Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Festival (Pemenang)


__ADS_3

Nisa dan Dhika turun dari panggung. Mereka disambut oleh para sahabat dan teman-teman kelas mereka yang telah menunggunya. Wajah-wajah puas tak luput dari pandangan Nisa. Nisa dan Dhika merasa lega dan cukup puas, karena bisa membawakan lagu duet di panggung dengan maksimal.


"Woee bro keren penampilan lo," puji Ivan.


"Lo juga Nis. Gak nyangka gue, suara lo semerdu itu." pujinya lagi.


"Jujur, kalau untuk Dhika mah gue nggak kaget. Tapi kalau Nisa...."


"Sumpah, suara lo bikin orang yang denger ayem," ucap Bagas.


"Wihh kelas kita punya penyanyi baru nih!" ucap Sam, sebagai ketua kelas X BM 2.


Mereka semua setuju dengan ucapan Sam.


"Lihat, bener kan kata gue Nis. Lo pasti bisa," ucap Okta.


Nisa semakin malu dengan pujian mereka. Baginya pujian orang lain itu adalah hal langka yang jarang terjadi di hidupnya.


"Tapi aku gak yakin kalau kita menang," ucap Nisa pesimis.


Nisa menundukkan kepalanya. Hingga ada sebuah tangan kokoh merangkul pundaknya dari samping. Nisa berjengit kaget kemudian menolehkan kepalanya ke samping. Ternyata Dhika yang merangkulnya.


"Haihh gak perlu menang, yang penting senang," ucap Dhika menenangkan.


"Betul itu. Menang adalah bonus," ucap Rindang.


Kata-kata mereka menjadi obat suatu perasaan bersalah Nisa seandainya ia dan Dhika tidak memenangkan lomba itu.


"Tapi entah mengapa, kenapa gue punya firasat kalau kalian yang menang ya?" tebak Adi tiba-tiba.


"Sok tempe lo Scoobydi," cerca Candy.


"Lihat aja nanti," ucap Adi sombong. Candy hanya berdecih.


"Udah udah. Dalam perlombaan, kalah menang itu biasa." Bagas mengeluarkan jurus kata-kata bijaknya.


"Siyap Suhu." Ivan membungkukkan badannya, memberi hormat kepada Bagas.


"Hei hei heiii...."


Suara MC sudah terdengar kembali. Mereka ingin menyampaikan pengumuman tentang peserta yang dinobatkan menjadi ratu sekolah dan juga lomba nyanyi duet yang baru saja selesai.


"Hayo, menurut kalian siapa yang bakal jadi ratu sekolah tahun ini?" tanya Dimas.


Semua orang yang ada di area itu menyebutkan peserta yang menjadi idola mereka masing-masing.

__ADS_1


"Wahhh rupanya mereka semua sudah tidak sabar ya Kak,"


"Ya gimana dong Dek? Habis semua kandidat ratu sekolah cantik-cantik."


Seketika, ia mendapat sorakan dari para penonton.


"Kakak mah gombal. Noh sampai disoraki sama penontonnya."


"Tapi benar kan mereka semua cantik?"


Ratna hanya tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dimas. Ia heran, ada saja jawabannya.


"Ya sudah Kak, langsung saja kita bacakan pemenang yang akan dinobatkan menjadi ratu sekolah tahun ini."


"Peserta yang dinobatkan menjadi ratu sekolah tahun ini adalah........" ucapan mereka sengaja dijeda.


"Deredeng deredeng deredengggggg."


Suara yang menggambarkan suara drum berbunyi itu keluar dari mulut Ratna. Mereka saling memberikan kode satu sama lain agar suara mereka berbarengan.


"Rindang, perwakilan dari tim kelas gabungan XI BM 2, X BM 1, dan X BM 2. Rindang, silahkan naik ke atas panggung."


Semua tidak menyangka kalau Rindang yang biasanya terkenal sebagai cewek culun, berhasil memenangkan lomba itu. Rindang naik ke atas panggung untuk mengambil hadiah yang disiapkan oleh panitia.


"Okey, ratu sekolah sudah dinobatkan nih. Terus siapa ya, kira-kira yang akan memenangkan lomba nyanyi duet kali ini?"


