
Pagi ini Yosse harus berangkat lagi ke luar negeri untuk menempuh pendidikannya kembali. Sungguh berat rasanya berpisah lagi dengan Rindang, saudara kembarnya. Namun ini yang harus dia lakukan, sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya. Yosse tidak punya pilihan lain. Dia ingin menjauh dari kejadian yang membuatnya merasa bersalah. Yosse ingin menenangkan diri dan memperbaiki diri. Selama ini dia melampiaskan rasa bersalahnya dengan sesuatu hal yang negatif seperti bolos sekolah, tawuran dan pergaulan bebas lainnya.
Yosse teringat ada sesuatu yang belum dikatakan Rindang karena sudah terpotong saat ibu kos mendatanginya. Yosse mencari hp nya lalu menelpon Rindang di pagi buta itu untuk bertanya sekaligus berpamitan dengan adik kembarnya. Rindang menjawab panggilan dari Yosse dengan malas karena masih ngantuk.
"Tuan muda, sudah waktunya," bawahan papanya yang bertugas mengantar Yosse ke luar negeri mengingatkan untuk segera masuk ke dalam pesawat karena akan segera take off. Dia menggunakan jet pribadi milik keluarganya.
Yosse mematikan hpnya dan berjalan masuk tanpa menjawab pernyataan dari bawahan papanya. Saat perjalanan dia selalu terngiang perkataan Rindang.
"Rindang kasihan bang sama pasanganmu kelak. Sesudah diterbangkan dia akan merasa dijatuhkan lagi. Nggak kebayang kalau Rindang jadi pasangan abang. Untung Tuhan baik bang, jadi aku ditempatkan jadi adek kembarnya abang"
Begitulah kata Rindang. Yosse hanya tertawa dan tidak menyangka kalau kembarannya bisa berpikir demikian.
*********
"Eh Nis hari ini jadi bawa bekal makan nggak?" tanya Okta.
"Nggak Ta," jawab Nisa.
"Kenapa Nis?" tanya Okta lagi.
"Jadi gini Ta, setelah aku pikir - pikir kayaknya lebih hemat aku jajan. Soalnya kalau bawa bekal makan, pasti ortuku tetep kekeh kasih uang saku buat jaga - jaga. Nah itu dia, mereka jadi double biaya. Beli lauk buat bekal masih kasih aku uang saku," jelas Nisa.
"Ia juga sih," Okta juga setuju dengan pendapat Nisa.
Nisa dan Okta memberesi buku pelajaran yang dipinjam dari perpustakaan. Mereka bertugas piket hari ini jadi merekalah yang mengembalikan buku yang dipinjam kelas. Mereka berjalan menuju perpusakaan dengan membawa cukup banyak buku. Tidak sengaja Nisa menjatuhkan salah satu buku itu. Dia berusaha mengambil buku itu, namun semua buku yang dia bawa malah ikut jatuh berserakan.
Dhika dan kedua sahabatnya yang kebetulan lewat segera membantu Nisa membereskan buku itu. Mereka juga membantu membawakan buku itu ke perpustakaan.
Mereka berdua sangat berterimakasih dengan bantuan Dhika dan kedua sahabatnya, terlebih Nisa.
"Kak makasih ya udah mau bantuin aku terlebih dari peristiwa waktu itu," ucap Nisa.
"Iya kak, tanpa ada kalian gue tidak tahu akan bagaimana nasib Nisa," imbuh Okta.
"Hai kalian ini. Santai saja gak usah terlalu seperti itu. Cuma kebetulan aja kita ada di sana," ucap Dhika merendah.
"Betul tu betul," sahut Ivan.
__ADS_1
"Jujur gue salut sama lo..siapa nama lo?" Ivan menunjuk Okta.
"Okta," sambung Okta.
"Nah itu. Berani - beraninya lo tunjukin taring lo ke mak lampir and the geng. Kayaknya nyawa lo double ya? Sungguh luar biasa galaknya kayak macan," Ivan langsung dapat lirikan tajam dari Okta. Ivan yang ngeri ditatap Okta pun langsung diam. Mereka segera memperkenalkan diri masing - masing. Mereka baru sempat berkenalan setelah kejadian waktu itu.
"Gimana tangan lo kemarin Nis?" tanya Dhika.
"Udah nggak papa kak, lagian cuma kesiram sedikit saja. Kulitku merahnya juga hanya sebentar," jawab Nisa. Warna kulitnya bukan putih susu jadi jika air panas yang menumpahinya sudah terkena udara luar maka tidak akan membuat kulit Nisa melepuh atau memerah lebih lama. Mereka semua mengerti.
"Oh iya kak, maaf baju seragammu lupa belum ku bawa," Nisa merasa tidak enak.
"Nggak papa Nis kapan - kapan aja. Nggak dikembalikan juga nggak apa Nis," ucap Dhika.
Dhika, Bagas dan Ivan segera pamit untuk ke toilet. Nisa dan Okta segera kembali lagi ke kelas.
