
Setelah peringatan hari kematian Elin, sedikit banyak Dhika mulai banyak tersenyum terutama kepada keluarga dan orang terdekatnya. Papi dan Maminya sangat bahagia melihat perubahan yang terjadi pada Dhika. Memang tidak signifikan namun cukup mengejutkan.
Seperti pagi ini. Dhika memberikan sapaan kepada mereka. Wajah ceria mulai Dhika pancarkan. Dia yang mengenakan seragam sekolah menghampiri orang tuanya.
"Pagi Pi, Mi," sapa Dhika.
"Pagi anak Mami yang ganteng," balas Tante Santi. Om Stevan tersenyum bahagia melihat pemandangan pagi ini.
"Dhik khusus hari ini, kamu sekolahnya bareng Papi aja, ya?" ajak Om Stevan.
Dhika berpikir sejenak. "Okelah Pi. Tapi hari ini doang ya," tawar Dhika.
"Iya-iya," ucap Om Stevan pasrah.
Mereka menyelesaikan sarapan dengan seksama. Setelah itu Dhika berangkat sekolah bersama papinya.
Sesampainya di sekolah Dhika berjalan dengan muka yang lebih ramah dari pada biasanya. Bahkan Dhika membalas sapaan mereka, walaupun hanya sekenanya saja. Semua teman-temannya sangat terkejut dengan respon Dhika. Biasanya mereka hanya akan mendapatkan kecuekan saja. Sungguh luar biasa. Apakah dunia sudah terbalik, atau sudah mau kiamat? Begitu pikir mereka.
Banyak jeritan siswa cewek dimana-mana. Mereka menjerit-jerit melihat Dhika mengumbar senyum sepanjang dia berjalan. Dhika menghampiri Bagas dan Ivan yang berada di ujung karidor.
"Weee pangeran kita Bro," ucap Ivan semangat empat lima.
"Kayaknya ada yang salah makan nih," goda Bagas.
"Lo sehat kan?" Ivan menempelkan telapak tangannya ke dada Dhika, kemudian ke dahi Dhika. "Sehat juga," imbuhnya.
"Haihhh, kalian ini,"
__ADS_1
"Emang ada yang salah dengan gue?" tanya Dhika.
"Lo gak paham?" ucap Bagas. Dhika menggeleng.
"Lo tu pagi - pagi udah gemparin seisi sekolah aja. Noh lihat!" Bagas menunjukkan tangannya ke sekeliling nya, mulai dari karidor, halaman, bahkan jendela. Banyak siswa cewek berbondong-bondong penasaran ingin melihat Dhika yang berbeda, pagi ini.
Dhaka hanya berohria.
"Udah deh, ayok masuk kelas!" ajak Dhika.
Dhika memang berjanji pada dirinya sendiri dan alm. adiknya bahwa dia akan merubah sedikit sikapnya. Merubah bukan berarti merombak total. Namun ia akan berusaha sedikit kembali menjadi Dhika yang dulu. Walaupun begitu, dia masih cukup kesulitan untuk menerima orang baru, apalagi kalau dia merasa tidak nyaman.
Disisi lain, Cecil yang baru sampai di sekolah langsung diserbu oleh sahabatnya; Rere, Jeje, dan Lala. Mereka bertiga sudah menunggu kedatangan Cecil cukup lama.
"Cecil Cecil Cecil... " panggil Jeje tidak sabaran. "Tahu nggak your prince... your prince Cil!" ucap Jeje terjeda karena saking semangatnya.
"Gini Cil lo tahu nggak? Dhika pagi ini tebar pesona!" ucap Rere.
"Biasanya gak pake tebar pesona aja, pesonanya juga udah mbludag. Apa lagi pagi ini, dia banyak senyumnya. Behhh bikin heboh satu sekolah Cil," jelas Rere.
"Hooh. Ikut meleleh bang hati ini melihat senyumu... Auuww!" Lala meringis karena lengannya dipukul oleh Cecil.
"Hehe piss,"
"Ayok, aku pengin lihat My Prince," Cecil berjalan mendahului ketiga sahabatnya.
Di dalam kelas Nisa membaca novel yang ia pinjam dengan serius.
__ADS_1
"WWwee!!" Okta mengagetkan Nisa. Nisa berjengit terkejut. Ia mengelus dadanya pelan.
"Apaan sih kamu Ta?" Nisa menekuk wajahnya, kesal.
"E'elehh gitu aja cemberut," goda Okta. Dia tertawa sambil mencolek lengan Nisa.
"Apaan sih!" Nisa menepis tangan Okta. Okta semakin tertawa.
"Lo tahu nggak? Pagi ini sekolah digemparkan dengan kedatangan pangerannya sekolah ini?" ucap Okta menggebu-gebu.
"Yaelah kamu Ta. Mana ada pangeran disini. Yang ada noh di negri dongeng. Emang napa sih?"
"Itu Nis, Kak Dhika. Beda banget deh dia dari biasanya. Hari ini Dhika banyak senyumnya,"
"Ya bagus dong, senyum itu ibadah." sahut Nisa.
"Tapi ini aneh Nis," Okta penasaran.
"Terus??"
"Terus heran aja gue,"
"Udah itu doang?" tanya Nisa.
"Ya emang cuma itu," jawab Okta.
"Hedehh. Sudah sana, aku mau lanjut baca," Nisa mendorong Okta menjauh. "Cuma gitu doang kok heboh," geruntu Nisa.
__ADS_1
Nisa melanjutkan membaca novelnya yang tertunda, sedangkan Okta menghampiri Candy dan yang lainnya.