
“Wihh... ramai sekali!!!” seru Rindang, excited. Ini kali pertamanya datang ke pasar malam. Ternyata seramai ini. “Kelihatannya seru...” ucapnya tidak sabaran. Ia segera mencoba hal baru.
“Gimana caranya kita masuk ke dalam?” ujar Nisa lesu. Orang-orang berdesak-desakan. Hanya dengan melihatnya saja membuat Nisa enggan untuk masuk ke dalam. Tidak ada celah untuk bisa berjalan dengan nyaman. Ia yakin, oksigen sangat minimalis. Mereka harus berebut udara sehat hanya untuk bernapas.
“Tinggal masuk aja, Nis. Bereskan?”
“Tapi lihat, Ta. Padet banget,” rengek Nisa. Kepribadian Nisa yang pada dasarnya Introvert membuat Nisa enggan untuk berinteraksi dengan banyak orang. Niatnya mendadak urung. Jika bisa menghilang bisa dilakukan, mungkin menghilang dari sana akan menjadi pilihan yang tepat.
"Aku pulang saja ya. Kalian berdua saja dulu. Nanti aku ikut kapan–kapan," putus Nisa sepihak.
Okta menepuk dahinya sendiri. "Aduh Niss... Masa gini saja dah mau pulang. Gimana hayo kalau kita nanti tidak bisa ke sini bersama. Langkah loh kesempatan ini. Ayolah..." bujuk Okta. Ia tidak ingin melewatkan momen kali ini. Sudah kepalang tanggung.
"Iya, Nis. Masak sudah mau pulang. Aku kan ingin menikmati waktu pertama kali ke pasar malam bersama kalian," ujar Rindang memelas.
"Kalau kamu balik, yaudah deh. Aku balik juga," ucap Rindang lesu.
Wajah Rindang membuat Nisa iba. Bagaimana mungkin ia mematahkan keinginan orang hanya karena keegoisannya sendiri.
Nisa menghela napas berat.
"Iya iya. Oke, fine. Kita masuk," putus Nisa mengiyakan.
"Yeyy!!" seru Okta dan Rindang bersamaan. Mereka bersorak ria, ber–high five.
"Gitu dong, Nis," ucap Okta dengan senyum yang merekah.
Nisa melongo. Ia mencium bau–bau persengkongkolan di sini. "Ja–jadi kalian?"
__ADS_1
Nisa menunjuk bergantian pada Okta dan Rindang.
Okta melebarkan bibirnya, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kalian ya..." ucap Nisa kesal. Namun secepat mungkin Okta meraih tubuh Nisa.
"Udah Nisa, sayang. Ayo masuk. Lo udah janji. Jadi harus di tepati. Ya kan, Rindang?"
Rindang mengangguk mantap.
"Sudah. Ayoooo"
Okta menggeret tubuh Nisa bersama dengan Rindang. Mereka bertiga masuk ke area pasar malam itu.
Banyak para pedagang berjejeran, menawarkan dagangan mereka. Banyak jenis yang mereka jual, seperti sepatu, baju, makanan, jasa wahana mainan, panggung hiburan, bahkan jasa berfoto dengan karakter kartun hingga film horor. Mereka berkeliling mencari hal yang ingin mereka coba.
Nisa pasrah mengikuti keduanya. Mau bagaimana lagi. Untuk pulang ia tidak bisa.
Nisa yang semula lesu kini sumringah kembali lantaran melihat mobil penjual es krim yang terparkir di sebelah kiri mereka yang letaknya mungkin 10 m dari sana.
"Oh iya. Mau dong..." ujar Rindang. Okta pun juga mengangguk. Ia juga ingin sebuah es krim. Mereka berjalan menghampiri sang penjual es krim.
"Mau rasa apa, Nduk?" tanya penjual itu.
Nduk merupakan istilah bahasa jawa yang mempunyai arti "nak".
"Rasa coklat aja deh, Pak," ujar Nisa.
__ADS_1
"Aku Vanila," ujar Rindang.
"Emmm... Campur enak kali ya. Campur, Pak," ujar Okta.
"Oke siap. Ditunggu ya, cah ayu (gadis cantik)."
"Berapa, Pak?" tanya Rindang sembari menerima es krim yang diserahkan oleh penjual itu.
"Lima ribuan saja."
Mereka bertiga menyerahkan uang, masing–masing 5 ribu rupiah.
"Makasih, Pak!" ujar mereka sembari berlalu.
"Hmmm... Enak juga ya ternyata." Mata Rindang berbinar. Ia tidak menyangka bahwa hanya dengan uang 5 ribuan, ia bisa menikmati rasa es krim yang seenak itu. Dahulu ia berpikir jika es krim yang enak ia dapatkan dengan harga yang mahal. Namun ternyata semuanya itu salah.
"Kamu belum pernah makan, Rin?" tanya Nisa hati–hati. Ia tidak ingin ucapannya menjadi sebilah pedang yang tanpa sengaja menggores barang di sekitar nya tanpa di sadari.
Dengan enteng, Rindang menggeleng. "Belum."
"Ha?" ujar Nisa dan Okta bersamaan. Mereka terheran–heran. Padahal es krim itu menjadi es krim sejuta umat yang bisa dinikmati dengan harga terjangkau.
"Jangan bohong lo, Rin?" Okta masih tidam percaya.
"Beneran. Dulu aku mengira, jika aku harus mengeluarkan uang paling tidak puluhan hingga ratusan ribu untuk menikmati es krim ya enak," jelas Rindang santai sembari terus menikmati es krimnya.
Nisa dan Okta hanya melongo. Uang sebanyak itu jika dijajakan seperti es krim yang mereka makan saat ini, sudah cukup untuk membuat mereka enek.
__ADS_1
"Hidup orang kaya beda, ya," ujar Okta sembari berlalu.
"Eh, Ta. Tunggu kita," ujar Nisa. Nisa dan Rindang mengejar Okta yang berjalan lebih dahulu.