
Matthew. Seorang pebisnis sukses yang merupakan ayah Cecil ini sebenarnya kerap dipanggil Pak Mamat oleh para tetangganya dan nama Matthew terkenal dikalangan bisnisnya.
Pak Mamat segera beranjak dari duduk nyamannya. Dengan langkah tegas namun menyiratkan kekesalan, Pak Mamat berjalan ke kamar Cecil di lantai dua. Dia sudah terlalu lelah akan sikap Cecil anaknya.
"Huffftt anak itu kapan mau berubahnya," gumam Mamat sambil memijit pelipisnya.
Sesampainya di depan kamar Cecil, dia pun tanpa ragu memanggil Cecil dengan volume suara yang bisa dibilang tidak lembut.
"Cill Cecil!" begitulah kurang lebihnya. Namun siapa sangka, bener bener gak ada sahutan sama sekali dari dalem. Padahal berkali - kali dia memanggil anaknya itu.
"Haduh dehh gue harus apa ini? Ayo Cecil berpikirlah!" ucap Cecil pada dirinya sendiri.
Saat itu Cecil yang mendengar dari dalam kamar pun panik. Cecil tidak tahu kalau hari ini ayahnya sudah ada di rumah sedangkan pagi ini Cecil bener- bener males. Cecil harus memikirkan siasat apa yang bisa digunakan untuk mengelabuhi sang ayah.
Sesaat kemudian Cecil menjentikkan jarinya. Dia ingat kalau dia punya bawang yang akan ia pakai untuk praktikum di lap. Bawang itu bisa Cecil usap usapkan diketiak biar kelihatan demam saat dicek suhu badannya.
"Aahhh tapi ntar gue bau dong, susah ngilanginnya," gumam Cecil menjambak frustasi rambutnya sendiri.
Ting
Sebuah ide muncul di kepala Cecil. Matanya pun berbinar.
"Okelah pakai cara lain saja, disini juga ada termometer juga haha... mari beraksi Cecil," gumam Cecil cukup senang. Cecil memakai peralatan make up nya untuk memberikan kesan pucat.
"Cil Cecill..," terdengar lagi suara teriakan ayahnya.
"Iya Yah, masuk aja. Tidak dikunci kok," ucap Cecil sambil merintih berpura- pura sakit.
"Oh iya kenapa nggak kepikiran langsung buka pintu ya dari tadi," gumam Pak Mamat merutuki kebodohannya.
Ceklek
Di dalam kamar itu terlihat Cecil yang meringkuk membelakangi Mamat dengan selimut tebal yang membungkus. Badannya terlihat menggigil dan agak pucat. Kekesalan yang tadi Pak Mamat rasakan menguap seluruhnya karena khawatir.
Pak Mamat mendekat dan duduk di pinggir ranjang Cecil perlahan. Ia membangunkan Cecil dengan lembut.
"Cil bangunlah," ucap Pak Mamat pelan. Namun hanya mendapat gumaman kecil dari Cecil sebagai jawabannya. Ia pun semakin khawatir.
"Cil kamu sakit? Kalau iya mau ayah panggilin dokter pribadi kita atau mau ke rumah sakit dulu Nak periksa ke dokter?" ucap Pak Mamat yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya walaupun kalau sama sama sehat jarang sejalan.
__ADS_1
"Nggak usah Yah, aku istirahat saja nanti juga pulih," jawab Cecil. Cecil menjawab sambil berpura pura kedinginan.
Mamat terdiam sejenak. Lalu dia berjalan mengambil termometer di kotak P3K yang ada di kamar Cecil untuk mengecek suhu badan.
"Nih Nak dicek dulu suhu badannya," Mamat memberikan termometer ke Cecil.
"Iya Yah," Cecil menerima termometer yang diberikan Pak Mamat.
Setelah memberikan termometernya pada Cecil, tiba- tiba Pak Mamat terlihat ingin menyentuh dahi Cecil dengan tangannya. Tapi sesuatu hal tak terduga terjadi.
Huek huek
Tiba - tiba Cecil mual mual. Pak Mamat pun semakin khawatir dengan keadaan anaknya.
"Yah bentar Yah aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Cecil ingin berlari ke dalam kamar mandi.
"Segeralah Nak! Bawalah juga termometernya sekalian cek suhu badanmu."
Cecil mengangguk mengiyakan.
"Yess akhirnya Ayah mengerti juga apa mauku hehehehe," pikir Cecil yang berlari cepat ke kamar mandi.
