Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Kok Bisa?


__ADS_3

"Ta aku mau ikut ekstra bulu tangkis hari ini. Kamu ada ekstra nggak?" tanya Nisa.


"Enggak Nis," jawab Okta santai.


"Lha terus kamu nanti pulangnya gimana?" tanya Nisa. Tadi pagi sebelum berangkat mereka lupa merundingkan jadwal mereka. Seharusnya mereka akan berangkat sendiri ketika ada kegiatan masing - masing.


"Aku gampang Nis. Lagian tadi pagi pake motormu. Nanti aku bisa dijemput sama sopir," ucap Okta.


"Okelah kalau begitu Ta," ucap Nisa. Dia masih nggak enak hati dengan Okta.


Mereka berdua berbincang - bincang di taman hingga sopir Okta memberikan pesan singkat bahwa ia sudah sampai.


"Dahh Nis aku pulang dulu, jemputanku sudah datang," pamit Okta. Sopirnya sudah sampai di depan sekolah.


"Dahh Ta hati - hati ya," ucap Nisa.


"Siap. Kamu juga ya. Awas diculik," gurau Okta memperingatkan.


"Emang siapa yang mau culik aku Ta?" ucap Nisa. "Sono - sono pulang," Nisa mengusir Okta.


"Bye bye," Okta melambaikan tangannya sambil terus berjalan ke depan. Nisa tersenyum melihat kepergian Okta.


Nisa melangkahkan kakinya ke lapangan dimana dia mengikuti ekstra bulu tangkis. Sejak kecil dia sangat suka dengan olah raga itu. Dulu dia ingin mengikuti audisi Gunting, sebuah club bulu tangkis ternama namun orang tuanya tidak menyetujuinya. Akhirnya Nisa mengubur cita - citanya itu. Mungkin ada sebagian orang yang akan bilang, "Lemah lo Nis! Impian itu dikejar dan buktikan sama mereka."


Nisa mengabaikan kata - kata orang lain. Baginya ijin dari orang tua adalah suatu berkat untuk keberhasilannya. Sesuatu yang tidak diijinkan maka tidak akan berhasil di hidupnya. Begitu pedoman yang Nisa saat ini.


Nisa mengganti seragamnya dengan pakaian olah raga yang ia dapat dari club ekstra bulu tangkis. Ia mengambil raket yang telah disediakan untuk masing - masing anggota. Nisa melakukan pemanasan sebelum memulai untuk menghindari cidera.


Selesai mengikuti ekstra Nisa berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya. Dia mengambil helm di tempat menaruh helm yang ada di samping parkiran. Nisa mulai menaiki motornya lalu menaikinya, ingin menyalakan motor.


"Eh kenapa ini?" ucap Nisa. Nisa merasakan ada yang aneh dengan motornya. Dia menggerakkan stang motor. Nisa turun lagi dan melihat apa yang terjadi dengan ban motornya.


"Kok bisa sih? Tadi pagi kan masih baik - baik saja " ban Nisa kempes. Entah apa yang telah terjadi Nisa tidak mengetahuinya.


"Okelah walaupun kempes aku gunakan sampai bengkel depan mungkin masih bisa kalik ya?" ucapnya sendiri.


Nisa mulai menghidupkan motornya. Namun saat dia gas motornya tidak bergerak. Nisa malah mendengar suatu barang yang putus. Nisa turun dan mengecek motornya. Ternyata rantai motornya putus. Nisa bingung mau bagaimana.

__ADS_1


Nisa menelpon Okta untuk meminta bantuannya, namun panggilannya tidak terjawab. Lalu Nisa menelpon Rindang.


"Aakkhh mati lagi," keluh Nisa.


Hpnya kehabisan baterai saat menelpon Rindang. Sialnya panggilan itu belum terjawab oleh Rindang. Terpaksa Nisa menuntun motornya dari parkiran sekolah. Nisa memutuskan untuk mencari bengkel terdekat.


Tak disangka, bengkel terdekat dari sekolah tutup. Nisa harus menuntun motornya lagi padahal bengkel berikutnya letaknya agak jauh dari tempat itu.


"Semangat Nis, semangat," ucap Nisa dengan dirinya sendiri. Peluh bercucuran membasahi tubuh Nisa.


Tin Tin


Ada sebuah motor sport yang berhenti tidak jauh dari Nisa. Nisa berhenti dan melihat seorang cowok sebagai pegendaranya. Dia membuka helmnya. Ternyata dia Dhika. Dhika segera turun dari motornya menghampiri Nisa.


"Motormu kenapa Nis?" tanya Dhika.


