
Okta POV
Hari ini gantian aku yang menjemput Nisa. Katanya motornya mau dipakai bapaknya untuk ke kota. Dia menelponku tadi. Kenapa nggak chat WA? Ya, sudah jelas. Hp Nisa masih hp jadul. Aku tahu, hidupnya sesederhana itu. Kalau dia mau, sebenarnya dia bisa minta dan orang tuanya akan mengusahakan. Tapi itulah Nisa. Dia tidak mau menyusahkan mereka. Dia berpikir kalau sudah waktunya tiba, orang tuanya akan membelikannya.
Aku mengeluarkan motorku dari garasi. Tak lupa kupanasi motornya sebelum ku pakai. Sambil menunggu motor siap pakai aku sarapan bersama keluargaku. Aku meminta Mang Ndut, sopir yang bekerja untuk papa untuk mematikan motorku kalau udah panas.
Aku segera masuk ke dalam rumah dan menyapa mama papaku yang sudah berada di sana.
"Ta tumben bawa motor? Minggu ini jadwalnya dijemput Nisa kan?" tanya Papaku, Irawan yang kerap dipanggil Wawan ketika aku menarik salah satu kursi di meja makan.
Aku pun menjelaskannya. Aku segera menyelesaikan sarapanku lalu berpamitan kepada kedua orang tuaku.
"Oalah gitu toh. Sebenarnya kalau seumpama kamu terus yang boncengin Nisa gak apa loh Ta," ucap Papa menawarkan dan Mama membenarkan omongan Papa.
"Soal itu dulu aku pernah bicara sama Nisa tapi dia gak mau. Katanya dia nggak mau ngrepotin aku gitu. Yaudah dari pada nggak sama sekali Pah Mah," jelasku.
"Bener juga sih Ta. Kalau begitu sering - sering ajalah ajak Nisa main ke rumah biar tambah rame nih," ucap Mama.
Aku mengiyakan ucapan Mama.
*********
__ADS_1
Author POV
Terlihat Nisa dan Okta memasuki lingkungan sekolah. Mereka berdua berjalan sambil berbincang ringan. Sampai seketika langkah mereka terhenti. Mereka melihat seorang siswi yang berpenampilan cupu dibully oleh Cecil dan teman - temannya. 4 orang jumlahnya.
Nisa yang sifat dasarnya tidak tegaan, apalagi yang berbau pembullyan pun mendatangi keributan yang sedang terjadi untuk membantu siswi yang tengah dibully. Ia teringat bagaimana dulu di masa kecil dia sering dibully dan diasingkan semua teman - temannya.
Cecil tengah marah pada siswi berpenampilan culun karena siswi culun itu tidak sengaja menabraknya. Alhasil Cecil membalas siswi itu lebih. Dia menyiramkan minumannya ke rambut siswi itu padahal siswi itu sudah minta maaf.
Lantai di sekitar situ pun ikut basah. Parahnya walaupun banyak siswa di tempat kejadian itu, tidak satu pun yang membantu siswi itu. Karena mereka tidak mau berurusan dengan Cecil dan gerombolannya dan menjadi korban selanjutnya.
"Maaf kak, aku gak sengaja," ucap siswi itu yang tengah menangis.
"Apa kata lo? Nggak sengaja? Lo buta? lihat nih gara - gara lo bedak gue ancur!! Emang lo bisa ganti?? Haha sekolah aja cuma ngandelin beasiswa," ucap Cecil sinis asal menebak.
Nisa menangkap tangan Cecil. Nisa geram dengan tingkah Cecil yang sewenang - wenang. Cecil mengibaskan tangan Nisa. Cecil memundurkan langkahnya.
"Sialan!!! Hehh Si Miskin! Ngapain lo ikut campur hah??" bentak Cecil.
"Hahaha Mak Lampir mah gitu yahh. Gak ada hati. Kau gadein kemana tuh hatimu?" Nisa tertawa sinis.
Dia bertekat untuk mengubah sikapnya ketika dia diinjak - injak atau melihat orang lain tertindas. Okta yang berada disamping Nisa pun hanya diam memperhatikan Nisa yang ternyata mampu melawan Cecil dan teman - temannya.
__ADS_1
"Gue mau lihat, sejauh mana lo bisa ngatasi ini Nis. Gue yakin lo bisa Nis." batin Okta.
"Haha miskin aja blagu. Hohoho udah berani yah lo sama gue hah?" ucap Cecil dengan nada mengancam.
Dengan cepat Cecil berjalan maju hendak menampar wajah Nisa. Namun rupanya nasib baik tak berpihak padanya.
Brukk
Air minum yang ikut membasahi lantai akibat siraman Cecil membuatnya terpeleset jatuh sebelum dia berhasil menampar Nisa. Alhasil rok yang dipake Cecil basah. Semua yang melihat kejadian itu hanya menertawakan Cecil. Tidak ada yang mengiba melihatnya.
Karena malu, Cecil dan teman - temannya meinggalkan tempat itu.
.
.
.
.
Hai readers maaf yah kalau ceritanya agak gimana gitu. Soalnya aku memang sengaja buat ceritanya yang ringan - ringan aja.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan klik favoritnya yahh. Makasih 😁🙏
lopeyuu all 😘😘