
"Wah ada tamu ternyata."
Sapaan Bu Tin menghentikan senda gurau mereka. Perhatian mereka tertuju pada Bu Tin.
"Eh Bulik Tin. Okta kangeeennn."
Okta berdiri langsung memeluk erat Bu Tin. Sudah lama ia tidak memeluk mamak dari sahabatnya itu.
"Kamu sih, jarang main. Kalau nganter Nisa bukannya mampir dulu malah langsung pulang."
Okta terkekeh. Memang benar adanya. Ia jarang mampir ke sana walau hanya sebentar.
Mereka semua ikut berdiri, menyapa Bu Tin. Dengan senang hati Bu Tin menerima uluran tangan mereka.
"Terimakasih ya, kalian mau main ke gubuk Nisa ini. Maaf kalau kurang nyaman," ucap Bu Tin.
"Nggak kok Buk, kami nyaman kok. Walaupun kecil, tapi rumahnya nyaman ditempati Buk," ucap Ivan.
"Huss!" Bagas menendang kaki Ivan. Ivan meringis kesakitan.
"Kenapa sih lo!" Ivan tak terima.
"Maafkan teman kami Buk." Bagas tidak enak karena Ivan menyinggung kata kecil.
Bu Tin tertawa, " Haha sudahlah Nak, memang benar. Namanya juga gubuk ya kecil Nak. Tapi syukurlah kalau kalian nyaman."
"Loh Nis, kamu belum kasih mereka minum?" tanya Bu Tin. Ia masih melihat tikar yang mereka duduki masih kosong, tidak ada minuman bahkan makanan yang tersedia.
"Hehe lupa Mak."
Bu Tin menggeleng, "Ck kebiasaan deh Nis"
"Maaf Mak." Nisa mengembangkan senyum bersalahnya.
"Udah Buk, gak usah," tolak Rindang halus.
"Tidak apa. Kalian ngobrol aja. Ibu buatkan minum untuk kalian," ucap Bu Tin sambil berlalu menuju ke dapur.
Nisa juga berdiri mengikuti ibunya menyiapkan camilan untuk mereka. Setelah semuanya siap, Nisa membawa minuman itu untuk para sahabatnya.
"Maaf ya hanya ada teh manis anget doang," ucap Nisa.
__ADS_1
"Yaampun Nis, malah repot-repot. Untuk Ivan mah air keran sudah cukup" ucap Dhika seenaknya.
"Budubuset! Gak bener nih. Wahh... lo ternyata udah terkena virus bully diriku dari Bagas." ucap Ivan tidak terima.
"Ya Tuhan, tabahkanlah hamba-Mu yang teraniaya ini."
Ivan menengadahkan tangannya, kepalanya mendongak ke atas, seperti berdoa.
"Helehh sok suci lo bege!"
Bagas mendorong Ivan ke depan. Ivan menggerutu kesal. Gelak tawa terdengar di antara mereka.
"Wihhhh ada tamu nih!" sapa Setyo yang baru pulang kerja.
"Udah pulang Mas?" tanya Okta.
"Belum Ta. Yang disini bayangannya doang," gurau Setyo.
"Lahh mas kalau jawab yang bener dong, ih," keluh Okta.
"Lah lagian kamu kalau tanya yang bener aja Ta. Udah disini ya berarti sudah pulang," timpal Rindang. Semua tertawa.
"Nih untuk kalian semua. Untung saja firasatku benar."
Tiba-tiba Bu Tin meletakkan sepiring makanan umbi-umbian yang berkulit coklat dengan daging berwarna putih di depan mereka. Rindang, Dhika, Bagas, dan Ivan menatap aneh makanan itu. Mereka belum pernah melihat bahkan memakannya.
Seperti ini bentuknya.
"Itu apa Buk?" tanya Dhika. Pertanyaan Dhika sukses mengundang perhatian.
"Seriusan Kakak nggak tahu?" celetuk Nisa.
Rindang, Bagas, dan Ivan juga mengakuinya. Bu Tin tersenyum.
"Ck dasar orang Indonesia gayanya anak manca. Gitu aja gak tahu," ledek Setyo.
"Mas.... " panggil Bu Tin penuh peringatan.
Setyo hanya menunjukkan deretan gigi putih dengan cengiran khasnya.
__ADS_1
Bu Tin tersenyum, "Ini namanya gembili. Kandungan karbohidrat pada gembili cukup tinggi. Bagus sebagai bahan pengganti beras. Jadi cocok dikonsumsi oleh orang yang ingin diet," jelas Bu Tin.
"Cobalah," ucapnya lagi.
Mereka hanya mengangguk lalu mencoba memakannya. Ternyata rasanya enak. Ada sedikit rasa manis yang terasa saat dilidah.
Hari semakin petang. Mereka ingin berpamitan pulang. Namun permintaan Bu Tin, membuat mereka tinggal.
"Semuanya, jangan pulang dulu. Ibu udah menyiapkan makan malam untuk kalian. Yaa walaupun mungkin tidak seenak di rumah kalian" ajaknya.
Pak Man berjalan menghampiri mereka yang duduk lesehan. Ya, mereka tidak menuju ke meja makan. Kursinya tidak cukup untuk menampung 10 orang. Mereka tetap duduk di tempat semula. Satu persatu makanan disuguhkan di depan mereka. Menu makanan yang sederhana namun menggugah selera.
Tumis kangkung, tahu dan tempe goreng, telur dadar, dan sambal terasi tersaji sebagai menu makan malam yang akan mereka santap. Kerupuk udang ditambahkan sebagai pelengkap.
"Maaf ya, hanya ini yang bisa ibu sediakan. Ayo dimakan," ucap ibu mempersilahkan.
Satu persatu mengisi piring mereka dengan menu yang ada. Mereka menyantap makan malam mereka dengan lahap. Menu sederhana terasa lebih nikmat saat disantap dengan keluarga dan sahabat seperti ini. Rasa masakan Bu Tin cocok di lidah mereka.
"Wahh kenyang," ucap Ivan sambil memegangi perutnya.
"Bu masakannya enak," puji Dhika.
"Syukurlah kalau cocok di lidah kalian."
"Bagaimana sekolah kalian?" tanya Pak Man.
"Sekolah kami lancar, Pak," ucap Rindang mewakili mereka semua.
"Syukurlah kalau begitu,"
"Ini kerupuk masih ada yang mau tidak?" tanya Pak Man. Mereka semua menggeleng. Perut mereka sudah terlalu penuh untuk menampung sebuah kerupuk.
"Baiklah Bapak ma....." ucap Pak Man terjeda saat Bu Tin mengambil kerupuk yang Pak Man pegang.
"Yaaa.... " ucap Pak Man yang tidak rela.
"Lah kan tadi Bapak tanya, yaudah mamak makan," ucap Bu Tin kemudian melahap kerupuk itu. Gelak tawa mereka terdengar melihat tingkah konyol sepasang suami istri itu.
//
**Terimakasih untuk semua yang telah berkunjung dan berkenan mendukung karya ini. Tanpa kalian, karya ini hanya menjadi onggokan cerita tak berpaedah (ya walaupun mungkin masih tidak berpaedah 🤣🤣)
__ADS_1
Jangan bosen mampir ya semuaa
Pengamen receh cinta kaliaaannn 😘😘😘💕**