Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Terbongkar Sudah


__ADS_3

Pagi ini mereka berangkat bersama ke sekolah. Dhika dan Ivan menjemput mereka ke rumah Nisa dengan mobilnya.


"Mas, Nisa dan yang lainnya ada?" tanya Dhika ketika melihat Setyo cuci tangan di luar rumah.


"Ada tuh di dalam. Siap-siap mungkin mereka. Masuk aja, tunggu di dalam," jawab Setyo yang masih sibuk mencuci tangannya yang kotor.


Mereka bertiga menunggu di kursi teras sambil mengamati kebun yang ada di samping rumah Nisa. Tumbuhan di sana hijau dan terawat, walaupun memang penataannya berbeda dengan di rumah Dhika. Di rumah Dhika, semua tanaman menggunakan pollybag sedangkan di rumah Nisa langsung di tanah.


"Dek udah di tungguin tuh sama temenmu," ucap Setyo.


"Iya mas bentar," sahut Nisa.


Hari ini Nisa, Okta dan Rindang bangun lebih awal. Di rumah Nisa, mereka harus mandi bergantian. Kali ini Rindang memakai seragam milik Nisa sedangkan Okta memakai seragamnya sendiri. Kemarin sore, Okta pulang terlebih dahulu mengambil seragamnya.


"Mak Nisa berangkat dulu," pamit Nisa.


"Rindang juga, Buk."


"Okta juga Bulik."


Mereka mengulurkan tangan, namun Bu Tin tidak menyambut uluran tangan mereka.


"Tidak ada kata berangkat sebelum sarapan," ucap Bu Tin yang membawa 1 wadah besar berisi nasi goreng hangat.


"Siyap Bulik!" ucap Okta langsung membawa beberapa piring yang sudah disiapkan. Nisa membawa piring berisi telur dan Rindang membawa beberapa gelas.


"Sekalian ajak Dhika, Bagas, dan Ivan untuk sarapan." Nisa mengangguk.


Nisa menuju ke teras rumah. "Kak ayo sarapan. Mamak ingin kalian ikut sarapan juga," ajak Nisa.


Mereka beranjak ke dalam rumah, menikmati hidangan sarapan sederhana. Di sini mereka belajar tentang kesederhanaan, kebersamaan dan kehangatan. Tak membutuhkan uang banyak untuk mendapat semua itu. Terutama Rindang. Ia belajar banyak tentang hidup. Hidupnya yang biasanya bergelimangan harta, kali ini ia bisa merasakan hidup orang sederhana. Gak banyak, tapi cukup untuk memberikan pengalaman untuknya.


"Bulik, apa sih rahasia masakannya bisa seenak ini?" tanya Okta dengan mulut penuh.


"Nduk, telen dulu baru bicara," tegur Pak Man dengan lembut.

__ADS_1


Okta menampilkan deretan giginya. Bu Tin dan Pak Man hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Wahhh ini masakan ibunya enak, pasti masakan Nisa enak juga nih," celetuk Rindang. Nisa tersedak, ia meminum segelas air. Pasalnya dia kurang ahli dibidang memasak. Kadang enak kadang enggak.


Pak Man dan Bu Tin tertawa.


"Masakan Nisa itu kalau kamu tahu, kadang enak tapi kadang hancur," ucap Bu Tin.


"Tapi biarpun begitu, dia tester masakan mamak dong ya. Tapi nggak tahu juga kalau dia masak sendiri kadang rasa hancur," ucap Bu Tin. Awal ucapannya memang menerbangkannya, namun pada akhirnya ia dijatuhkan.


"Ihh Mamak, aib anak jangan dibuka dong. Kan malu." pipi Nisa merona karena malu.


"Lah emang bener kan, Dek. Masakanmu lebih banyak ancurnya kali," ledek Setyo.


Nisa bersiap mau melempar kerupuk ditangannya ke arah Setyo namun dihentikan oleh bapaknya.


"Sudah-sudah, gak malu apa, kalian dilihatin sama teman-teman Nisa?"


Nisa mengurungkan niatnya. Setyo menjulurkan lidahnya.


Semuanya tertawa melihat tingkah Nisa dan Setyo.


Blek


Mereka semua membuka pintu mobil bersamaan. Seketika banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Namun tak terduga. Nisa kembali masuk ke dalam mobil.


"Pasti Nisa gak mau terlibat lebih jauh karena dekat dengan Dhika and the geng," batin Okta.


"Loh kenapa Nisa masuk lagi?" tanya Dhika heran. Mereka semua mengangkat bahunya, tidak tahu. Kecuali Okta. Ia memberikan kode agar Dhika, Bagas dan Ivan berjalan lebih dulu.


Dengan berat hati mereka berjalan terlebih dahulu.


"Nis keluarlah. Mereka sudah duluan," bujuk Rindang.


Nisa melihat keadaan sekitar lewat jendela. Ketika merasa keadaannya aman, ia membuka pintu mobil dengan hati-hati. Nisa menghela napas lega.

__ADS_1


"Udah, ayo masuk," ajak Okta. Dia tidak mau menanyakan apa-apa lagi. Kejadian kemarin sudah cukup membuat Nisa bersedih.


****


"Hah? Beneran? Sampai segitunya lo kerjain dia?" tanya Rere ketika Cecil menceritakan kejadian kemarin pada Rere. Hanya berdua, karena Lala ada keperluan keluarga dan Jeje tidak masuk juga. Cecil mengangguk.


"Tapi ya memang pantes sih, siapa tahu dia jadi jera," ucap Rere sinis.


"Ya begitulah," ucap Cecil tersenyum miring.


"Eheem"


Ada suara deheman keras dari belakang. Mereka berdua menoleh ke belakang. Betapa kagetnya mereka melihat ada Dhika di belakang mereka. Tenggorokan Cecil seperti tercekik. Sulit sekali untuk berbicara ataupun hanya sekadar menelan ludah.


"Bodohnya diriku," rutuk Cecil dalam hati.


"Ayo certain lagi, gue mau dengar," ucap Dhika sinis.


Mereka masih bergeming, tak menjawab sepatah kata pun.


"Kenapa? Kaget gue di sini? Ayo teruskan!" ucap Dhika sinis.


Tak sengaja Dhika lewat di belakang mereka ketika ia ingin membeli minum di kantin. Ia melihat Cecil sangat antusias untuk bercerita. Karena penasaran, ia berhenti sejenak untuk mendengar ceritanya. Namun siapa sangka, ia mendapatkan informasi yang mengejutkannya. Ternyata Cecil yang telah mengunci Nisa di toilet sampai Nisa pingsan. Ia tidak habis pikir, kenapa ada iblis berwujud perempuan sepertinya. Apakah ia masih layak disebut manusia? Atau bahkan masih layakkah dia disebut perempuan?


Cecil dan Rere diam seribu bahasa.


"Kenapa diam ha?" bentak Dhika.


Seketika sorot mata Cecilia berubah tajam.


"Lo mau tahu gue kenapa? Gue begini gara-gara lo Dhik. Kalau saja lo nggak nolak gue, gak begini jadinya. Kenapa lo nolak gue terus?" ucap Cecil ketus.


Dhika tertawa sinis. "Jangan salahkan gue! Salahkan diri lo sendiri yang gak mau menerima kenyataan. Melihat lo begini gue semakin ogah sama lo!" ucap Dhika sambil berlalu.


"Dhika!!" teriak Cecil karena Dhika meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


"Lihat, gue gak akan berhenti sebelum lo nyerahin hati lo buat gue!" tekat Cecil.


Namun Dhika terus berjalan tanpa meperdulikan Cecil.


__ADS_2