
Sesuai dengan janji mereka, Okta dan Rindang akan pergi ke rumah Nisa untuk menjemput Nisa pergi ke pasar malam. Kali ini, Rindang menaiki taxi untuk pergi ke rumah Okta.
"Ta, aku udah jalan ke rumahmu," ucap Rindang dengan Okta yang tengah menelponnya.
"Oke, aku tunggu ya. Cepetan! Keburu kemalaman nanti Rin!"
"Iya iya! Bawel deh ah!"
"Biarin!"
"Baiklah sono kamu siap–siap. Bentar lagi aku sampai."
Setelah itu, Rindang mematikan teleponnya. Ia tersenyum di akhir teleponnya. Ia tak menyangka akan mendapatkan sahabat seperti Okta dan Nisa di sekolahnya. Ia bersyukur di dalam hatinya.
Dering telepon terdengar lagi dari benda pipih di tangannya. Tertera nama nama mamanya di layar handphone nya.
"Hallo, Ma," sapa Rindang pada mamanya.
"Rin, kamu hari ini tidak pulang?"
"Tidak, Ma. Rindang ada acara pergi bersama ke pasar malam dengan sahabat Rindang, Ma."
"Baiklah. Hati–hati Rin."
Setelah itu, panggilan diakhiri oleh namanya. Ia meletakkan kembali handphone–nya di sling bag yang ia bawa.
****
Dudududu
Nisa bersenandung ria sambil bersiap–siap diri karena kedua sahabatnya akan menjemputnya untuk pergi ke pasar malam. Ia menggunakan outfit seadanya. Kaos oblong berwarna kuning, dengan celana jins berwarna hitam. Ia menguncir rambut sebahunya.
"Tumben ya mereka telat jemputnya," ucap Nisa heran. Sudah lima belas menit ia menunggu sesuai waktu yang telah mereka sepakati, namun Okta dan Rindang tak kunjung datang.
__ADS_1
"Jadi nggak sih ini?" keluh Nisa kemudian.
"Ngapain Dek kamu mondar mandir kaya seterikaan baju kusut?" tanya Setyo ketika melihat adiknya ini tidak bisa diam. Pemandangan ini sangat mengganggu penglihatannya.
"Itu, Mas, aku nungguin Okta sama Rindang buat pergi ke pasar malem. Tapi mereka lama sekali nggak datang–datang."
"Udah deh, ditunggu aja. Bentar lagi kalik!"
Nisa mengangguk. Namun tetap saja ia tidak bisa diam. Ia masih saja mondar–mandir seperti tadi. Setyo hanya menepuk jidatnya itu.
"Dek berhenti napa? Pusing aku lihatnya!"
"Ya...udah, Mas. Tinggal jangan lihat aku. Bereskan?"
Demi apapun itu, kata–kata yang terucap dari bibir Nisa terdengar begitu menyebalkan di telinga Setyo. Ia berjalan menghampiri Nisa yang belum berhenti, lalu memegang kedua pundak Nisa. Ia mendorong Nisa sampai di depan sebuah kursi. Setyo membalikan badan Nisa menghadapnya kemudian mendudukan Nisa secara paksa di kursi itu.
"Perfect! "
Nisa melirik kesal kepada kakaknya itu. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Iya–iya!" sahut Nisa ketus.
"Good sister! "
Setyo mengacungkan jempolnya ke depan wajah Nisa, tepat mengenai hidung Nisa.
"Iiih, Mas! Sakit tauk! Sono ah masuk!" Nisa mengusir Setyo. Tidak baik baginya jika kakaknya itu masih di sana.
"Ganggu aja!" gerutunya kemudian.
Bukannya tersinggung, Setyo malah tertawa terbahak–bahak. Suatu kesenangan tersendiri saat ia mengganggu adik satu–satunya itu. Ia berjalan ke dalam rumah dengan tawa yang masih mengglegar.
"Awas, Dek! Tumbuh lumut di badanmu!" teriak Setyo dari dalam rumah.
__ADS_1
"Ra gumun, ra nggagas!" (tidak peduli, tidak menggangas!)
"Awas, Mas! Nabrak kesandung!"
Karena terlalu kesal, Nisa sampai berbicara seperti itu. Tak lama setelah itu, ia mendengar kegaduhan dari dalam rumah. Ia langsung berdiri dan melihat apa yang terjadi. Ternyata Setyo hampir saja terjatuh karena tersandung kaki meja. Bukannya mengiba, Nisa malah tertawa.
"Jangan tertawa lebar! Takut nyamuknya tersedot ikut masuk!"
"Uhuk uhuk... " Ada seekor nyamuk yang masuk ke dalam tenggorokan Nisa. Ia segera mengambil air minum untuk merekadan rasa serak yang melanda. Saat ini, gelak tawa terdengar di antara mereka, saling menertawakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Ada apa to ini ribut–ribut?" tanya Bu Tin yang berjalan dari arah dapur.
"Gak ada apa–apa, Mak," sahut Setyo.
"Sudah jangan berisik, sudah malam!" tegur Bu Tin. Suara kedua anaknya itu memang berisik dan cukup mengganggu.
"Iya, Mak," jawab Nisa dan Setyo bersamaan.
Bu Tin menggeleng melihat kedua anaknya yang masih saja sulit akur walaupun usia mereka tak lagi balita. Ia berjalan menuju dapur untuk melanjutkan aktivitasnya membersihkan dapur. Setyo pun masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Nisa pergi ke teras lagi menunggu kedatangan kedua sahabatnya.
🍂
hai hai haiii..... ada yang kangen gak? 😆
enggak ya? yahh tak apa deh kalau begitu wkwk
semoga kalian yang baca dikangenkan ya 🤣🤣 kangen apa? kangen seseorang.
gak nyambung? iya gak nyambung 😂
****
baiklah, happy reading semua 💕💕
__ADS_1
(jika ada yang baca 🤣🤣)