
Dhika mencari Nisa, menengok kesana kemari, berlari dari satu ruangan ke ruangan lain tanpa terlewat satupun. Namun hasilnya nihil. Nisa belum Dhika temukan. Dhika mengerang frustasi. Dia khawatir dengan keadaan Nisa saat ini. Dhika memutuskan untuk mengakhiri dan menemui kedua sahabatnya.
"Gimana Gas, Van udah ketemu?" tanya Dhika saat mereka sudah berkumpul lagi. Dhika memandangi kedua sahabatnya bergantian.
Bagas dan Ivan hanya menggelengkan kepala mereka. Mereka merasa bersalah karena tidak berhasil menemukan Nisa dan yang lainnya.
"Sudahlah men, jangan terlalu khawatir," ucap Bagas menenangkan. Namun wajah gusar Dhika masih sangat kentara.
"Tapi dia.... " Dhika tidak melanjutkan ucapannya, kekhawatirannya makin membuncah.
"Tapi dia termasuk orang berharga bagiku. Entah kenapa hatiku mengatakan demikian," Dhika melanjutkan ucapannya dalam hati.
"Udahlah Bro Dhik. Bener kata Britgas. Santai. Yakin saja dia tidak apa - apa. Lagi pula ada 2 sahabatnya yang ada bersamanya," imbuh Ivan membenarkan ucapan Bagas.
"Heh britgas britgas pala lo! Emang gue cowok apaan?? Warnanya aja pinki pinki,, hiihhh," Bagas bergidik ngeri membayangkan semua yang dia pake warnanya pink, berdandan ala tante.
"Hahaha emang kenyataannya gue ragu Gas. Atau jangan - jangan lo...... hayoloh ngaku lo Gas," Ivan menunjuk Bagas, meledeknya.
"Njiirr lo Van. Kampret!" umpat Bagas.
"Lo mau bukti?? Ayok cari kamar kalau mau lihat?" Bagas menantang Ivan.
"Sini bang adek lihatin," ucap Ivan sok unyu. Ingin membuka celana Bagas.
Sontak Bagas lari mendahului Dhika dan Ivan. Dia lupa kalau orang yang dia tantang otaknya sedikit gesrek. Sungguh geli membayangkan yang tidak - tidak, secara Bagas masih pria normal. Membayangkan saja dia bergidik geli. Dhika menggelengkan kepalanya. Dhika mengulas senyum tipis melihat betapa absurbnya tingkah kedua sahabatnya itu.
Greb
Ivan merangkul pundak Dhika lalu terus berjalan menyusuri karidor sekolah.
*************
"CEWEK SIALAN!!!!!" teriak Cecil di salah satu ruang kosong.
"AARRGGGGHHH!!" teriaknya lagi.
Jeje, Rere, dan Lala menatapnya iba. Dia menatap punggung di depan mereka yang mulai bergetar. Tidak ada yang berani bicara. Mereka takut, salah - salah bicara mereka nanti yang kena semprot Cecil. Lebih baik diam, sebelum Cecil mengajak mereka bicara.
"Je, apa salah gue? Kenapa dia merebut Dhika?!" ucap Cecil ditengah tangisnya.
"Re kenapa Dhika gak pernah nglirik gue? Apa kurangnya gue? hiks.. Gue cantik, gue kaya. Sedangkan dia?? Apa lebihnya cewek sialan itu?" tanya Cecil lagi. Rere, Jeje dan Lala masih diam. Mereka tahu itu bukanlah suatu pertanyaan yang perlu mereka jawab.
"AARRRRGGGGHH," Cecil mengobrak abrik isi ruangan itu. Kursi dan meja yang telah ditumpuk jatuh berantakan.
Rere dan Jeje berusaha menenangkan Cecil.
"Menurut gue, lo itu kasar Cil," ucap Lala tanpa sadar. Rere dan Jeje menepuk dahinya sendiri merutuki kebodohan Lala yang berbicara tanpa disaring terlebih dahulu.
Seketika Cecil melirik tajam Lala. Sungguh sangat kesal hatinya.
"Apa lo bilang?! Ulangi kata - kata lo!" bentak Cecil. Lala berjengit kaget.
"Hehe pisss Cil, bercanda. Gak beneran kok hehehe" Lala mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Cecil melengos.
"Udah Cil, lo nggak kurang apa pun kok. yang kurang mungkin cuma perjuangan lo dapetin Dhika aja," ucap Rere.
"Pokoknya gue harus dapetin my love, apa pun caranya," tekat Cecil. Cecil menghapus kasar air matanya.
Setelah itu Cecil dan yang lainnya keluar dari ruangan itu. Cecil berusaha untuk baik - baik saja agar tidak kelihatan lemah. Menurutnya kelihatan lemah di depan orang lain hanya akan menjadi kelemahannya.
