Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Ambisi, Arus, dan Alir


__ADS_3

Mereka semua berbondong-bondong menuju rumah Nisa. Baru Dhika dan Okta yang pernah ke rumah Nisa, sementara yang lain baru kali ini mereka ke sana. Pandangan mata mereka mewakili isi hati mereka. Sederhana sekali hidupmu Nis. Itulah arti tatapan mereka. Tapi bukan ini yang Nisa mau. Nisa tidak mau orang lain mengasihani hidupnya.


Lagi pula dia juga sudah bersyukur dengan hidupnya. Baginya harta bukan segalanya, namun kasih sayang keluarga yang utama. Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya.


Mau bukti? Buktinya adalah manusia selalu meminta lebih dan lebih. Tapi bagi Nisa, ketika ia mengatakan cukup, berapapun yang ia punya akan terasa cakup. Namun ketika ia mengatakan masih kurang, sampai kapan pun tidak akan pernah terpuaskan, ingin lebih dan lebih. Bahkan ambisi yang terlalu besar bisa membutakannya. Ia hanya ingin menjadi orang yang idealis. Tak berambisi lebih namun bukan seperti orang yang punya harapan.


Mengalir? Bisa dikatakan demikian. Memang banyak yang menasihatinya bahwa hidup jangan hanya mengalir. Kalau bisa lawan arus untuk mencapai hulu. Namun, apakah melawan arus bisa merubah takdirnya? Apakah dengan melawan arus tidak akan terbawa arus?


Baginya melawan arus hanya akan membuatnya semakin terhempas jika pegangannya tidak kuat. Rasa sakit akan menjalar. Air mata akan banyak ditorehkan.


Semua tergantung dari Sang Pencipta. Maka dari itu, ia mempunyai motto hidup yang mengalir. Baginya hidup mengalir itu membawa suatu kedamaian tersendiri. Mengalir bukan berarti terbawa arus yang besar melainkan terbawa arus sesuai dengan porsinya.


Apakah ia akan tetap mempertahankan motto hidupnya yang mengalir?


Hanya Sang Pencipta yang tahu. Karena Dialah yang mengatur dan ia yang memainkan. Dia bagaikan dalang yang memainkan wayangnya. Sudah tertulis tinggal dijalani saja.


"Ayok semua masuk," ajak Nisa. Nisa tidak kaget melihat ekspresi mereka terutama Bagas dan Ivan. Nisa paham karena yang Nisa tahu mereka berasal dari keluarga yang berada. Untuk Rindang, Nisa cukup terkejut melihat ekspresinya yang seperti Bagas dan Ivan. Namun rasa penasarannya tidak begitu membuncah.

__ADS_1


Mereka mengikuti Nisa yang berjalan terlebih dahulu. Mereka melihat ruangan yang cukup kecil jika dibandingkan dengan rumah mereka, namun ruangannya bersih dan rapi. Nyaman untuk ditempati.


Nisa mengambil tikar yang cukup luas, lalu membentangkannya di lantai.


"Maaf ya semua, karena kursinya tidak cukup, kita duduknya lesehan ya," ucap Nisa tidak enak.


"Nis kita kesini bukan untuk menilai dan juga dinilai. Kita kesini untuk main, untuk berkunjung," ucap Bagas dengan tulus.


Semuanya setuju dengan ucapan Bagas.


Semuanya menoleh ke arah Ivan. Mereka terperangah mendengar ucapannya.


"Kenapa?" Ivan memicingkan matanya.


"Eh Nis, jalan menuju ke sini ada demit protagonis ya Nis?" tanya Bagas.


"Kayaknya ada Kak."

__ADS_1


"Wah wah wah gue berharap demitnya tetep nempel sama Ivan. Siapa tahu ntar dia jadi pendakwah," ucap Dhika.


"Terus ntar kalau gue ngadain pengajian, gue suruh aja Ivan yang ndakwah. Lumayan kan gak perlu bayar, tinggal kasih nasi sepiring saja," gurau Bagas.


"Sembarangan! Di dunia ini tidak ada yang geratis mamen," ucap Ivan.


"Itu nggak gratis bege! Gue bayar tuh pakai nasi sepiring," ucap Bagas.


"Dasar pelit! Gak modal lo Gas. Gini aja nggak modal, nanti lo nikahnya gimana? ckckck,"


"Hohoho kalau itu mah udah masuk daftar prioritas. Gue pelitnya cuma sama lo doang Van," ucap Bagas.


"Haihh ngeles mulu lo!" Ivan melengos.


"Eh Kak, tapi gue kasihan sama jamaahnya. Kalau semuanya tersesat gimana dong? Secara kan Kak Ivan ajarannya ajaran sesat," ucap Okta.


Suara tawa renyah memenuhi ruangan rumah Nisa.

__ADS_1


__ADS_2