
"Mak Pak, aku pulaaaang!" ucap Nisa saat sampai di rumah.
"Dari mana Dek?" tanya Setyo yang kebetulan baru pulang dari rumah temannya. Hari Minggu ini Setyo memang ada janji temu dengan temannya.
"Itu Mas, nganter pesanannya Bapak, ke komplek perumahan elit," jawab Nisa. "Wawawa Mas dari mana nih? Baju rapi, wangi lagi (Nisa mengendus Setyo). Bikin curiga aja. Jangan - jangan....." selidik Nisa.
"Apaan sih Dek," ucap Setyo mengerutkan dahinya.
"Mas berkencan ya dengan pacarnya? Haihh ngaku aja Mas," ucap Nisa sok tahu,tersenyum curiga.
"Haiisstt sotoy kamu Dek," Setyo meraup wajah Nisa dengan telapak tangannya. Nisa mencebik kesal.
"Nak kecil diem, tugasnya belajar," ucap Setyo sambil berkacak pinggang.
"Kalian ini lho kakak adik kok gak pernah akur. Mamak pengin lho lihat sekali aja kalian itu akur kalau bareng," ucap Bu Tin yang muncul dari dapur. Dia ingin membuang sampah yang letaknya di pinggir jalan depan rumah.
"Itu Mak, Mas Setyo!" adu Nisa.
"Eh eh eh finah kamu Dek. Kamu duluan tadi," kilah Setyo.
"Mas duluannn!"
"Yaampun Dek, finah lebih kejam dari pada ngambil jatah makananmu Dek," ucap Setyo melas.
"Heisstt sudah - sudah. Lebih baik kalian mandi. Sudah sore ini," titah Bu Tin yang tidak bisa diganggu gugat. Mereka berdua mengikuti perintah Bu Tin. Tidak ada yang berani bantah Bu Tin ketika keputusanya sudah final.
Sesampainya di kamar, Nisa menyiapkan baju ganti yang akan ia bawa ke kamar mandi. Nisa merogoh celana yang dia pakai untuk mengeluarkan barang - barang yang ia simpan di sakunya, agar nanti tidak berjatuhan saat ia melepas celananya. Tiba - tiba Nisa teringat uang hasil penjualan bibit tadi. Nisa menghitung kembali uang yang ia dapat. Ternyata uang itu kelebihan.
Nisa segera menyerahkan uang hasil penjualan tadi kepada Mamaknya. Sedangkan sisa kelebihan uang itu dia simpan terlebih dahulu untuk Nisa kembalikan. Tak lupa Nisa bilang sama mamaknya kalau uang yang diberikan Tante Santi kelebihan dan besok akan Nisa kembalikan. Bu Tin setuju dengan Nisa.
Hari berikutnya Nisa berencana untuk mengembalikan kelebihan uang itu lewat Dhika. Seharian dia mencari Dhika di sekolah namun Nisa tidak melihat batang hidungnya sedetikpun. Kedua teman Dhika, Bagas dan Ivan pun juga tidak Nisa temukan.
"Ta kamu ketemu ataupun melihat Kak Dhika nggak hari ini?" tanya Nisa.
"Nggak sih Nis," jawab Okta. "Udah tanya sama anak - anak kelas lain?" tanya Okta.
Nisa mengangguk. "Tapi mereka nggak ada yang tahu Ta," jelas Nisa.
"Udah tanya kakak kelas?" tanya Okta lagi.
Nisa menggelengkan kepalanya. "Belum Ta, aku gak berani. Aku takut kena damprat sama mereka kalau ketahuan mencari Kak Dhika. Tahu sendiri kan Kak Dhika the most wanted?" jawab Nisa. Okta juga menyetujuinya.
Sepulang sekolah Nisa memutuskan untuk langsung ke rumah Dhika. Untung saja Nisa masih ingat alamat rumah Dhika.
Sesampainya di rumah Dhika, Nisa disambut hangat oleh Tante Santi. Senyum ramah nan hangat menghiasi wajahnya. Tante Santi sangat bahagia sekaligus terkejut dengan kedatangan Nisa yang mendadak. Ia mengajak Nisa untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tante Santi menyuruh pembantu rumah tangganya untuk membuatkan minuman juga membawakan makanan ringan untuk Nisa. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Mereka berbincang - bincang ringan. Hingga Nisa merasa waktunya udah pas untuk menyampaikan tujuan awalnya ia berkunjung.