"Nis gue masih penasaran. Orang tua lo tahu nggak kalau tanganmu kena tumpahan kuah bakso. Gue kemarin kemarin mau nanya lupa," tanya Okta penasaran.
"Enggak. Soalnya sebelum mereka pulang aku lepas tuh kasa, dan kulihat tanganku juga gak apa," ucap Nisa.
"Kan tanganku berkulit baja," gurau Nisa.
***********
Bug bug bug
Ivan men-drible bola basket yang dia bawa. Ivan bermain basket bersama Bagas saja. Dhika tidak ikut, dia pulang awal karena ada suatu keperluan.
"Yess," Ivan bersorak ketika bola yang ia lempar ke ring tepat sasaran.
"Heiii jangan senang dulu, gue belum ngerahin semua kemampuan gue, baru separo," sombong Bagas.
"Sok atuh buktiin," tantang Ivan.
Mereka bermain hingga petang. Pertandingan dimenangkan oleh Ivan. Mereka langsung berbaring di tengah lapangan napas mereka ngos ngosan karena terlalu capai.
"Ngehh ngehh Gas.... lo ngerasa ada yang aneh nggak sama sikap Dhika ke junior cewek itu? Ngehh," ucap Ivan yang masih ngos ngosan.
__ADS_1
"Ngehh... Nisa maksud lo?" tanya Bagas.
"Ya iyalah, masak iya iya dong," gurau Ivan.
"Dasar Van Van. Bener sih. Jangan jangan dia suka noh sama Nisa. Jarang dia peduli sama cewek sampai segitunya," jawab Bagas.
"Hoo juga. Feeling gue juga gitu," Ivan setuju dengan Bagas.
Tiba - tiba Bagas duduk dan menyambar botol minum yang dia bawa. Bagas meminumnya hingga habis, tak tersisa.
"Udahlah, kita lihat saja kedepannya gimana. Semenjak kejadian itu dia benar - benar lebih tertutup dari pada sebelumnya. Gue juga nggak ngerti," ucap Bagas. Ivan menganggukan kepalanya lalu dia bangkit dan menepuk pundak Bagas untuk mengajaknya pulang.
************
Dhika melepas kaca mata hitam yang dia pakai. Sepulang sekolah, dia berziarah ke makam adiknya. Entah mengapa dia sangat rindu dengan adiknya yang sudah meninggal 3 tahun lalu. Carolin Sasmita, adik perempuannya yang sudah tiada.
Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri pikirannya.
flashback on
Dhika tidak bisa menjemput adeknya pulang dari sekolah. Dengan senang hati sahabatnya menawarkan untuk menjemputnya. Dhika merasa tertolong dengan tawaran sahabatnya. Dia ingin membeli keperluan tugas kelompok di toko.
Dari dalam toko, Dhika melihat sahabatnya yang 1 tahun lebih muda darinya memakai seragam smp, berlari dikejar seorang anak perempuan berseragam SD yang berumur 1 tahun lebih muda. Mereka terlihat sangat bahagia. Karena terlalu asik bercanda, sahabatnya itu tidak menyadari bahwa dia sudah berlari sampai di jalan raya. Dia tak menyadari kalau ada truk melaju dengan kecepatan tinggi.
brak
Elin tertabrak truk itu. Dia menyelamatkan sahabat Dhika. Sungguh sesak hati Dhika, seakan - akan dunianya runtuh saat itu juga. Adik yang dia sayangi dan dia jaga selama ini tergeletak dijalan berlumuran darah. Dia sudah tidak peduli dengan keadaan sahabatnya. Dhika berlari menghampiri adiknya. Dia menangis keras, tidak peduli dengan orang yang telah berkerumun.
Adiknya segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun Tuhan berkehendak lain. Adiknya sudah tidak tertolong. Dhika limbung. Semua keluarganya menangisi kepergiannya. Dengan penuh amarah Dhika pergi dari rumah sakit dan mencari sahabatnya.
Dia mendapati sahabatnya masih di tempat kejadian adiknya kecelakaan. Dhika melihat sahabatnya juga rapuh namun perasaan Dhika sudah tertutup amarah hingga dia tidak peduli besarnya rasa bersalah sahabatnya. Dhika memukuli sahabatnya dengan penuh amarah. Sahabatnya tidak melakukan perlawanan sedikit pun hingga dia dilarikan ke rumah sakit. Dia tidak sadarkan diri, dia koma selama 2 hari. Dhika menepis rasa bersalahnya kepada sahabatnya. Rasa bencinya lebih besar dari pada rasa bersalahnya.
flashback off
"Andai gue dulu yang jemput Elin, bukan pembunuh itu," batin Dhika.
"Tapi kenapa harus adek gue? Kenapa bukan si pembunuh itu? Aarrghh brengsek!" batinnya lagi.
__ADS_1
Kejadian naas yang Dhika saksikan di depan matanya, membuat Dhika benci dengan sahabatnya bahkan tidak mau bertemu lagi dengan sahabatnya.