"Ini kak, nggak tahu kenapa ban depan motorku kempes. Padahal tadi pagi aja masih baik - baik saja," jujur Nisa.


"Rantainya juga, tiba - tiba putus," imbuh Nisa.


Dhika mengecek keadaan motor Nisa. Dia memastikan kerusakannya. Memang benar yang diberikan Nisa. Ban depan motor dan rantainya putus.


Nisa menunggu Dhika menelpon. Dhika mengatakan semua hal yang dikatakan dari montir yang dia hubungi.


"Udah kak, nggak apa. Aku masih kuat kok menuntun motor ini sampai bengkel depan sana." ucap Nisa lalu tersenyum. Terlihat masam memang senyumnya. Dhika semakin tidak tega melihat Nisa kecapaian menuntun motor. Dhika tahu bahwa tidak mudah menuntun motor dalam jarak yang cukup jauh.


Dhika memegang kedua pinggangnya sambil berpikir. Dia memikirkan bagaimana solusinya agar motor Nisa bisa dibawa ke bengkel dengan mudah.


"Emm... bagaimana kalau gue dorong motor lo dari belakang," usul Dhika.


"Jangan kak, nanti kakak yang kecapaian," tolak Nisa cepat. Nisa tidak tega kalau Dhika sampai kecapaian mendorong motornya dari belakang.


"Hahahaha bukan begitu Nis," Dhika tertawa.


"Maksud gue, kita naik motor kita masing - masing terus nanti gue dorong motor lo dengan kaki gue," usul Dhika, "seperti ini," Dhika memperagakan cara ia mendorong motor Nisa. Dhika memposisikan telapak kakinya di knalpot motor. Nisa membayangkan bagaimana nantinya.


"Tapi kak nanti kalau jatuh bagaimana?" ucap Nisa takut.

__ADS_1


"Nggak bakal. Tenang aja. Kita coba dulu. Lo yang rileks aja, jangan takut jatuh," ucap Dhika.


Dhika menyalakan motornya, "Siap?"


Dhika akan memulainya. Nisa sangat gugup untuk melakukannya, antara yakin dan tidak yakin. Namun dia tetap menganggukan kepalanya.


"Siyap kak," ucap Nisa tersirat masih jelas kegugupannya. Dhika menangkap kekhawatiran Nisa. Dia tersenyum.


"Santai saja. Yakin sama gue," ucap Dhika menenangkan Nisa. Nisa hanya menganggukan kepalanya.


Dhika mulai melajukan motornya. Kaki kirinya dia gunakan untuk mendorong motor Nisa. Situasi itu cukup menegangkan bagi Nisa. Dhika menangkap kegugupan Nisa.


*************


"Eh Cil nggak sia - sia usaha lo. Cewek sialan itu tadi kesulitan bawa motornya," Rere tertawa di sebrang telepon.


"Hahaha syukurin. Siapa suruh berurusan dengan Cecil Puspita," Cecil tersenyum menyeringi.


flashback on


Ada seorang siswa cowok, duduk di taman. Dia mengeluh membutuhkan sejumlah uang untuk membelikan kado pacarnya. Namun semua fasilitas kartunya dibekukan oleh orang tuanya. Keluhannya terdengar oleh Cecil yang tidak sengaja lewat. Cecil meminta cowok itu untuk mengempeskan ban motor Nisa atau apapun itu asalkan motor Nisa tidak bisa digunakan. Sebagai gantinya Cecil memberikan sejumlah uang kepada siswa itu. Dengan senang hati cowok itu melakukan tugasnya. Cecil tersenyum menyeringai.


"Rasain lo cewek sialan!" batin Cecil.


flashback off


************


Setelah beberapa saat mereka menemukan bengkel yang masih buka. Namun semesta sepertinya sedang tidak berpihak dengan Nisa. Bengkel itu ramai pengunjung. Jika dia mau mengisi angin ban dan membenahi rantainya yang putus dia harus menunggu antrian yang cukup panjang padahal hari sudah petang. Dia tahu pasti orang tuanya khawatir dengannya. Apalagi hpnya mati. Pasti kakaknya juga kesulitan menghubungi Nisa.


"Aihh kenapa harus lama sih," gumaman Nisa terdengar oleh Dhika.


"Emm gini aja. Motor lo bisa lo ambil besok terus gue anter pulang," tawar Dhika.


"Tap..." ucapan Nisa terpotong oleh ucapan Dhika.


"Tidak ada penolakan," paksa Dhika.

__ADS_1


Akhirnya Nisa mau diantar pulang oleh Dhika. Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang merekam mereka berboncengan berdua.


"Wah wah wah," ucap orang itu. Lalu mengirimkan video itu.


__ADS_2