__ADS_1
"Maaf Tan kalau kedatangan saya mendadak. Kemarin uang pembelian bibit terong dan cabainya kelebihan Tan. Jadi ini saya kembalikan," ucap Nisa to the point. Nisa menyerahkan kelebihan uang pembelian kepada Tante Santi. Namun Tante Santi tidak menerima uang itu. Ia malah terkejut, lalu tersenyum. Dia tidak menyangka ternyata Nisa termasuk anak yang jujur.
"Aduh Nis, gak usah dibalikin," tolak Tante Santi. "Anggap saja itu rejeki untukmu. Buat tambahan uang jajan," imbuh Tante Santi.
"Tapi Tan..." ucap Nisa berhenti.
"Tidak ada tapi - tapian," Tante Santi menggunakan telunjuk tangannya untuk menegaskan pernyataannya.
"Nggak anak nggak ibunya sama saja, sama - sama pemaksa." ucap Nisa dalam hati.
Nisa memasukkan uang itu ke dalam tasnya. Rasanya campur aduk, antara senang dan tidak enak hati. Senang karena uang jajannya bertambah, tidak enak hati karena ia belum lama kenal dengan Tante Santi.
Karena waktunya semakin sore, Nisa berpamitan pulang. Nisa takut Mamaknya khawatir. Sepulang sekolah tadi Nisa hanya berpamitan kalau pulangnya agak terlambat. Tante Santi paham, ia mengantar Nisa ke luar rumah.
"Hei Nis, kok ada di sini?" Nisa berpapasan dengan Dhika yang baru pulang.
"Hehe iya kak. Di sekolah aku cari kakak dan dua sahabat kakak tapi tidak ketemu, makanya aku langsung ke sini." imbuhnya lagi.
"Ada perlu apa Nis?" tanya Dhika penasaran kenapa Nisa sampai mencarinya.
"Ini kak aku tadi mengembalikan kelebihan uang pembelian bibit kemarin," jelas Nisa "tapi gak diterima sama Tante Santi."
"Udah diterima aja. Anggap saja rejekimu." ucap Dhika.
"Kak kemana aja seharian aku cariin tidak ketemu?" tanya Nisa penasaran. Tapi kemudian Nisa merutuki kekepoannya yang kambuhnya tidak terduga.
Saat sampai di pintu utama Tante Santi menghentikan langkah Nisa. Dia menatap Nisa dalam, membuat Nisa salah tingkah. Tatapan Tante Santi sendu, seakan menginginkan sesuatu.
"Nis, Tante boleh peluk kamu sebentar?" pinta Tante Santi. Nisa mengangguk dan tersenyum. Tante Santi menghambur memeluk Nisa dengan erat seakan tidak mau dipisahkan lagi, seperti pelukan hangat seorang ibu kepada anaknya. Nisa merasakan itu.
Tak terasa Tante Santi meneteskan bulir air mata. Dia langsung menghapus air matanya agar Nisa tidak menyadarinya. Ada perasaan tenang dan bahagia di hatinya saat memeluk Nisa. Rasa kangen terhadap anak bungsunya yang telah tiada seakan terobati.
"Tante, Nisa pulang dulu ya," ucap Nisa sambil melepas pelukannya.
Tante Santi mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Hati - hati Nis," ucap Tante Santi.
Beg beg beg beg
Suara motor Nisa. Nisa menyalakan motornya namun mesin motornya tidak mau menyala. Berulang kali Nisa mencobanya namun tak kunjung menyala. Berulang kali juga Nisa mengumpat di dalam hatinya. Tante Santi melihat Nisa kesulitan. Ia mendekat ke arah Nisa.
"Motormu kenapa Nis?" tanya Tante Santi.
"Gak tahu ini Tan, saya coba menyalakan mesinnya tapi tidak mau menyala," ucap Nisa sedih sekaligus kesal.
"Bentar Tante panggilin Dhika," Tante Santi memanggil Dhika ke dalam rumah untuk membantu Nisa.
Tak lama kemudian Tante Santi keluar bersama Dhika. Dhika segera mengecek kerusakan motor Nisa. Ternyata busi motor Nisa sudah tidak berfungsi lagi. Memang sudah lama Nisa tidak menserviskan motornya.
__ADS_1
Busi adalah suatu suku cadang yang dipasang pada mesin pembakaran dalam dengan ujung elektrode pada ruang bakar. Busi dipasang untuk membakar bensin yang telah dikompres oleh piston (sumbat geser yang terpasang di dalam sebuah silinder mesin pembakaran).
