Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Sedingin Es Kutub


__ADS_3

Liburan semesteran selama 2 minggu. Waktu selama itu telah cukup bagi Nisa untuk mengistirahatkan diri. Libur yang bersamaan dengan liburan akhir tahun tidak membawa perubahan apapun bagi Nisa. Rutinitas liburan untuknya masih sama. Rebahan, ngeijah dan membantu orang tuanya berkebun.


Walaupun rutinitasnya seperti itu, namun rutinitas itu tidak membuat Nisa bosan. Karena Nisa bisa belajar lebih dengan metode yang lebih asik. Selama itu Nisa bisa belajar dengan pengaplikasian langsung pada objek, tidak hanya dengan teori. Karena teori tak sesederhana kelihatannya ataupun tak sesulit kelihatannya.


Dan hari ini tibalah waktu dimana semua rutinitas awal sebagai seorang pelajar dilakukan kembali. Nisa berangkat ke sekolah dibonceng sama Okta. Mereka masih berangkat bersama seperti dahulu.


Tin tin


Okta membunyikan bel motor agar Nisa segera keluar.


"Mak, Nisa berangkat dulu," teriak Nisa karena mamaknya sedang mandi.


"Iya. Hati-hati di jalan."


"Siyap Mak!"


Nisa menghampiri Okta yang tengah menunggunya di motor.

__ADS_1


"Ayok!" ajak Nisa.


"Oke, ayo berangkat!"


Perjalanan menuju ke sekolah serasa cukup lama, karena sudah cukup lama pula Nisa jarang ke luar rumah. Nisa mengamati lalu lintas. Sepeda, becak, motor, mobil, truk, bus bahkan orang berjalan kaki berlalu lalang di jalan. Aktivitas padat menanti mereka.


Okta memarkirkan motornya di dekat sebuah mobil. Mobil yang tak asing bagi mereka berdua. Ya benar, mobil itu milik Dhika. Kali ini Dhika membawa mobilnya ke sekolah.


Pintu mobil terbuka. Dhika, Bagas, dan Ivan keluar dari mobil itu. Mereka berjalan mendekat ke arah Nisa. Nisa menyapa Dhika.


Tapi ternyata raut muka bahagia itu tidak berlangsung lama. Kebahagiaan itu sirna. Wajah bingung dan tak percaya datang menyelinap. Sapaannya diacuhkan oleh Dhika. Tanpa menoleh, Dhika pergi meninggalkan mereka.


Okta juga melongo tak percaya melihat perlakuan Dhika kepada Nisa.


Bagas dan Ivan saling melempar tatapan. Dari tatapan itu mereka sudah bisa berkomunikasi satu sama lain tanpa harus berbicara.


"Kenapa lagi itu bocah Brithgas?"

__ADS_1


"Gue nggak tahu. Tapi kayaknya ada sesuatu yang Dhika sembunyikan dari kita deh."


Ivan mengangguk setuju. Sikap mereka berdua membuat Nisa dan Okta bertanya-tanya, apa yang mereka bicarakan?


Bagas dan Ivan juga bingung dan penasaran, apa yang membuat Dhika seperti itu?


"Emm, Nis, Ta, maafkan sikap Dhika hari ini ya. Mungkin dia baru ada masalah, jadi seperti itu," jelas Bagas untuk menenangkan hati Nisa dan Okta, terlebih Nisa.


Setelah mengucapkan kalimat permohonan maaf, Bagas dan Ivan pergi berlalu menyusul Dhika. Mereka melempar senyum canggung kepada Nisa dan Okta. Mereka merasa tidak enak hati karena sikap Dhika yang tiba-tiba aneh.


"Nis kenapa Kak Dhika jadi sedingin es kutub ya?" ucap Okta spontan setelah Bagas dan Ivan sudah meninggalkan mereka berdua. Nisa diam; hanya menggeleng lemah. Ia juga tidak tahu apa alasan Dhika menjauh darinya. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Nisa.


"Apakah kesalahanku hingga Dhika bersikap demikian? Apakah karena aku hanyalah anak dari seorang petani yang hidupnya pas-pasan? Apakah ia malu punya teman seperti aku? "


Wajah Nisa terlihat sangat murung, bahkan sangat kentara. Okta mengerti kegundahan hati Nisa. Ia segera merangkul Nisa dari samping lalu mengajaknya untuk segera ke kelas.


Mereka berdua berjalan menuju kelas mereka. Banyak pertanyaan di benak Nisa, terpaksa masih ia simpan. Dia akan bertanya ketika ia bertemu nanti.

__ADS_1


__ADS_2