**************
Nisa masuk ke dalam toilet dengan Okta dan Rindang. Dia ingin membersihkan dirinya. Sungguh rasanya campur aduk. Sedih, marah, capek, kesal bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Baju seragam milik cowok itu dia lepas. Nisa mengamati baju itu. Lalu Nisa berdiam diri menghadap ke arah cermin cukup lama. Dia menatap dirinya sendiri. Rasanya sangat sesak. Rasanya sia - sia saja dia melawan perlakuan Cecil dan lainnya.
__ADS_1
Okta dan Rindang menatap iba sahabatnya itu. Sungguhnya mereka kasihan melihat Nisa seperti itu.
"Nis," panggil Okta pelan.
Nisa membalikkan badannya.
Okta ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Lehernya seperti tercekat. Okta merentangkan tangannya. Nisa segera memeluk Okta, sahabatnya itu. Seketika tangis Nisa pecah. Nisa memeluk sahabatnya itu. Okta yakin bahwa pelukan bisa menenangkan tanpa harus berbicara.
"Taa...hiks hiks," ucapnya disela tangis.
"Luapin Nis luapin supaya lo lega," Okta mengelus punggung Nisa. Nisa semakin terisak.
"Nis," Nisa melepas pelukannya saat Rindang memanggilnya.
"Nis kita hadapi bersama. Aku sama Okta bakal tetap ada di sampingmu," ucap Rindang.
Nisa mengulas senyumnya. Mereka bertiga berpelukan. Rasa hangat menyelimuti hati mereka. Nisa semakin terisak haru dalam pelukan mereka. Dia merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu ada buatnya.
**************
Jam istirahat siang hampir selesai. Dhika, Bagas dan Ivan berjalan di karidor sekolah menunggu jam masuk yang tinggal sebentar.
"Eh Gas, Van gue mau ke toilet dulu. Kalian duluan aja ke kelasnya," ucap Dhika.
"Oh oke kalau gitu. Kita duluan," ucap Bagas.
Dhika menuju ke toilet dengan berlari, keburu nggak tahan buang air kecil.
"Huffftt legaa," gumamnya setelah selesai.
Dhika bergegas untuk ke kelas. Namun tak disangka dia mendengar isakan seorang cewek. Karena penasaran, Dhika berhenti untuk mendengarkan apa yang terjadi.
"Eh kok seperti cewek menangis. Apa jangan - jangan Nisa?" gumam Dhika menebak siapa yang menangis.
"Hei!"
Suara Dhika mengagetkan mereka. Nisa segera menghapus air matanya.
"Apakah lo baik - baik saja?" tanya Dhika ke Nisa walaupun sebenarnya dia tahu bahwa Nisa tidak baik - baik saja.
Nisa mengangguk menegaskan bahwa dia baik - baik saja. Nisa mengulas senyum tipis. Tapi perasaannya tidak bisa disembunyikan dari penglihatan Dhika.
"Hei, segeralah ganti baju seragam supaya lo gak kedinginan," ucap Dhika yang melihat baju seragamnya ada di pegangan tangan Nisa. Nisa segera masuk ke dalam bilik toilet.
Okta dan Rindang bertanya - tanya dalam hati mereka masing masing, siapa cowok ini? Kenapa dia membantu Nisa? Namun mereka enggan untuk bertanya. Sudah beberapa hari mereka bersekolah namun mereka masih tidak tahu bintang di sekolah mereka.
Tettt tet teeeetttt
Jam istirahat sudah usai. Mereka tetap berdiri disana menunggu Nisa usai ganti.
ceklek
Nisa keluar dari bilik toilet. Okta dan Rindang menahan tawa. Postur tubuh Nisa yang kecil terlihat semakin mungil ketika memakai seragam Dhika yang tubuhnya berpostur tinggi besar.
"Imut," batin Dhika.
"Kenapa kalian ketawa?" Nisa mengerutkan dahinya.
"Enggak Nis enggak," ucap Okta menahan tawanya agar tidak kelepasan. Rindang membekap mulutnya sendiri dengan tangannya.
Mereka segera meninggalkan toilet. Kelas sudah dimulai. Tanpa aba - aba Dhika meraih tangan Nisa.
"Aww" Nisa meringis.
"Sorry," Dhika segera melepaskan tangannya. Tanpa sengaja dia memegang bagian tangan Nisa yang terkena tumpahan kuah bakso panas.
__ADS_1
Dhika meraih tangan itu kembali dan melihatnya. Tangan Nisa memerah dan kalau tidak segera diobati kulitnya bisa melepuh. Dhika membawa Nisa ke UKS dan menyarankan agar Okta dan Rindang segera kembali ke kelas. Dhika meminta Okta untuk mengijinkan Nisa tidak masuk kelas hingga satu jam ke depan.
