Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Kenapa


__ADS_3

Siang itu, Nisa tengah bercerita dengan kedua sahabatnya. Saat ini mereka bertiga ada di kantin. Okta dan Rindang mendengarkan semua keluh kesah Nisa dengan seksama tentang mengapa ia bersedih kali ini.


"Jadi begitu ceritanya," ucap Nisa setelah menceritakan semua kejadiannya kali ini. Ia menatap mereka satu persatu. Mereka berdua masih bergeming, tidak tahu harus merespon seperti apa.


"Aneh," respon Rindang setelah cukup lama ia terdiam. Ia merasakan sebuah kejanggalan yang mengganggunya disini.


"Sejak kapan Nis?" tanya Rindang kemudian.


"Baru aja tadi pagi Rin. Karena baru tadi pagi kami bertemu setelah sekian lama kami tidak bertemu," terang Nisa.


"Aku merasa ada yang tidak beres di sini," ungkap Rindang. Okta dan Nisa juga mengangguk, menyetujui ucapan Rindang.


"Tapi apa?"


Pertanyaan itu muncul dari mulut Okta. Pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab kalau mereka tidak mencari tahu alasannya.


Mereka bertiga berdiskusi tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


Namun kehadiran Cecil dan Dhika membuat mereka menghentikan aktivitas mereka. Cecil menggandeng Dhika saat mereka memasuki kantin. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak mereka. Apa yang terjadi? Kenapa mereka bersama? Sejak kapan?


Mereka bertiga menatap Dhika yang lewat di depannya. Tapi yang ditatap mengacuhkan mereka. Pandangannya dingin dan begitu menusuk. Wajahnya sangatlah datar.

__ADS_1


"Hem"


Cecil berdeham keras, meminta perhatian dari seluruh orang yang ada di kantin.


"Guys, untuk hari ini semua yang ada di sini akan gue traktir," ucap Cecil ketika semua orang memusatkan perhatian mereka kepadanya. Suara riuh memenuhi kantin. Mereka senang mendapat traktiran makan. Hitung-hitung hemat uang jajan.


"Ada acara apa ini Cil, sampai lo traktir kita orang?" tanya salah satu siswa laki-laki yang ada di sana.


Cecil tersenyum sambil melirik ke meja dimana Nisa, Okta, dan Rindang berada. Ia tersenyum penuh kemenangan.


"Ini adalah suatu wujud syukur gue. Kemarin, gue resmi jadian sama my prince," ucap Cecil dengan menekankan kata jadian sambil menggandeng lengan Dhika dengan manjanya.


"Ciyeee"


"Waa gila! Ternyata diam-diam Dhika jadian sama Mak Lampir!" ucap Ivan pada Bagas yang kebetulan ada di kantin.


"Kenapa mereka jadian ya? Bukankah Dhika sangat muak dengan tingkah laku Cecil selama ini?" tanya Bagas.


"Yahh memang begitu. Tapi hati manusia tidak ada yang tahu kan? Udah deh, nikmatin dulu traktiran Mak Lampir. Lumayan perut kenyang uang tak hilang," ucap Ivan kemudian tertawa.


Sementara di meja Nisa, Okta tengah kesal. Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya, tak rela jika Dhika pacaran dengan Cecil.

__ADS_1


"Kenapa begitu sih? Apa Kak Dhika buta? Yang ia pacarin itu Mak Lampir loh, bukan manusia sesungguhnya! Gue nggak mencintainya tapi sebagai teman gue gak rela!" ucap Okta berkali-kali. Nisa dan Rindang juga kaget mendengar berita itu.


"Yahh inilah hidup. Yang tidak penting, akan tersingkir, sepertiku," batin Nisa.


Okta mengalihkan pandangannya. Tak sengaja ia melihat Bagas dan Ivan berdiri tidak jauh darinya. Ia melambaikan tangannya agar Bagas dan Ivan mendekat. Bagas dan Ivan berjalan menghampiri Okta.


"Gila temen lo Kak! Kesambet apa sih dia?" tanya Okta tanpa aba-aba. Ia langsung bertanya ngegas.


"Tak tahu juga Ta. Kayaknya demit gesreknya Ivan merasuki Dhika deh."


"Wa wa wa sembarangan lo Gas. Emang gue apaan?"


"Bentar-bentar. Jadi kalian tidak tahu Kak?" sela Rindang.


"Iya kami tidak tahu Rin. Baru saat ini kami tahu kalau mereka ternyata berpacaran," ucap Bagas dengan wajah yang sedikit murung.


"Aneh" ucap Rindang.


"Weit weit, kenapa lo sedih Gas? Apa jangan-jangan lo suka sama Cecil ya?" tanya Ivan.


"Ck ini tuh namanya mendalami peran. Malah gue dikira begitu."

__ADS_1


"Udah deh, gue mau ambil makan siang," ucap Bagas lagi sambil berlalu.


Ivan menyusul Bagas yang telah berlalu. Nisa, Okta, dan Rindang pergi dari kantin. Mereka sudah tak berselera untuk makan siang.


__ADS_2