
"Jadi... " Okta sengaja menjeda ucapannya. Semua orang yang tengah serius menunggu penjelasan Okta menjadi semakin tegang sekaligus penasaran. Okta malah mengambil air minumnya lagi, meminum air itu hingga tandas.
"Ta, jangan bikin tegang kenapa?" geruntu Rindang.
"Habis wajah kalian lucu ketika tegang," ucap Okta santai.
Okta mendongak, ia melihat tatapan mereka semua seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Hehehe, iya oke-oke gue jelasin."
"Jadi, sewaktu kecil dia tidak punya temen. Hinaan dan ejekan menjadi makanan sehari-harinya. Gue hanya bisa menjadi pendengarnya saja, karena gue tidak satu sekolah dengannya. Gue gak bisa ceritain detailnya. Intinya selama TK sampai tamat SD dia tidak punya teman. Dia punya teman sejak SMP. Itu aja temennya cuma gue yang sekaligus sahabatnya. Dia orang yang tertutup. Baru kali ini gue lihat Nisa punya teman yang cukup banyak. Dan penyebab kenangan pahit itu melekat sampai sekarang adalah orang yang ngejar-ngejar lo Kak." Okta menunjuk ke arah Dhika.
"Cecil?" ucap Bagas tidak percaya.
Okta mengangguk. "Iyap bener. Ingin sekali gue kecilin itu Mak Lampir, terus gue injek, gue kasihin ke kecoa biar tahu rasa dia!" ucap Okta geram.
"Eh Okta, emang lo U & i?"
"Lah emang itu julukan buat gue sama Nisa pas jaman SMP."
"Busetdah ternyata." ucap Ivan sambil menggeleng mengetahui kenyataan yang ada.
"Jadi lo kenal Nisa baru dari SMP?" tanya Rindang yang masih belum bisa mencerna ucapan Okta.
"Rindang ku sayang, gue sahabatan sama Nisa udah dari orok kali. Perlu digaris bawahi, Nisa dulu curhatnya sama gue karena gue baru satu sekolah saat kita SMP."
Mereka hanya beroh ria.
"Yang gue sesali, kenapa gue gak peka dengan Nisa? Kenapa gue sampai biarin dia nanggung semuanya sendiri?" tanya Okta yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh mereka. Wajahnya berubah sendu lagi.
"Sudah gak perlu disesali. Sekarang ayo kita masuk. Siapa tahu nanti Nisa sudah siuman," ucap Dhika.
__ADS_1
"Buat lo Ta, jangan nangis di depan Nisa. Jangan bebanin pikirannya," ucapnya lagi.
"Eh sebentar, kalian tahu nggak siapa yang membawa Nisa ke sini?" celetuk Okta tiba-tiba.
"Oh iya. Saking paniknya kita lupa nanya sama dokternya." ucap Ivan.
Mereka masuk ke dalam ruangan tempat Nisa dirawat. Mereka berdiri mengamati Nisa yang tengah terbaring lemah. Rasa iba menelusup ke dalam benak mereka.
"Nis bangunlah," ucap Okta lirih. "Kita semua menunggu lo Nis," ucapnya lagi.
Tak lama kemudian Nisa membuka matanya. Pandangan matanya yang bingung terlihat jelas. Dia heran, kenapa Okta dan yang lain ada di sana? Dia menatap penuh tanya.
"Lo tadi pingsan Nis, terus lo dibawa ke sini," ucap Okta menjawab pertanyaan Nisa sebelum Nisa bertanya.
Nisa mengangguk. Ia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi. Nisa tertegun setelah mengingat semuanya.
"Kenapa Nis?" tanya Rindang panik melihat Nisa.
"Nis, lain kali kalau lo mau kemana-mana ajak kita, jangan sendirian," ucap Okta penuh penekanan.
"Kalau kemana-mana jangan lupa bawa gawainya. Jangan asal tinggal saja. Biar nanti kalau lo butuh bantuan, tinggal hubungi kita," ucap Dhika. Dia lega, akhirnya Nisa terbangun.
"Kasihan juga kan nanti kalau Upin ditinggal si Ipin hilang." Semua tertawa mendengar penuturan Ivan.
"Iya semua, makasih ya." ucap Nisa tulus.
"Iya. Ingat Nis, kita semua peduli sama lo," ucap Bagas.
Dalam hati, Nisa sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka. Baru kali ini ia merasakan indahnya memiliki banyak sahabat.
"Oh iya Nis. Kenapa kamu bisa sampai begini?" tanya Bagas tiba-tiba.
__ADS_1
Nisa diam, ia berpikir sejenak. Sebenarnya agak sesak mengingatnya kembali. Namun ia tidak ingin bayang-bayang masa lalu menghantuinya. Ia ingin lepas, toh sekarang ia punya banyak sahabat, banyak yang menyayanginya.
"Kalau nggak mau cerita, tidak apa Nis. Jangan dipaksa," ucap Dhika yang melihat keterdiaman Nisa.
"Enggak kak, bukan begitu. Aku hanya mengingat-ingat saja."
"Aku tadi ke toilet. Nah tapi setelah aku selesai buang air kecil, pintu bilik toiletnya terkunci. Lampunya dimatikan terus...." Nisa menjeda ucapannya.
"Udah Nis, gak usah dilanjut. Kita semua udah tahu cerita lo dari Okta tentang masa lalu lo," ucap Dhika. Nisa menatap Okta.
"Sorry Nis, bukan maksud gue nyebarin kelemahan lo," ucap Okta tertunduk.
Nisa memegang pundak Okta. Nisa mengangguk sambil tersenyum. Okta lega karena Nisa tidak marah karena hal itu.
"Tapi tadi siapa ya yang bawa aku kesini?" tanya Nisa kemudian.
"Itu dia yang ingin kita tanyakan ke kamu," sahut Rindang.
Nisa terdiam lagi. Nisa tidak mengingat siapa yang membawanya. Yang ia ingat, sebelum melihat sahabat-sahabatnya ia hanya ingat kalau ia memeluk seorang laki-laki dan ia menangis di pelukannya. Setelah itu Nisa tidak ingat apa-apa lagi.
"Sudah tak usah dipusingin. Yang penting Nisa tidak apa-apa," ucap Dhika.
Setelah itu Dhika menemui dokter lalu pergi ke bagian administrasi. Ternyata biaya administrasinya sudah dibayar oleh orang yang membawa Nisa ke rumah sakit.
Dhika kembali ke ruangan tempat Nisa dan sahabat-sahabatnya berada. Ia mengajak semuanya untuk mengantar Nisa pulang.
"Untuk kalian semua, makasih sudah peduli denganku. Tapi aku mohon sama kalian, jangan ada yang cerita dengan orang tuaku. Hidup mereka sudah berat, aku tidak mau membebani pikiran mereka," pinta Nisa. Ia memandang satu persatu sahabatnya.
Mereka semua mengangguk, setuju.
"Ini dia Nis, yang nggak gue suka dari lo! Lo memilih memendam semuanya sendiri dari pada berterus terang," batin Okta. Ia menatap Nisa yang berjalan mendahuluinya dengan tatapan sendu walau hanya sekilas.
__ADS_1