********
"Duduklah disana dan tunggu sebentar," Dhika menyuruh Nisa duduk di kursi yang ada di UKS. Nisa menurut.
Nisa melihat Dhika pergi ke luar. Nisa menunggu kedatangan Dhika sambil mengamati ruang UKS itu.
Beberapa saat kemudian Dhika kembali ke UKS dengan sebaskom air es. Dia mengambil air es di kantin. Kemudian Dhika mengambil kasa steril dari kotak P3K.
"Rendamkan tangan lo ke dalam baskom ini," Nisa menurut. Seketika tangannya terasa lebih dingin dan enakan. Nisa mengulas senyum.
"Gimana? Enakan?" tanya Dhika. Nisa hanya menganggukan kelapanya sambil tersenyum.
"Ngomong - ngomong Kakak siapa? Apakah kita pernah ketemu atau kenal? Kenapa Kakak mau bantuin aku padahal kita belum kenal kan?" tanya Nisa.
"Apa butuh alasan untuk menolong seseorang yang butuh pertolongan?" Dhika mengulas senyum. Nisa menggeleng lemah.
"Dhika," Dhika mengulurkan tangannya.
"Nisa," Nisa menyambut uluran tangannya.
Setelah dirasa cukup, dengan hati - hati Dhika meraih tangan Nisa dan mengeringkannya lalu membalut tangan Nisa dengan kasa steril agar terhindar dari bakteri. Nisa memandangi Dhika tanpa berkedip.
"Selesai," Dhika mengulas senyum.
"Tampan," gumam Nisa lirih tanpa sadar. Dhika terlihat sangat menawan saat dia tersenyum.
"Apa?" tanya Dhika karena suara Nisa tidak terdengar olehnya. Nisa tersenyum canggung.
"Hehehe tidak Kak. Terimakasih ya Kak," ucap Nisa. Dia memanggil Dhika dengan sebutan "kak" karena dia pernah melihat Dhika berada di jajaran para OSIS saat dia PLS.
Dhika hanya mengulas senyum, lucu saja melihat tingkah gadis di depannya itu. Dhika segera berdiri dan mengajak Nisa kembali ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran yang terakhir.
************
Sepulang sekolah Nisa memikirkan bagaimana jika mas dan orang tuanya bertanya kenapa tangannya diperban dan kenapa bajunya jadi over size. Dalam perjalanan pulang pun Nisa melamun sampai dipanggil Okta dia tidak mendengarkannya.
"Hei Nis!!" teriak Okta.
"Yaampun Ta ngagetin aja kamu tuh!" Nisa kaget.
"Habis dari tadi gue panggil lo kagak nyaut sih," ketus Okta.
"Hehe sorry Ta. Emang kamu tadi manggil aku?" tanya Nisa yang memang tidak mendengar panggilan Okta.
"Ettdahhh. Atau jangan - jangan lo mikirin tu senior yang bantuin lo ya. Hayo ngaku lo Nis," goda Okta.
"Enggak Ta," Sangkal Nisa.
"Ciyee yang dibelain, yang diperhatiin yang diobatin. Meleleh hati ini mas," Okta semakin gentar menggoda Nisa.
Nisa yang kesal pun memukul pundak Okta yang sedang menboncengkan Nisa. Okta hampir saja kehilangan kendali. Dia kaget saat Nisa memukul pundaknya.
"Wewewewe, resek lo Nis. Mukulnya entaran aja. Gue kaget nih. Untung nggak nyemplung got!" sungut Okta.
"Hehe sorry Ta," Nisa hanya menyengir.
Setelah sampai di rumah Nisa, Okta langsung pulang. Nisa segera masuk ke dalam rumah. Nisa mindik - mindik seolah dia sedang mencuri sesuatu. Dia ingin menghindar dari kedua orang tuanya dan juga masnya agar Nisa tidak ditanyai macam - macam.
Syukurlah, kata Nisa dalam hati. Ternyata mereka semua tidak ada di rumah, Nisa lega. Segera dia masuk ke dalam kamar. Dia mencoba melihat tangan yang sedikit tersiram kuah bakso.
"Untung nih kulitku gak mudah luka. Jadi kalau hanya tersiram kuah panas yang sudah terkena udara luar merahnya cuma sebentar. Lagi pula tadi juga sudah dapat pertolongan pertama dari kak Dhika," ucap Nisa dengan dirinya sendiri.
Nisa melepas kasanya namun dia tidak menggantinya lagi. Nisa tidak mau keluarganya curiga, lagian tidak apa - apa juga, pikir Nisa.
__ADS_1