
Yosse tengah bersender di mobilnya sambil menyedekapkan tangan di dadanya. Cukup sering ia mengalihkan pandangannya dari melihat ke arah rumahnya kemudian ke jam tangannya, atau sebaliknya. Muka kesal ia tunjukkan karena sudah terlalu lama ia menunggu Rindang siap, padahal hari sudah semakin siang.
Memang masih pukul 05.45. Tapi Rindang harus segera berangkat ke sekolah. Perjalanan dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, jika tidak macet.
"Astaga ngapain aja sih nih anak? Sudah jam segini masih belum siap juga."
Yosse berdecak sebal, tak sabaran menunggu Rindang. Namun itu tidak mengurangi ketampanannya. Yosse tetap terlihat sangat tampan dengan tubuh berbalut kemeja putih yang dipadukan dengan celana ripped jeans, membuatnya terkesan rapi namun tidak kaku bahkan terlihat santai.
"Rin buruan!" teriak Yosse.
"Bentar Bang."
Rindang berlari menghampiri Yosse. Yossa memandang sekilas adik kembarnya itu dengan air muka malas karena terlalu lama menunggu.
Rindang berhenti di depan Yosse. Ia meneliti gaya berpakaian Abangnya itu.
"Wihh Abang. Tumben sekali abang pakai kemeja? Yah walaupun bawahannya kek preman pasar sih," ucap Rindang sambil memegang dagunya sendiri, menilai penampilan Yosse pagi ini. "Mau kemana sih Bang?"
Yosse meraup muka Rindang dengan tangannya. "Dasar katrok," ejek Yosse. "Ya abang mau nganterin kamulah, terus nanti sekalian main ke perusahaan Papa."
"Heleeh gayamu Bang," ucap Rindang tanpa memperdulikan ejekan Yosse. Ia sudah kebal dengan ucapan Yosse.
Ditengah percapakan mereka, Tuan dan Nyonya Mellano menghampiri mereka.
"Pa, Ma berangkat," pamit mereka berdua.
"Iya, hati-hati," ucap Nyonya Mellano.
"Bang nanti jadi ke kantor?" tanya Tuan Mellano.
"Ohh jadi dong Pa,"
"Ayok Bang berangkat." Suara Rindang mengintrupsi percakapan diantara papa dan anak.
Mereka segera berangkat dengan memakai jasa sopir karena mereka belum diperbolehkan membawa mobil sendiri. Umur mereka masih di bawah 17 tahun.
Disisi lain, Nisa menjemput sobatnya, Okta untuk berangkat ke sekolah. Ia telah bersiap dengan seragam lengkapnya.
Tepat pukul 06.45 Rindang hampir sampai di area sekolah. Namun ia meminta Yosse untuk menurunkannya di halte bus dekat sekolah saja. Ia tidak mau menggemparkan seisi sekolah di pagi ini.
"Kamu yakin cuma sampai disini doang?" tanya Yosse ragu-ragu.
"He'em Bang." Nisa mengangguk. "Aku gak mau menghancurkan persepsi mereka tentang diriku Bang. Mereka sudah mengira diriku miskin sejak awal. Jika kalau mereka tahu aku turun dari mobil ini, bisa-bisa aku dikira simpanan om om Bang." Rindang terkekeh membayangkan dirinya dibully lagi.
"Amit-amit dah," batin Rindang sambil mengetuk dahinya sendiri.
"Kenapa Rin?" Yosse merasa heran melihat tingkah aneh Rindang.
"Nggak kok Bang. Bye," ucap Rindang sambil membuka pintu mobil. Rindang berjalan menjauhi kakak kebarnya.
Yosse menatap punggung Rindang semakin menjauh. Namun ia masih tetap bergeming disana. Sopir yang bertugas mengantarnya, menunggu cukup lama perintah dari Yosse namun tak kunjung ia mendengarnya.
"Tuan Muda, mau kemana lagi?" tanya sopir meberanikan diri.
"Sebentar Pak."
Yosse masih menunggu di dalam mobil. Ia mengamati pemandangan di luar sana. Banyak anak remaja berseragam putih abu-abu mulai berdatangan semakin ramai.