"Pastinya kalian semua tidak sabar ya mengetahui pemenangnya."


"Oke langsung saja Kak,"


"Pemenangnya adalah........"


"Deredeng redeng redeng redeng..."


Semua peserta berdebar-debar menantikan siapa yang akan memenangkan lomba itu. Nisa menunjukkan kembali muka cemas dan gugupnya. Sampai sampai ia tidak sadar menggengam tangan Dhika yang berdiri di sampingnya.


"Heem heem," Dimas berdehem untuk mengulur waktu agar semua semakin penasaran.


"Kakak batuk? Minumlah air."


Candaan receh sang MC sukses membuat semua yang ada disana tertawa.


"Ini lho, kakak cuma mau mengetes mereka Dek biar gak spaneng," jujurnya.


"Oke Kak, nggak usah muter-muter lagi, langsung saja kita umumkan siapa pemenangnya. Kasihan tuh para pesertanya senam jantung semakin lama."

__ADS_1


"Loomba nyanyi duet dimenangkan oleh...."


"Dhika dan Nisa! Peserta dari tim gabungan kelas XI BM 2, X BM 1, dan X BM 2. Silahkan menaiki panggung."


Nisa langsung memeluk sahabat-sahabatnya. Mereka berenam berpelukan sambil berputar. Kemudian Nisa dan Dhika berjalan menaiki panggung.


"Ini dia pasangan nyanyi duet yang menggemparkan dan menghanyutkan kita semua."


Pernyataan Ratna membuat Nisa tersipu, tapi pernyataan itu tidak mempan bagi Dhika. Sudah sering Dhika menerima pujian hingga suatu pujian sudah menjadi hal yang biasa. Namun bukan berarti ia tidak menghargai.


Rasa bahagia menyelimuti hati Nisa. Dengan wajah sumringah mereka menerima hadiah. Hadiahnya memang tak seberapa. Namun rasanya luar biasa karena itu hasil jerih payah mereka.


"Bolehkah kita tanya-tanya sebentar tentang kalian?" ucap Dimas.


Nisa dan Dhika mengangguk.


"Kita ingin bertanya untuk mewakili semuanya yang penasaran dengan kalian. Apakah ada hubungan spesial diantara kalian?" tanya Ratna dengan hati -hati. Nisa dan Dhika tak kunjung menjawab.


Hati seseorang yang ada dibelakang panggung seketika memanas. Pertanyaan itu membuat api yang menyala di dalam diri Cecil semakin membara, membakar hatinya. Kilatan amarah terlihat jelas di matanya. Yang ada bersamanya, bukannya menenangkan malah memprovokasinya.


"Wahh lama-lama nyolot juga ya Nisa," ucap Rere.


"Gue gak akan lepasin lo Cewek Sialan," gumam Cecil.


Sedangkan dari atas panggung terdengar suara Dimas yang masih berusaha bertanya.


"Apakah kalian sepasang kekasih? Soalnya selama bersekolah disini, baru kali ini kita melihat Dhika menggandeng lawan jenis,"


Nisa tertawa. Ia heran, apakah dekat itu bisa diartikan sepasang kekasih? Semua orang memandang Nisa heran. Kenapa Nisa tertawa.


Sadar kalau dirinya diperhatikan, Nisa tersenyum canggung. Ia malu dengan sikapnya sendiri.


"Kita bukan sepasang kekasih, tapi kita sahabat. Kalau kita dekat wajar kan?" jawab Dhika mewakili Nisa.


Jawaban Dhika membuat semua siswi iri karena mereka tidak akan pernah bisa berdekatan dengan Dhika.


"Hohoho okelah kalau begitu, kita tunggu tanggalnya."


Dimas mengedipkan matanya ke arah Dhika. Dhika hanya terkekeh, tidak tahu bagaimana mau meresponnya, meskipun dalam hati ada keinginan yang terpendam.


"Sekali lagi selamat untuk kalian."


Nisa dan Dhika turun menghampiri para sahabatnya. Ucapan kata selamat terdengar silih berganti. Mereka tersenyum penuh kemenangan.


Selesai pengumuman pemenang, acara masih dilanjutkan dengan acara bazar, hingga batas waktu yang telah ditentukan.

__ADS_1


__ADS_2