Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Waspada


__ADS_3

Bel tanda masuk menggema di lingkungan sekolah itu. Mereka semua memulai kegiatan belajar mengajar mereka. Nisa dan Okta mengikuti kegiatan pembelajaran mereka dengan baik. Begitupun dengan siswa - siswi yang lainnya.


Tett tet tetttttt


Istirahat siang telah tiba. Semua siswa berhamburan ke kantin untuk makan siang. Di sekolah ini jam pulang sekolah lebih lama dibandingkan sekolah di SMA. Sungguh berdesakan dan berebut tempat duduk. Mereka harus rela mengantri apa bila memilih makan siang di jam istirahat siang, tapi kantin akan kelihatan lebih luas saat istirahat pagi.


Saat masuk ke kantin Nisa mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia mencari keberadaan Cecil di sana. Nisa berharap agar dia tidak bertemu dengan Cecil karena terlalu bahaya jika setelah kejadian tadi pagi dia bertemu Cecil saat ini.


"Syukurlah dia dan teman - temannya gak ada di sini, selamat," batin Nisa yang diam - diam menghela napas lega. Jujur sebenarnya dia sedikit takut dengan Cecil.


"Lo kenapa Nis celingak celinguk dari tadi?" tanya Okta heran.


"Nggak papa Ta. Aku cuma bingung mau makan apa, sekalian lihat - lihat masih ada bangku kosong atau tidak," alibi Nisa. Nisa tidak mau Okta khawatir dengannya. Tanpa Nisa sadari ada 2 kubu yang menunggu kehadiran Nisa di kantin.


Nisa dan Okta yang merasa lapar terpaksa harus rela mengantri untuk mendapatkan pesanan makanannya. Mereka berdua mengedarkan pandangan matanya namun semua bangku terlihat penuh. Sampai Nisa melihat seorang siswi cupu yang dia bantu tadi pagi.


Nisa melihat bangku di depan dan di samping Rindang masih kosong. Rindang yang sadar akan kehadiran Nisa dan Okta melambaikan tangannya agar Nisa dan Okta mendekat. Tanpa berpikir panjang mereka menghampiri Rindang dengan senang hati. Sungguh Nisa dan Okta lega karena mereka tidak perlu mencari tempat lainnya untuk makan.


"Hai Rin, boleh gabung?" tanya Nisa.


"Hai Nis, Ta. Boleh kok, ayo duduk," jawab Rindang sambil membuka tutup tempat makan yang dia bawa.


"Makasih Rin," ucap Nisa dan Okta. Rindang menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Kalian berdua udah pesen makan?" tanya Rindang lalu kembali menyendokkan makanannya.


"Udah tadi, tinggal nunggu aja ini. Lo bawa bekal tiap hari Rin?" tanya Okta.

__ADS_1


"Iya Ta, lumayanlah hemat uang jajan sama sarapan," jawab Rindang sambil mengunyah makanannya.


Nisa jadi berpikir, apa dia harus bawa bekal saja agar dia hemat uang saku? Tapi kalau bawa bekal makan mamaknya repot atau tidak? Itu menjadi pertanyaan yang belum terjawab oleh Nisa sendiri. Sepulang sekolah nanti dia mau bilang sama mamaknya supaya hari selanjutnya dia bawa bekal saja.


"Lo gak pernah sarapan Rin?" tanya Okta sedikit kaget dengan jawaban Rindang.


Rindang menjelaskan bahwa dia tinggal di kos - kosan dan jauh dari orang tua. Untuk menghemat uang, dia memasak makanan dipagi hari untuk bekal sekolahnya. Yah walaupun hanya dengan menu sederhana, tapi cukuplah baginya untuk mengisi perutnya agar tidak kosong. Rindang tidak mau menyusahkan orang tuanya lebih banyak dan juga ingin belajar hidup mandiri.


Nisa dan Okta sangat kagum dengan Rindang yang bisa hidup mandiri bahkan mengatur keuangannya dengan baik. Mereka jadi lebih bersyukur bahwa mereka masih ada orang tua bagi Nisa dan pembantu bagi Okta yang menyiapkan makanannya di pagi hari.