__ADS_1
Sampai ia melihat tiga sosok orang yang ia tunggu-tunggu. Mereka adalah Dhika, Bagas, dan Ivan. Yosse memandang mereka dengan tatapan nanar melihat mereka bertiga bersenda gurau. Rasa bahagia bercampur sesak menjadi satu ditambah suatu rasa kerinduan. Kelegaan ia rasakan saat melihat Dhika baik-baik saja.
"Gue harap lo bahagia selalu Dhik. Ingin sekali gue nyamperin kalian. Namun gue belum punya keberanian untuk muncul dihadapan kalian, terutama lo Dhik. Karena gue memang seorang pengecut."
"Jalan Pak," perintah Yosse setelah dirasa cukup. Sang Sopir melajukan mobil meninggalkan area SMK Guna Bhakti.
"Eh Dhik, kapan lo latihan buat lomba?" tanya Bagas.
"Nanti sepulang sekolah sih rencananya."
"Eleh, emang lo udah tahu partner duet lo siapa?" tanya Ivan.
"Sudahlah, emang lo!"
Bukan jawaban dari Dhika yang terdengar, namun Bagas yang menjawab pertanyaan Ivan.
"Gue gak tanya lo bege!"
"Sama ajalah,"
"Beda, woii!"
"Haiss sak karepmu!" (artinya terserah kamu)
"Makanya kalau ada info didengarkan. Dikasih kuping dua kok cuma dijadiin pajangan," ucap Dhika. Ia menggeleng pelan sambil berlalu meninggalkan Bagas dan Ivan menuju ke kelas.
Bagas dan Ivan segera berlari menyusul Dhika.
Sementara itu di dalam kelas X BM 2, keributan terjadi akibat ulah pasangan fenomenal yang tidak ada habisnya. Pasangan serasi kategori musuh bebuyutan. Siapa lagi kalau bukan Candy dan Adi. Ada saja hal yang mereka ributin.
"Scoobydii!!!" teriak Candy yang sudah capek mencari penghapusnya yang hilang. Padahal ia mau menggunakan penghapus itu untuk perbaikan nilai.
"Tuh"
Candy menunjuk ke arah Adi. Nisa hanya ber oh ria.
"Apa lo nunjuk-nunjuk gue?" ucap Adi curiga.
"Lah kenapa Scoobydi? Bukannya yang ada itu Scooby Doo?" tanya Marsha, si gendut yang tukang makan.
"Kan kemarin dia bilang rabies, jadi yaudah jadi saudaranya. Karena namanya Adi yaudah deh jadi Scoobydi."
Kata-kata yang terlontar dari mulut Candy sukses menggoyahkan seisi kelas untuk tidak tertawa. Adi sang empunya nama memasang muka cemberut.
"Wahh bener-bener lo Zani!"
"Apaa?!" tantang Candy.
"Penghapus gue lo untit ya?"
Seketika ia teringat tujuan awalnya ia berteriak. Candy menuduh Adi yang kebetulan berada tidak jauh darinya.
"Eh eleh, enak aja lo nuduh gue sembarangan," kilah Adi.
"Yakk! Siapa lagi kalau bukan lo yang ambil?!"
"Eh Zani. Dengerin baik-baik ya." Adi berhenti sejenak.
"GUE GAK AMBIL PENGHAPUS LO!" teriak Adi di dekat telinga Candy.
"Scoobydi yang jeleknya lebih dari tujuh turunan, BISA BUD*G GUE DENGER SUARA LO!" Candy membalas perbuatan Adi.
__ADS_1
Adi mengusap telinganya yang berdenging mendengar teriakan Candy.
"Gila bisa bud*g beneran gue," geruntu Adi.
"Haihh ternyata kalian memang cocok ya. Malahan kalian sudah nyuri start lagi. Udah punya panggilan sayang," goda Okta.
"Ciyeee!" goda seisi kelas kemudian tertawa. Adi dan Candy acuh, masih sibuk dengan urusan mereka.
