
"Eh Ta, Nisa sudah selesai belum ya pinjam bukunya di perpus?" tanya Rindang yang sedang meminum es jeruknya.
Okta meletakkan sendok di piring yang telah kosong. "Nggak tahu juga sih."
"Lo udah selesai makan?"
"Udah,Ta."
"Ayo kita susul Nisa ke perpus, mumpung masih ada waktu. Siapa tahu dia butuh bantuan kita," ucap Okta sambil beranjak dari duduknya.
"Mang, bayar," teriak Okta. Mereka berdua segera membayar makanan yang mereka makan.
Mereka berjalan menuju perpus. Namun mereka kaget ketika melihat Nisa dipapah oleh Ivan dan Bagas membawa setumpuk buku. Mereka berlari menghampiri Nisa.
"Nis, lo kenapa?" tanya Okta panik.
Nisa tersenyum. "Udah Ta, aku nggak papa."
Ivan menatap malas mereka, karena mengingat kejadian tadi.
"Bener kata lo, Ta! Mereka benar-benar mak lampir!" ucap Ivan kesal.
Okta dan Rindang menoleh ke arah Ivan, meminta penjelasan lebih.
"Iya bener. Semua ini gara-gara dia."
"Bener-bener ya! Ni orang, atau jelmaan iblis sih? Dari dulu gak ada berhentinya!" ucap Okta geram.
"Gak bisa dibiarin."
Okta ingin pergi menghampiri Cecil. Namun tangannya dicekal oleh Nisa. Nisa menggeleng pelan.
"Udah Ta nggak usah diperpanjang. Biarkan dia berbuat semaunya sendiri."
__ADS_1
"Tapi Nis.. "
"Sudahlah. Lebih baik kita obati kaki Nisa dulu." ucap Bagas memotong ucapan Okta.
Okta pun setuju. Mereka berjalan pelan menuju UKS.
*****
Srett
Tangan Cecil ditarik paksa oleh seseorang.
"Lepasin, Beib, sakit!"
Dhika menghempaskan tangan Cecil dengan kasar. Ia benar-benar marah. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi amarahnya. Ia melihat semua kejadian yang dilakukan oleh Cecil dan para sahabatnya dengan Nisa. Ia tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa melihat dari kejauhan.
Dhika berkacak pinggang lalu melepaskan tangan dari pinggang dengan kasar.
"Gue sudah memilih untuk menerima lo. Tapi kenapa lo masih saja berulah, ha?!"
"Kenapa lo diem? Kenapa?!"
Dhika melontarkan pertanyaanya bertubi-tubi.
"Apa sih mau lo?"
Cecil hanya tersenyum tipis namun terlihat masam saat mendengar penuturan Dhika. "Mau gue? Lo mencintai gue seutuhnya!"
"Kenapa lo gak bisa memandang gue sedikitpun? Kenapa?" tanya Cecil. Penolakan Dhika adalah suatu hal yang menyakitkan untuknya, apa lagi semua itu karena Nisa. Ia tidak akan pernah rela.
"Gue gak bisa jawab, karena hati gue yang berbicara. Bukan kemauan gue sendiri."
"Gue udah nurutin kata-kata lo. Gue udah berusaha sabar menghadapi tingkah lo. Jika masih mau berlanjut jangan pernah usik Nisa lagi dan gue akan bersama lo. Namun jika lo masih mau mengusik Nisa, lebih baik kita selesai dan nggak usah diteruskan!" ucap Dhika sambil berlalu pergi meninggalkan Cecil. Ia tidak mau lepas kontrol karena orang yang dia sayangi dilukai.
__ADS_1
Cecil mengerang fruatasi. "Kenapa jadi begini sih?"
*****
Dhika melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Sampai ia berdiri di depan ruang UKS. Ia melihat Bagas mengurut kaki Nisa yang lebam karena terkilir dari kaca jendela.
Ia mendengar rintihan Nisa saat kakinya itu ditarik oleh Bagas. Ia ikut merasakan ngilu yang dirasakan Nisa.
"Tahan sebentar Nis. Kali ini akan lebih sakit." Terdengar suara Bagas yang memperingati Nisa agar Nisa mempersiapkan dirinya. Nisa mengangguk.
"Aaaaaaaaa" teriak Nisa. Kali ini rasanya memang lebih sakit dari yang tadi.
Ia menatap Nisa dengan rasa bersalah. Ia hanya bisa menatap dari kejauhan, karena ia tidak mau Nisa mendapat masalah yang lebih besar lagi. Ia berlalu menjauh dari ruang UKS.
*****
"Gimana Nis?" tanya Rindang.
Nisa menggerakkan kakinya. Lebih mudah digerakkan dan tidak sesakit tadi.
"Sudah lebih enakan." Nisa menatap mereka dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Syukurlah," ucap mereka bersamaan.
"Eh Brithgas. Kayaknya lo udah cocok deh jadi tukang urut," ucap Ivan sambil tertawa. Ia membayangkan Bagas mengurut orang lain dengan kacamata hitam yang dipakai. Rambut Bagas pun dibuat gimbal. Ivan semakin tertawa karena membayangkan semua itu.
Bagas menabok keras pundak Ivan.
"Aaa sakit bege!"
"Makanya jangan sembarangan bayangin orang yang tidak-tidak. Gue tahu lo habis bayangin gue yang aneh-aneh!" ucap Bagas kesal.
"Iya, emang. Gue bayangin lo pakai kacamata hitam terus rambut lo digimbal. Hahaha terus lo bilang : udah cu, gimana sekarang? udah enakan?" ucap Ivan sambil menirukan kakek-kakek berbicara.
__ADS_1
"Sialan lo!"
Gelak tawa pun terdengar di antara mereka.