Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Terungkap 1


__ADS_3

Di rumah sakit, Yosse menunggu Nisa tersadar. Ia duduk di samping ranjang tempat Nisa terbaring. Matanya tak pernah lepas memandang Nisa yang masih belum membuka matanya.


Tiba-tiba Nisa terbangun. Ia menangis sesenggukan. Yosse mendekat ke arahnya ingin mengelus pelan pundak Nisa. Namun Nisa malah memeluknya erat. Ia menangis di dada bidang Yosse. Air mata mebasahi kemeja yang ia pakai. Yosse berusaha menenangkan Nisa. Ia mengelus pelan punggung Nisa. Hingga Nisa tertidur di dalam dekapannya.


Yosse memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nisa lagi.


Selesai memeriksa dokter mengajak Yosse untuk keluar sebentar.


"Apakah adik ini keluarganya pasien?" tanya dokter.


"Bukan Dok, saya temannya."


"Boleh hubungi orang tuanya?"


"Maaf Dok, saya tidak mengetahui orang tuanya. Bagaimana keadaannya Dok?"


"Baiklah. Sepertinya dia memiliki trauma masa lalu yang ia pendam sendiri. Kemungkinan sebelum pingsan, trauma itu muncul kembali."


"Terus kenapa dia pingsan lagi Dok?" ucap Yosse cemas. Dokter tersenyum melihat kecemasan yang terlihat jelas di wajah Yosse.


"Dia hanya tertidur Dek, tenang saja. Sebentar lagi pasti dia bangun."


"Hahh syukurlah." Yosse menghela napas lega.


"Terus bagaimana penyembuhannya Dok?"


Dokter itu menegakkan badannya, kemudian menghela napas.


"Dia bisa berkonsultasi ke psikiater ataupun psikolog. Tapi akan lebih membantu jika dirinya sendiri yang mengatasi. Karena hanya kemauannya sendiri untuk sembuhlah yang mampu menyembuhkannya."

__ADS_1


Dokter dan Yosse masih berbincang membahas tentang Nisa. Sampai Yosse melihat Dhika dan yang lainnya muncul dari lorong ujung.


"Gawat. Ternyata Nisa sahabat adik gue dan juga sahabat dari sahabat gue."


Yosse panik melihat kedatangan mereka. Yosse meminta dokter untuk merahasiakan siapa yang membawa Nisa dan memintanya untuk memberitahukan apa yang terjadi dengan Nisa. Setelah itu Yosse berjalan meninggalkan tempat itu.


Okta, Rindang, Dhika, Bagas, dan Ivan berlari menghampiri sang dokter yang berdiri sendirian di depan ruangan, tempat Nisa dirawat. Mereka tidak sempat melihat keberadaan Yosse di sana.


"Dok apakah benar anak perempuan yang dirawat di dalam itu Nisa?" tanya Dhika.


"Iya betul. Adik-adik ini siapa ya?" Dokter mulai memerankan perannya.


"Kami teman sekolahnya Nisa Dok. Bagaimana kondisinya?" ucap Okta.


"Jadi begini. Sepertinya dia mengalami trauma dari masa lalunya, dan mungkin hari ini dia mengalami suatu kejadian yang memunculkan trauma itu kembali. Tubuh yang gemetar, muncul keringat dingin dan berujung pingsan adalah hal yang biasa dialami oleh seseorang yang traumanya muncul kembali. Dia tidak apa-apa. Saat ini dia sedang tertidur. Setelah dia siuman, dia sudah boleh dibawa pulang."


Dokter meninggalkan mereka karena masih ada pasien yang masih harus ia tangani. Mereka masih berdiam diri. Masih menerka-nerka apa yang terjadi dengan Nisa, kecuali Okta. Ia terduduk di kursi tunggu.


"Astaga Nis, selama ini lo nyimpen semua masalah lo sendiri. Sampai-sampai gue nggak tahu kalau luka masa lalu lo bikin lo trauma seperti ini. Sahabat macam apa gue?Gue memang bukan sahabat yang baik."


Okta menangis dalam diam. Dia menyesali dirinya yang kurang peka dengan Nisa.


"Ta, lo kenapa?"


Rindang menghampiri Okta yang menangis sendirian. Rindang mengelus pundak Okta pelan lalu membawa Okta ke dalam pelukannya. Ia menangis di bahu Rindang. Dhika, Bagas, dan Ivan memandang Okta dengan seksama, menunggu penjelasan Okta tentang apa yang terjadi.


Cukup lama Okta menangis. Ia mendongakkan kepalanya lalu tersenyum tidak enak kepada Rindang.


"Hehe sorry Rin, terbawa suasana." Okta mengusap sisa air matanya dengan lengan bajunya.

__ADS_1


"Haiya Ta, pakai tisu napa? Jangan pakai bajumu. Kotor Ta kotor."


Rindang memberinya tisu untuk membersihkan sisanya. Okta pun akhirnya menyadari kalau ia dipandangi oleh ketiga lelaki di depannya.


"Kalian kenapa?"


"Yaelah Ta, kita semua menunggu penjelasan lo, kenapa lo tiba-tiba nangis?" tanya Ivan.


"Apakah lo tahu apa yang dialami Nisa?" susul Dhika dengan pertanyaannya.


"Haihh kalian tanyanya satu-satu kenapa?" geruntu Okta. Ia mengambil botol air mineral dari tangan Rindang lalu meminumnya.


"Eh Ta, lo yang nangis dan bikin kita penasaran, terus kenapa lo sekarang sesantai ini? Kayak nggak punya dosa aja lo!" ucap Ivan kesal.


Okta hanya menyengir, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Bentar gue mau bernapas dulu."


"Wah wah, berarti selama ini lo demit Ta?" ucap Ivan ceplas-ceplos. Okta menajamkan matanya kemudian melempar botol minumnya ke arah Okta.


"Santai, santai."


Okta berdecak kesal.


"Udah deh, serius sedikit bisa tidak?" ucap Dhika yang jengah melihat sikap Ivan dan Okta.


"Ceritakan Ta!" ucapnya lagi.


"Jadi....." Okta sengaja menjeda ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2