"Kembaliin penghapus gue Di. Ayolah, penting ini." Candy memohon sambil menatap Adi dengan muka melas.
"Ya- ya gue gak tahu, diambil demit kalik," ucap Adi gugup ditatap Candy seperti itu. Kali ini dia jujur. Memang bukan dia yang mengambil penghapus milik Candy.
"Yahh gimana dong, gue butuh banget nih. Mana perbaikannya matematika lagi. Gak ada penghapus gak asik," keluh Candy. Dia sering menggunakan penghapusnya untuk memilih jawaban yang soalnya susah dijawab.
"Udah deh Ken, kamu pake aja dulu punyaku," Nisa mengulurkan penghapusnya untuk Candy.
"Ini beneran Nis?" Nisa mengangguk.
Candy mengambil penghapus itu dan mengucapkan terimakasih pada Nisa. Candy segera pergi meninggalkan kelas ke ruang yang digunakan untuk perbaikan nilai.
"Nis lo ada remidi gak?" tanya Okta. Nisa menoleh ke arah Okta.
"Nggak sih Ta. Kalau kamu?"
"Gue juga enggak sih." ucap Okta walaupun nilainya tak sebagus nilai Nisa. Tidak pernah sekalipun ia merasa iri dengan prestasi sahabatnya.
"Oh iya, lo udah latihan nyanyi belum buat lomba nyanyi duet?" tanya Okta kemudian.
"Belum Ta. Rencananya sih nanti sepulang sekolah."
"Lah lo udah tahu partner duet lo?" tanya Okta heran.
"Udah, dia Kak Dhika."
"Wah wah wah. Memang ya kalau jodoh itu tidak kemana ckckck," goda Okta.
"Apaan sih Ta? Gak juga kali," ucap Nisa sambil tertawa. Dia merasa lucu saja Okta sampai berbicara seperti itu.
"Haihh lo itu Nis. Lo nggak tahu apa? Kayaknya Kak Dhika punya rasa lebih deh sama lo. Terlihat dari tatapannya ke lo itu beda. Sikapnya juga beda,"
"Kalau ngomong jangan sembarangan Ta. Nggak mungkinlah."
Nisa tidak percaya dengan ucapan Okta. Nisa berpikir, mana mungkin cowok seperti Dhika menyukai orang seperti dirinya. Dia hanya seorang anak dari petani, sedangkan Dhika? Anak kolongmerat. Dilihat dari situ aja sudah bagaikan langit dan bumi. Lagian Nisa tidak memiliki rasa yang berbeda untuk Dhika kecuali rasa sayang sebagai seorang sahabat sekaligus kakak.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Nis," ucap Okta.
Nisa tidak menanggapi ucapan Okta. Ia mengabaikan ucapan Okta.
Merasa diabaikan, Okta menabok lengan Nisa.
"Aihh Ta, sakit tahu."
Nisa meringis kesakitan sedangkan Okta hanya menjukurkan lidahnya.
"Btw Nis, kenapa nggak nanti setelah istirahat pertama aja latihannya? Lagi pula kan hari ini sampai besok jadwalnya cuma remidi doang kan, sedangkan lo sudah lulus semua," usul Okta.
Nisa langsung menghidupkan gawainya tanpa menjawab perkataan Okta. Ia mencari nomor Dhika untuk mengajaknya latihan setelah istirahat pertama saja. Dhika menyetujuinya. Kebetulan nilai Dhika banyak yang mendekati nilai sempurna, bahkan sempurna. Jadi tidak perlu perbaikan.
Di dalam kelas itu suasana begitu sepi. Kebayakan dari mereka mengikuti perbaikan. Nisa dan Okta memutuskan untuk ke kantin. Hingga di dalam kelas hanya tersisa beberapa orang saja, termasuk Adi.
Adi masih berbincang dengan dua orang lainnya. Tanpa sengaja ia melihat sebuah penghapus. Ia mengambilnya sambil tersenyum penuh arti. Ketulusan tersirat dibalik senyumnya. Adi mengamati penghapus itu dengan seksama kemudian menyimpannya tanpa mengembalikan penghapus itu kepada sang empunya.
__ADS_1