisa.
Seketika itu juga Okta mengajak Nisa untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Okta pengin main sepuasnya di sana, pengin shopping sepuasnya mengganti shopping yang belum terlaksana beberapa minggu ini.
"Jangan lupa ajak Rindang Ta biar tambah seru," usul Nisa.
__ADS_1
Okta menghubungi Rindang untuk mengajaknya pergi bersama.