
Kegiatan bazar masih berjalan. Nisa dan yang lainnya berkeliling melihat barang yang dibazarkan. Berbagai macam barang ada di sana. Mulai dari makanan, kerajinan, pernak-pernik, dan masih banyak lagi.
"Eh my princess ada di sana," ucap Ivan yang melihat ke arah Jeje yang berdiri di dekat pintu gerbang.
Tanpa berpamitan lagi, Ivan berlari menghampiri Jeje. Meninggalkan semua sahabatnya yang menggeleng tidak percaya dengan tindakan Ivan.
"Astaga ternyata dia suka sama bodyguardnya Mak Lampir ya," ucap Okta ceplas-ceplos.
Sudah menjadi rahasia umum jika Ivan sudah lama menyukai Jeje namun ia selalu saja ditolak. Mereka lanjut berkeliling, meninggalkan Ivan yang sedang berusaha meraih cintanya.
"Hai my princess," sapa Ivan.
"Ngapain lo ngikutin gue ke sini?!"
"My Princess mau kemana?"
"Bukan urusan lo!"
Jawaban ketus dari Jeje tak menyurutkan semangatnya untuk mendekati Jeje.
"Hei Je, gue beneran. Lo mau kemana? Kalau mau pulang, ini kan belum waktunya pulang?"
Jeje tidak menjawab pertanyaan Ivan.
__ADS_1
"Jawab aja mau kemana Je. Gue anter lo mau kemana. Jawab gue Je, dari pada lo nunggu kendaraan umum di sini?"
Ivan tahu kalau hari ini Jeje tidak membawa mobil kesayangannya untuk sekolah. Mobilnya disita oleh mamanya sejak beberapa hari yang lalu. Tadi pagi, ia melihat Jeje diantar oleh mamanya.
"Gue udah pesan taxi online kok," kilah Jeje yang sebenarnya ia tahu, taxinya masih jauh. Jeje juga tidak bisa menelpon sopir keluarganya karena sopirnya cuti, pulang kampung.
"Udah cancel aja, gue anterin." Ivan menarik Jeje menuju mobilnya.
Ivan memaksa Jeje untuk ia antarkan kemana pun Jeje mau pergi. Sedangkan Jeje tidak punya pilihan lain. Ia harus segera sampai ke tempat tujuan. Jeje mengencel pemesanannya.
"Hari ini gue pemenang yang sesungguhnya Je," batin Ivan saat Jeje mengikutinya tanpa ada penolakan.
"Kemana?"
Alih-alih menjawab, Jeje malah bergeming, melamunkan seseuatu yang tidak Ivan ketahui.
"Rumah Sakit XXX."
Kecemasan terlihat jelas di muka Jeje. Ivan segera melajukan mobilnya ke sana. Jeje mendapat kabar kalau mamanya jatuh dari tangga dan kakinya patah. Ia segera menuju rumah sakit karena hanya mamanyalah keluarganya saat ini. Sikapnya yang terlalu dimanja mamanya membuatnya tumbuh menjadi anak yang harus memiliki apapun yang ia inginkan, sehingga menjadi pemicu tumbuhnya sikap provokatif yang sering ia tunjukkan saat Cecil tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sementara di sisi lain, Cecil, Rere, dan Lala tengah mencari keberadaan Cecil. Jeje tidak bilang kalau ia pulang lebih awal. Mereka mencarinya di penjuru sekolah namun mereka tidak menemukannya.
"Aduh kebelet nih. Aku ke toilet dulu ah," batin Nisa.
__ADS_1
"Semuanya sebentar ya, kalian duluan aja. Nanti aku susul."
"Oke Nis jangan lama-lama yakk," ucap Okta tanpa menanyakan kemana Nisa pergi.
Nisa pergi berlalu menjauhi mereka semua menuju toilet. Ia masuk ke dalam toilet untuk buang air kecil.
"Hahh leganya."
Nisa membuka pintu toilet. Namun sayangnya pintu itu tidak bisa terbuka. Nisa terkunci dari luar. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membukanya, namun percuma. Tenaganya tidak cukup besar untuk membuka paksa pintu itu.
Nisa teringat gawai, kado dari Setyo. Dia menggeledah semua saku dari baju yang ia kenakan. Gawai itu tidak ia temukan. Ia baru ingat kalau gawainya ia taruh di dalam tas yang ia tinggalkan di dalam kelas. Dan kesalahannya kali ini adalah ia tidak memberitahukan kepada sahabatnya, kemana ia akan pergi. Sedangkan Nisa malah memilih tempat yang salah karena ia malah menggunakan toilet yang berada di ujung sekolah yang cukup jarang digunakan.
"Astaga bodohnya diriku."
Nisa menggedor-gedor pintunya, meminta siapapun orang yang di luar untuk menolongnya.
"Tolongg! Yang di luar, tolongin aku. Aku mohon tolong keluarkan aku dari sini....!"
Namun bukannya mendapat pertolongan, lampu toilet itu malah padam.
Sementara itu, di luar toilet Cecil berdiri seorang diri dengan senyuman miring yang terlukis di wajahnya. Tangannya bersedekap di depan dada.
"Takkan gue biarkan lo menang Cewek Sialan. Karena gue, pemenang yang sesungguhnya."
__ADS_1
Cecil tidak sadar bahwa dengan sikapnya yang seperti itu, akan menjerumuskannya pada awal dari sebuah titikkehancurannya di masa depan. Ia bukan menjadi pemenang yang sesungguhnya namun itu awal untuk menjadi pecundang yang sesungguhnya.
Cecil segera pergi dari sana sebelum ada orang yang melihatnya.