Pak Mamat akhirnya duduk di pinggir ranjang Cecil dan menatap cemas ke arah kamar mandi tanpa menaruh curiga apapun.
*******
Ceklek
"Huhhh hampir saja gue ketahuan," gumam Cecil.
Di dalam kamar mandi dia menyiapkan sedikit air hangat di buthtup yang nantinya termometer akan dia celupkan ke dalam air hangat itu. Supaya lebih meyakinkan dia bersuara seolah olah sedang muntah. Padahal kalau tahu kenyataannya Cecil bener bener tertawa pelan karena rencananya hampir berhasil.
Setelah dirasa cukup Cecil keluar dari kamar mandi dan tentunya tak ketinggalan dengan raut muka yang lemas.
Mamat pun berlari ke arah Cecil. Ia menuntun Cecil kembali ke ranjang. Cecil juga menyerahkan termometer itu pada ayahnya. Pak Mamat khawatir, Cecil demam. Suhu yang tertera di termometer yang digunakan Cecil cukup tinggi yaitu 38 derajat celsius. Setelah berhasil menuntun Cecil ke ranjang, ia segera meminta Mbok Seneng untuk membuatkan bubur serta menyiapkan obatnya.
Cecil melanjutkan sandiwaranya dengan berpura- pura tidur kembali. Pak Mamat membenahi selimut Cecil dan menyelimutinya sampai leher agar Cecil tidak kedinginan.
"Yah tapi gimana aku sekolahnya nanti?" tanya Cecil dengan raut muka melas, berharap penuh rencananya berhasil.
__ADS_1
"Gak usah sekolah dulu sayang. Istirahatlah dulu, pulihkan kesehatannya dulu. Nanti kalau sembuh baru berangkat lagi,"
Cup
Pak Mamat mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
Cecil pun segera melanjutkan rencananya untuk berpura pura tidur.
Tring tring tring
Pak Mamat terkesiap. Setelah beberapa saat hand phonenya berbunyi. Ada telepon dari sekretarisnya yang meminta agar ia menghadiri meeting kerjasama dengan perusahaan yang terbilang berpengaruh.
Pak Mamat bimbang. Kalau berangkat Cecil sekarang sakit di rumah. Tapi kalau tidak berangkat kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Ia melihat ke arah Cecil untuk kesekian kali. Mata Cecil terpejam. Pak Mamat berpikir bahwa Cecil sudah kembali tertidur.
Pak Mamat mengelus lembut rambut Cecil sambil mengamati wajah putrinya.
"Gadis kecilnya ayah maaf ya ayah harus bekerja sekarang dan tidak bisa merawatmu. Cepat pulih gadis kecilnya ayah."
Pak Mamat mengecup kening Cecil dengan penuh kasih sayang. Dengan berat hati akhirnya Mamat terpaksa meninggalkan Cecil.
Pak Mamat memutuskan menuju ke dapur untuk menemui Mbok Seneng. Di dapur terlihat Mbok Seneng mengaduk bubur dalam panci.
"Mbok sekarang saya mau ke kantor, ada meeting penting yang harus saya hadiri. Nanti kalau Cecil udah bangun pastikan Cecil makan, minum obat dan istirahat ya mbok," ucap Pak Mamat.
"Iya Tuan," jawab Mbok Seneng.
Setelah urusannya dengan Mbok Seneng selesai Pak Mamat segera bersiap siap untuk ke kantor.
*******
Ceklek
Suara pintu kamar Cecil tertutup kembali.
Setelah ayahnya pergi, akhirnya Cecil bernapas lega. Rencananya sangatlah berhasil. Yahh walaupun harus dengan membohongi ayahnya tapi setidaknya dia bisa bersantai - santai di rumah.
"Huhhh akhirnya selesai juga. Maaf Yah gue bohongin Ayah. Tapi mau gimana lagi aku males banget berangkat sekolah," gumam Cecil sendiri.
Sungguh kebahagiaan tiada tara. Jujur dalam hati Cecil merasa bersalah karena membuat sang ayah khawatir namun mau bagaimana lagi? Keegoisan Cecil lebih besar dari pada rasa bersalah.
__ADS_1
"Akkkkhhhh akhirnya gue bebas seharian," Cecil berteriak kegirangan. Untung saja kamarnya itu kedap suara.
Cecil segera bangun, mengambil laptopnya. Dia akan menghabiskan waktu seharian dengan maraton drakor kesayangannya. Apalagi kalau aktornya ganteng kayak Ji Chang Wook, uhh bikin meleleh bray. Seharian rebahan di kasur mantengin film pun rela.