
Hari demi hari, bulan demi bulan telah berganti. Hubungan Nisa dan Dhika masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Saling diam dan hanya berbicara seperlunya. Nisa juga sudah menerima perlakuan Dhika, dan Dhika masih menjalin hubungan dengan Cecil. Sedangkan Bagas dan Ivan masih tetap bisa bersahabat dengan Nisa, Okta, dan Rindang.
Selama itu pula, keberadaan Nisa aman, tanpa gangguan dari Cecil and the genk. Mereka tidak mengusik Nisa lagi. Namun selama itu pula, hati Dhika tersiksa karena ia harus bersama orang yang sama sekali tidak ia cintai.
Di sore ini, Dhika nongkrong di sebuah cafe dekat sekolahnya, sendirian. Ia asik menikmati minuman bersoda dengan camilan ringan yang menemaninya. Sampai ia tidak menyadari kedatangan Bagas dan Ivan yang tidak sengaja melihatnya duduk sendirian di sana.
"Woyy, Bro!" ucap Ivan. Dhika berjengit kaget karena ada orang yang tiba-tiba menghampirinya.
Dhika berdecak kesal. "Ngapain kalian ikut kemari?"
"Yee kebalik tanyanya. Seharusnya kita yang tanya. Ngapain lo kemari tanpa ngajak kita? Apa karena lo udah cinta sama noh si Mak Lampir yang insaf sementara?" sarkas Ivan. Dhika menatapnya malas.
"Astaga Van, orang insaf kok dikata sementara. Ya bagus lah kalau insaf beneran. Gimana sih lo?!" ucap Bagas.
"Ciye ciye. Roman-roamannya ada yang jatuh cinta diam-diam nih!" goda Ivan.
"Heh kunyuk! Gue bicara fakta. Tidak ada hubungannya dengan rasa. Kayaknya bener nih kata Dhika dulu. Otak lo perlu diganti dengan yang baru biar gak gesrek!"
__ADS_1
Dengan santainya, Dhika masih asik menikmati apa yanh ia pesan.
"Udah Gas. Gak usah diganti. Nggak bakal ada yang cocok. Lagian kayaknya semisal ada yang bisa ataupun cocok pun, mereka gak ada tuh yang mau gantiin. Yang ada mereka yang jadi gila," ucap Dhika kemudian bertos ria dengan Bagas.
"Waah kalian tega amat sama sahabat sendiri. Apa salah dan dosaku kawan, cinta tulusku kau buang buang. Dan sekarang kecut bagaikan asem....." Ivan malah lanjut dengan bernyanyi, namun di akhirnya ia jeda.
"Kalian memang asem!" ucapnya kemudian.
Ivan heran, kenapa diantara mereka bertiga selalu ia yang jadi sasaran empuk kedua sahabatnya itu. Untung saja Ivan adalah tipikal orang yang suka bercanda tanpa memasukkan bahan candaan ke dalam hati. Jadi candaan mereka mengalir tanpa henti.
"Kalian memang sialan. Dan gue minta ditraktir sama kalian hahaha"
Walaupun Bagas berbicara begitu, namun ia tetap saja mentraktir Ivan.
"By the way, betah amat lo pacaran sama Mak Lampir?" tanya Ivan to the point.
"Dia punya nama keles," sanggah Bagas.
__ADS_1
"Udah anggap aja namanya beneran mak lampir Gas. Gedek gue sama dia! Yang penting sekarang, jawab dulu pertanyaan gue Dhik!"
"Harus dibetah-betahin. Gue nggak tega kalau hanya karena gue, Nisa mengalami lagi hal yang menjadi suatu penyebab ia sulit bergaul. Dia berhak untuk merasakan damainya saat-saat sekolah, Gas, Van." Dhika memandang mereka bergantian. Ada keseriusan di wajahnya.
Hingga ada suara seorang wanita memecah obrolan mereka.
"Beib Dhika," ucapnya menghampiri Dhika. Suaranya yang manja, membuat Dhika, Bagas, dan Ivan jijik.
"Iyuhh ingin muntah gue," gumam Ivan.
"Ngomong apa lo?! Ulangi sekali lagi," bentak Cecil kesal.
"Iiiyuuhhh ingin sekali gue muntahin makanan gue ke muka lo!" sarkas Ivan.
Mata Cecil membulat. Ia tak terima dikatai seperti itu. Bibirnya ia monyongkan ke depan beberapa centi.
"Beib, lihat tuh sahabatmu mengataiku," ucapnya manja pada Dhika.
__ADS_1
Dhika memutar matanya malas. "Bisa tidak sih kalian diam?! Kalau nggak bisa diam, pergi sana. Tinggalin gue sendiri!
Mereka semua pun akhirnya tidak berani berbicara lagi.