
Dimalam yang sesunyi ini
Aku sendiri, tiada yang menemani
Akhirnya kini ku sadari
Dia telah pergi tinggalkan diriku
Adakah semua kan terulang
Kisah cintaku yang seperti dulu
Hanya dirimu yang ku cinta dan ku kenang
Didalam hatiku takkan pernah hilang
Bayangan dirimu untuk selamanya
Lagu itu lah yang Dhika senandungkan di kamarnya dengan memainkan gitar kesayangannya. Dengan duduk di sofa, ia menerawang jauh, hari-hari bersama sahabat-sahabatnya dan juga Nisa.
Lagu yang sangat cocok itu, saat ini ia benar-benar sendiri. Ia bimbang, belum bisa berbagi cerita dengan mereka. Dengan lagu ini, ia bisa mengungkapkan apa yang tidak bisa ia katakan. Ia memberitahu kepada barang-barang di kamarnya, seolah-olah mereka hidup.
Dhika mengakhiri lagunya yang melow itu. Ia menyenderkan gitanya di dinding disampingnya. Dhika membiarkan tubuhnya merebah di sofa itu. Tangannya ia gunakan sebagai bantal, ia menatap langit-langit kamarnya.
Helaan napas kasar terdengar dari padanya. Ingin sekali ia memberitahu kepada mereka, tentang apa yang ia alami namun ia tidak mau Cecil curiga.
"Hahhhh," begitulah suara helaan napas Dhika.
Bayangannya melayang jauh saat waktu itu ia bertemu dengan Cecil di sebuah cafe.
"Ada apa lo ngajak gue bertemu disini?" tanya Dhika ketus.
Cecil tersenyum terlebih dahulu. "Minum dulu Prince, baru kita bicara."
Dhika hanya diam, tidak kunjung meminum minuman di depannya. Begitu pun juga dengan Cecil. Dengan santainya ia menikmati minuman yang ia pesan tanpa kunjung membahas keperluannya.
__ADS_1
Dengan cepat, Dhika menyambar segelas minuman lalu meminumnya hingga tandas.
"Sudah! Apa perlumu?!" Dhika bertanya karena Cecil ingin menawarkan sesuatu padanya.
Dan Cecil memberikan penawaran seperti apa yang sekarang Dhika lakukan. Dhika terjebak di suatu hubungan untuk melindungi Nisa.
Dia berpikir terus hingga alam mimpi menghampirinya.
"Kak nanti sepulang sekolah jemput Elin ya kak? Ya ya?? " ucap Elin seraya merengek.
"Iya Lin iya." ucap Dhika. Ia mencium pipi Elin dengan gemas.
Hingga Dhika melihat adiknya itu tertabrak truk yang melaju cukup kencang, membuat tubuh adiknya terpental. Darah bercucuran. Ia berlari mendekat dimana Elin tak sadarkan diri. Ia melihat keberadaan Yosse disana namun ia abaikan. Dhika berteriak keras sambil menangis.
"Elin!"
Dhika terbangun dari tidurnya. Ia mengusap kasar wajahnya. Rupanya masalahnya dengan Nisa akhir-akhir ini membuat mimpi itu datang menghampirinya. Ia terlalu menyayangi Nisa, namun ia sendiri juga bingung. Ia menyayangi Nisa sebagai apa.
*****
Brak
Pintu kamar Dhika terbuka lebar. Bagas dan Ivan masuk ke kamar tanpa permisi terlebih dahulu. Dhika berdecak malas.
"Ngapain kalian kemari?" tanya Dhika.
"Jiailahh udah ada pacar baru mak lampir jadi ya gini ni Gas kita diusir." Ivan menoleh ke arah Bagas.
"Yok gas cabut lagi aja!"
Mereka berdua berbalik ingin pergi dari sana. Namun Dhika menghentikan mereka.
"Eit eit eit jangan dong. Gitu aja ngambek, kayak gadis aja," ucap Dhika.
"Hehh! Lo sih!" ucap Bagas lalu melompat merebahkan diri di samping Dhika. Begitupun juga dengan Ivan.
"Enak nggak pacaran sama Mak Lampir?" sindir Ivan.
__ADS_1
Seketika Ivan mendapatkan timbukan bantal dari Dhika. Ivan menangkisnya dengan cepat.
"Wee sabar bro sabar. Bener kan?"
"Ck gak usah diperjelas kenapa? Gue enek tau!" ucapnya malas.
"Gue kaget aja sih waktu pertama kali tahu lo itu pacaran sama Cecil. Nggak nyangka aja lo akhirnya mau sama bentukan kek dia," ucap Bagas.
"Gue aja terpaksa. Itu pun demi kebaikan bersama," ucap Dhika dengan nada sedih.
Akhirnya Dhika menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Mulai dari awal hingga akhir tanpa ada yang ditutup tutupi.
"Kalau begitu yaudah deh, terserah keputusanmu. Ambil yang terbaik menurutmu." Bagas menepuk pundak Dhika.
"Tapi kasihan Nisa, Gas. Dia yang menderita. Walaupun Dhika sudah sama Mak Lampir itu, lihat kan kemarin apa yang dilakuin mereka?" kata Ivan.
Mereka saling diam. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Udah deh, gak usah bahas masalah ini dulu. Biar gue saja yang mikirin. Lebih baik kita main PS aja. Kita tanding PS. Siapa yang kalah, traktirin makan di kantin besok."
"Oke, deal," ucap Bagas dan Ivan bersamaan.
"Oh iya. Tapi inget, jangan sampai ini didengar oleh mereka terutama Nisa. Gue nggak mau dia merasa bersalah. Kalau dia tanya sama kalian, ya pinter-pinternya aja kalian jawabnya," pesan Dhika.
"Okedeh," jawab Bagas.
"Elah lama amat. Yokk jadi nggak main PS nya?"
Dhika menempiling kepala Ivan. " Ck gak sabaran amat lo. Cuma mau kalah aja ngebet!" ledeknya. Sampai sekarang, Ivan belum pernah bisa menang melawan Dhika maupun Bagas.
"Yaelah, lihat aja ntar gue kalahin. Ya nggak Gas?"
"Enggak!"
"Astaga teganya kalian," ucap Ivan dengan nada melasnya.
Mereka pun bertanding PS seharian. Hingga makan pun, asisten rumah tangga Dhika sampai mengantar makanan ke kamar Dhika.
__ADS_1