Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Tak Terduga


__ADS_3

"Lo!!"


"Kamu!!!"


Mereka berseru bersamaan.


"Gilakk aku ketemu dia lagi disini, sungguh malang nasibmu nak," batin Nisa miris mengasihani diri sendiri.


"Hahahaha gue dapet mangsa ini. Bakalan seru nih haha," batin Cecil tertawa sinis.


Cecil memang tidak pernah akur dengan Nisa dari taman kanak-kanak. Pertemuannya dengan Nisa menurutnya ini mengesalkan tapi sekaligus menyenangkan.


"Hehh lo! Kalau jalan tu pake mata. Punya mata jangan dipajang doang! Main nabrak orang aja!" bentak Cecil. Dia tak terima karena bukunya sempat berserakan dan tentunya dia bawaannya selalu kesal kalau bertemu Nisa.


"Ya maaf, kan nggak sengaja. Lagian kamu juga nggak nglihat jalan kan tadi?" ucap Nisa sambil menunduk.


"Enak aja lo nyalahin gue, lo tu ya jelas jelas udah nabrak gue," ucap Cecil yang tidak mau disalahkan. Nisa masih menunduk bergeming. Yah maklumlah, Nisa tipe orang yang lebih baik diam saat diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Ohhh sekarang lo udah budeg, udah bisu??" ucap Cecil geram karena tidak mendapat jawaban dari Nisa. Tangannya melayang menarik rambut Nisa.


"Aaaaaaa," jerit Nisa.


"Rasain lo karena lo udah nabrak gue. Nih nih biar rambut jelekmu botak sekalian!" Cecil menarik kencang rambut Nisa. Nisa merasakan rambutnya seperti mau rontok semua.


"Awwww sakittt Sil, lepasin!" Ucap Nisa meringis menahan sakit.


Seseorang yang melihat semua itu dari kejauhan pun mulai geram. Ia marah saat melihat Nisa kesakitan tapi tidak melawannya. Bahkan banyak siswa yang melihat tapi tak ada satupun dari mereka yang membantu Nisa.


Cecil melepaskan tangannya yang menarik rambut Nisa. Ia kaget juga kenapa manusia satu ini ikut- ikutan. Nisa yang melihatnya terperangah. Nisa bingung kenapa dia disini.


"Eh lo jangan ikut campur urusan gue dan si gembel ini! Atau lo akan tau akibatnya!" ancam Cecil kesal karena munculnya manusia satu ini.


"Urusan dia jadi urusan guelah. Jadi jangan macam-macam lo," ucap orang itu.


"Haha emang lo siapa? Kenapa gue harus takut sama lo?" imbuh orang itu. Ia tersenyum meremehkan Cecil. Ia sengaja untuk memancing emosi Cecil.

__ADS_1


"Oh ya lo punya kaca kan? Ngaca dulu sono gih. Kalau gak punya ke toilet kan ada. Jangan asal nyalahin orang mulu!" ucapnya lagi sebelum Cecil melontarkan kata katanya.


"Percuma kaya tapi gak punya kaca," ejeknya pelan.


"Heh ngomong apa lo, jangan kira gue nggak denger!" ucap Cecil semakin kesal.


"Ya bagus deh kalau lo dengar," ucap orang itu tersenyum miring.


Cecil melotot karena terlampau kesal. Rahangnya pun mengeras menahan marah. Ia geram karena sikap orang itu yang membuatnya semakin terpojok. Cecil pun memutuskan untuk pergi dari situ.


"Awas lo ya, urusan kita belum selesai!" ucap Cecil lirih tepat di depan Nisa lalu Cecil berlalu. Dia menabrakkan bahunya keras ke bahu Nisa. Nisa yang tidak siap pun terhuyung mundur beberapa langkah.


Nisa hanya menghela napas, banyak pertanyaan yang ia lontarkan kepadanya. Nisa menatap orang itu. Orang yang ditatap hanya tersenyum lebar dengan cengiran khasnya.


Namun terdengar instruksi untuk berkumpul. Mau tidak mau Nisa menyimpan segudang pertanyaan untuknya lalu berjalan beriringan dengannya menuju ke lapangan karena PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah) akan segera dibuka.


PLS itu sendiri merupakan pengganti MOS (Masa Orientasi Siswa) karena MOS itu dianggap sebagai ajang balas dendam senior ke junior atas apa yang sudah mereka rasakan dari pendahulunya.

__ADS_1


__ADS_2