"Neng Okta pesanannya neng sama Neng Nisa udah siyap," ucap Mamang Bakso sedikit berteriak. Mereka tidak tahu nama asli Mamang Bakso karena Si Mamang sudah biasa dipanggil Mamang Bakso.


"Siyap Mang otewe situ Mang," sahut Okta yang tak kalah kencangnya.


"Aku aja Ta yang ambil," Nisa meraih tangan Okta yang hendak pergi.


"Ehh aku aja Nis, Ta yang bawa pesanan kalian kesini sekalian mau beli air," tawar Rindang.


"Emm okelah kalau tidak beratan Rin," ucap Nisa yang disetujui Okta.


********


Cecil dan teman temannya kehilangan jejak Nisa saat Nisa dan Okta memesan makanan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat duduk.


"Minggir lo, gue mau duduk," ucap Cecil mengusir segerombolan siswi yang tengah duduk menunggu pesanan mereka. Segerombolan siswi itu segera pergi mencari tempat lain karena mereka tidak mau berurusan dengan Cecil dan teman - temannya.


Setelah mereka pergi, Cecil Jeje, Rere dan Lala menempati bangku itu. Seketika Rere tersenyum girang. Dia melihat Nisa duduk bersama Okta dan Rindang, tak jauh dari bangku mereka. Dia melihat Nisa, Okta, dan Rindang terlihat asik mengobrol dan tidak menyadari keberadaannya.

__ADS_1


"Eh tu lihat, akhirnya si cewek sialan dan kacungnya sama si cupu semeja tuh Cil," ucap Rere menunjuk keberadaan Nisa. Cecil menoleh ke belakang melihat ke mana arah telunjuk Rere. Kebetulan posisi Ceci membelakangi bangku Nisa dan teman - temannya.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba," ucap Cecil tersenyum miring.


"Kenapa begitu Cil? Memang kita sedang mancing ya?" ucap Lala dengan polosnya. Cecil memutar matanya menahan kesal. Dia bingung kenapa dia punya teman lolanya gak ketulungan? Untung kaya dan cantik. Kalau tidak, auto kick.


"Iya La iya. Kita lagi mancing dan ikannya guedee banget," ucap Cecil tersenyum menahan kesal.


"Wahhh ikutan mancing mania dong kita. Tapi kenapa kita nggak ke empang?" ucap Lala. Cecil memutar matanya malas sedangkan Jeje dan Rere hanya mampu menepuk dahi dengan telapak tangan mereka.


"Lala sayang, lo bisa diem nggak sih?!" ucap Cecil sambil merapatkan giginya menahan kesal yang sewaktu - waktu bisa meledak.


"Tapi kan...umm ummm..."ucap Lala terhenti setelah Jeje yang di sampingnya berhasil membekap mulut Lala supaya diam. Lala pun kesal karena ucapan dia dipotong.


"Neng Okta pesanannya neng sama Neng Nisa udah siap," terdengar ucapan Mamang Bakso yang sedikit berteriak. Kesal mereka kepada Lala pun teralihkan seketika.


"Assiyap Mang otewe ke situ Mang," terdengar juga sahutan Okta yang tak kalah kencangnya.


Mendengar pesanan Nisa dan Okta sudah siap, ide jahil terlintas dipikiran Cecil. Dia memandang satu persatu temannya dengan senyuman penuh kelicikan. Tanpa diberitahu mereka seakan punya kekuatan telepati untuk menyamakan pemikiran mereka kecuali Lala.


Lala bertanya - tanya kenapa mereka tersenyum semua? Jeje tahu kalau Lala belum tahu. Jeje segera membisikan rencana mereka untuk Nisa. Lala mengangguk mengerti.


"Ehh aku aja Nis, Ta yang bawa pesanan kalian kesini sekalian mau beli air," tawar Rindang terdengar di telinga mereka.


"Wow akan makin seru nih Cil," pendapat Jeje.


Cecil semakin tersenyum lebar jika rencananya berhasil saat itu juga.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain seorang siswa duduk bersama teman - temannya sambil memperhatikan bangku Nisa dan teman - temannya dari kejauhan.


__ADS_2