
"Enggghhh"
Nisa merenggangkan badannya sambil tiduran dengan mata masih terpejam. Ia memiringkan badannya, tangannya menyambar guling di dekatnya. Ia memeluk erat guling itu. Rasa nyaman dari kasur yang empuk membuatnya ingin kembali menyelami alam mimpi lagi.
Namun tiba-tiba Nisa teringat, bahwa di kamar miliknya, kasurnya tidak seempuk itu. Dengan cepat ia membuka matanya, tersadar. Nisa bangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling ruangan itu.
"Dimana aku sekarang?" ucapnya dengan diri sendiri. Dia sudah yakin, memang ini bukan kamarnya. Kamar ini jauh lebih bagus dari kamarnya di rumah. Barang-barangnya saja terlihat berharga mahal.
"Kenapa aku bisa disini?" ucapnya bingung.
Nisa mengingat-ingat kejadian tadi sebelum ia berada di kamar itu.
"Aku tadi jalan sama Okta dan Rindang. Terus makan di cafe ditraktir mereka. Terus aku kenyang lalu aku ngantuk pengin tidur sebentar. Terus aku bangun disini. Terus dimana mereka?"
Nisa bingung sendiri kenapa hanya dia yang ada di sana.
"Jangan-jangan..... "
Pikiran negatif berkelebatan masuk dalam pikirannya. Nisa teringat cerita dalam novel-novel yang ia baca. Ketika bangun di tempat asing yang tidak diketahui, kebanyakan dari mereka diculik lalu dinodai.
"Lalu apakah Okta dan Rindang disekap terpisah darinya? " pikir Nisa.
__ADS_1
"Alamak?!"
Nisa langsung melihat ke tubuhnya sendiri. Pakaian yang ia kenakan masih lengkap dan utuh.
"Hahhh syukurlah," ucapnya lega. Namun hatinya masih tidak tenang.
"Aku harus keluar dari tempat ini. Aku harus mencari keberadaan mereka juga. Bahaya kalau masih disini. Ntar kalau aku diapa-apain gimana?"
"Kasur." Nisa menepuk kasur itu.
"Biarpun kamu nyaman dan melambai-lambai agar aku tidur lagi, tapi maaf aku gak tertarik. Selamat tinggal kasur, babai. Katakan pada pemilikmu, aku pergi dulu."
Kata-kata absurd terlontar dari mulutnya.
"Ayo Nis pasti bisa. Sing tenang yo, ojo wedi ojo kuatir. Mesti iso!" artinya, yang tenang ya, jangan takut jangan khawatir. Pasti bisa. Nisa menyemangati dirinya sendiri, mengusir ketakutan dan kekhawatiran untuk melangkah.
Setelah cukup tenang, Nisa memegang handle pintu untuk membukanya. Namun lagi-lagi ia mengurungkan niatnya.
"Aduh tapi gimana ini?"
Keraguan melanda hatinya. Nisa malah berjalan mondar mandir, seperti seterikaan baju yang menggosok kain yang sangat kusut. Nisa menautkan alisnya sambil menggigit kuku jarinya. Ia ingin menemukan ide lain untuk keluar dari sana. Takutnya di luar sana banyak bodyguard yang menjaganya.
__ADS_1
Katakanlah Nisa kepedean. Tapi memang begitulah pikirannya.
"Berpikirlah Nis, berpikirlah!" Nisa mengetuk dahinya dengan telunjuk.
Nisa teringat dengan handphone butut kepunyaannya. Dia ingin menelpon siapapun yang berpotensi bisa membantunya.
Namun naas handphonnya mati, kehabisan baterai. Ia mendesah frustasi, meraup muka dengan kedua telapak tangannya.
"Yaudah deh apapun yang terjadi, pokoknya yang penting aku keluar dulu," gumam Nisa memantapkan hatinya.
Nisa memegang handle pintu itu dengan perlahan namun pasti. Nisa membuka sedikit pintu itu hingga memberikan sedikit celah untuknya. Ia sedikit menongolkan kepalanya.
Nisa mengintip keluar, melihat bagaimana situasi yang akan dihadapinya. Ruangan tak berpenghuni menjadi suguhan pertama dalam pandangannya. Ia merasa lega. Tapi Nisa masih belum mengenali dimana ia sekarang. Padahal beberapa bulan yang lalu ia pernah masuk ke ruangan itu atas ijin Tante Santi.
Selanjutnya ia memantapkan hatinya untuk melangkah keluar. Ia berjalan mengendap-endap, penuh kehati-hatian.
Grepp
"Aaaaaaaaaa" teriak Nisa.
Ada seseorang yang mengunci tubuhnya dari belakang dan menutup mata Nisa dengan tangan milik orang itu. Ia menyeret tubuh Nisa.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Nisa meronta-ronta minta dilepaskan. Namun apa daya. Tenaga orang itu lebih besar dibandingkan dengan tenaganya.
"Huhuhu tamatlah riwayatku. Bapak, Mamak, Mas, maafkan Nisa," tangis Nisa dalam hati.