"Wahh ini businya mati Nis, harus diganti," ucap Dhika. "Punya busi serep nggak Nis?" tanya Dhika kemudian.
"Tidak kak," Nisa menggelengkan kepalanya.
Dhika menyuruh satpam di sana untuk membelikan busi motor Nisa. Dhika sendiri segera ke garasi rumahnya untuk mengambil alat bengkel yang dia punya. Walaupun Dhika bukan montir tapi dia cukup ahli kalau untuk urusan mesin motor. Dhika mempunyai motor kesayangan yang sering ia pakai. Jadi dia belajar perbengkelan untuk mengatasi masalah yang terjadi dengan motor kesayangannya.
Dhika membongkar busi motor Nisa dengan telaten. Dia melepas busi yang terpasang di motor Nisa. Businya sangat dekil, sudah waktunya minta diganti. Tak lama kemudian satpam itu datang membawa busi baru. Dhika memasang busi itu lalu menyalakan mesin motor itu. Nisa memperhatikan Dhika dengan seksama supaya jika kejadian ini terulang Nisa bisa memperbaikinya sendiri.
Motor Nisa sudah bisa menyala. Nisa pamit pulang. Tante Santi menyuruh Dhika untuk mengantar Nisa pulang. Ia khawatir motor Nisa mogok lagi di tengah jalan. Nisa hanya bisa menerima kebaikan mereka.
"Pak, Mak, Mas aku pulaaang!" teriak Nisa yang tidak menyadari keberadaan Dhika di sebelahnya.
Dhika mengulas senyum tipis, melihat tingkah Nisa yang mirip dengan adiknya yang telah tiada. Bayangan masa lalu menghampirinya. Sosok anak perempuan berwajah manis berteriak saat dia pulang ke rumah.
"Andai lo masih hidup Lin, hidup gue gak akan kesepian. Gue kangen Lin," batin Dhika melow. Wajah Dhika yang semula tersenyum berubah sendu.
Pak Man, Bu Tin dan Setyo segera menghampiri Nisa. Kekhawatiran mereka lenyap melihat Nisa sudah pulang.
"Yaampun Nis, mbok jangan teriak - teriak lho udah petang Nih," ucap Bu Tin mengingatkan. Logat jawa Bu Tin sangat terdengar jelas, hingga siapa pun yang mendengarnya akan tahu asal Bu Tin dari mana.
"Kamu tuh Dek, kasihan tetangga kita bisa - bisa bud*g denger kamu teriak - teriak mulu kayak tarzan," timpal Setyo.
"Kalau aku tarzan berarti Mas lebih tarzan dong," ucap Nisa kemudian tertawa.
"Wawawa...." ucap Setyo terhenti.
"Wes sudah - sudah, tidak malu apa dengan temen Nisa?" ucap Pak Man melerai kedua anaknya.
Dhika berdiri dan menyalami kedua orang tua Nisa serta kakaknya.
"Hehehe maaf, aku lupa. Susah dihilangkan soalnya Pak," ucap Nisa sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal. Dia malu menyadari Dhika ada di sana. Dhika terkekeh dibuatnya.
"Maafkan kami yang membuatmu tidak nyaman Nak," ucap Bu Tin meminta maaf.
Dhika berhenti terkekeh. "Tidak apa Tante, om."
"Jangan panggil Tante, panggil Bulik sama Paklik aja," pinta Bu Tin. Dhika mengangguk mengerti.
Dhika memperkenalkan dirinya kepada keluarga Nisa. Pak Man akhirnya tahu kalau Dhika adalah orang yang memesan bibitnya.
"Nak kalau bibitnya ada yang mati bilang saja. Nanti biar kami ganti dengan yang baru," ucap Pak Man.
"Baiklah Paklik," ucap Dhika.
"Nis kenapa jam segini baru pulang? Dan kenapa Nisa juga bisa pulang denganmu?" tanya Pak Man.
__ADS_1
Dhika menjelaskan apa yang telah terjadi hingga Dhika mengantar Nisa pulang sampai rumahnya. Pak Man dan Bu Tin sangat berterimakasih. Setelah itu Dhika pamit pulang kepada Nisa dan kedua orang tua Nisa karena hari semakin malam. Dhika juga titip salam untuk Setyo karena Setyo tadi berpamitan masuk ke dalam kamarnya. Jadi Dhika tidak sempat berpamitan dengan Setyo.