Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Sudah Jatuh Gak Ada Pula


__ADS_3

Cecil pergi dari tempat itu dengan rasa malu sekaligus marah. Sungguh dia sangat kesal. Rasa bencinya kepada Nisa semakin besar. Teman - temannya pun mengikuti Cecil. Cecil berjalan menuju kamar mandi. Dia membasuh mukanya dan membersihkan roknya yang basah dan kotor karena minuman yang tumpah di lantai.


Dia menatap bayangan dirinya pada cermin di depannya. Terlihat muka cantik yang memerah karena marah. Dia menghentakkan tangannya di pinggiran wastafel. Cecil sangat geram dengan Nisa.


"Cewek sialan, setiap ketemu bikin sial mulu," geruntu Cecil menahan amarahnya.


"Udah Cil, kasihani tuh tenagamu. Sayang kalau dibuang- buang buat marah - marah karena cewek gak jelas itu. Emang sih tu anak minta dijambak rambutnya. Rambutnya menyakitkan mata," ucap Jeje salah satu teman Cecil. Jeje mengelus pelan pundak Cecil.


"Sabar Cil, sabar. Lebih baik kita pikirkan langkah apa yang cocok untuk membalas cewek sialan itu," ucap Rere.


Cecil memikirkan perkataan mereka. Dia tersenyum miring. Berbagai rencana telah muncul satu persatu. Dia tidak terima ditertawakan oleh orang lain dan dia berpikir Nisa penyebabnya.


Ya mereka si gerombolan sok berkuasa, Cecil, Jeje, Rere, dan Lala. Mereka adalah anak dari pengusaha - pengusaha kaya. Mereka juga gadis - gadis yang cantik tapi hati tak secantik rupanya. Mereka merasa bahwa mereka paling berkuasa karena kekayaan orang tua mereka dan juga kecantikan paras yang dimiliki mereka. Rata - rata mereka adalah gadis yang arogan kecuali Lala karena dia termasuk anak polos yang terjerumus.


Cecil segera menegakkan badannya. Dia masih tersenyum miring. Cecil juga tersadar kalau dia belum mengganti roknya yang masih kotor dan basah walau dibersihkan.


"La ambilin rok gue diloker sana. Cepet! Gak pake lama pokoknya!" perintah Cecil pada Lala. Gadis cantik tapi dia sering lola.


"Ehh, gimana - gimana? Ehh dimana?" ucap Lala yang masih agak bingung.


"Aduh ni anak masih lolanya kumat gak pernah bisa lihat situasi," Jeje menepuk dahinya.


"Re kasih tau Lala sono, gue males jelasin!" Jeje nggak habis pikir, kenapa dia punya temen lemotnya kebangetan?


Rere yang melihat Jeje yang jengkel dengan Lala dia melirik ke Cecil. Ia mendapati Cecil masih senyum senyum sendiri dengan senyum jahatnya. Akhirnya dialah yang menjelaskan ke Lala.


"Lala sayang," Rere mengulas senyum paksanya karena dia cukup jengkel dengan kelakuan Lala.


Lala menoleh ke arah Rere. Menunggu kelanjutan ucapan Rere.


"Lala yang cantik ini harus ambil rok di lokernya Cecil. Sekarang juga La," ucap Rere dibuat selembut mungkin agar Lala bisa mencernanya dengan baik.


"Hehehe okeoke," ucap Lala cengengesan.


Rere pun akhirnya lega. Lala sebenarnya sadar kalau dia memang orang yang cukup lola. Tapi mau bagaimana lagi?? Sulit baginya untuk mengubah semua itu.

__ADS_1


Lala pun segera pergi mengambil rok Cecil di loker milik Cecil. Namun Dia sungguh terkejut.


"Lahh kenapa roknya Cecil gak ada? Duh gimana nih nanti kalau Cecil marah bahaya nih bahaya," ucap Lala dengan dirinya sendiri.


Lala sangat panik.


Lala meneliti semua loker milik teman temannya tak terkecuali loker miliknya. Tapi dia tidak menemukan satu pun rok milik mereka.


"Duh gimana nihh?" ucapnya lagi.


"Ahh udah ah balik aja."


Lala memutuskan untuk kembali ke kamar mandi tempat Cecil dan teman temannya berada. Tentunya dengan perasaan was was.


Sesampainya di kamar mandi Lala melihat teman temannya berbincang ringan. Dia melangkah dengan perasaan takut dan kasihan kepada Cecil.


"Cil, sorry roknya gak ada," ucap Lala dengan perasaan bersalahnya. Walaupun dia lola, dia mudah merasa bersalah. Entah setan apa yang merasukinya, dia bergabung dengan gerombolannya Cecil yang kerjaannya membully orang yang lemah.


"Apa lo bilang? Gak ada?" ucap Cecil yang diangguki Lala. Cecil mendesah kesal. Dia lupa membawa kembali rok simpanannya karena kemarin dia pakai karena biasa lah masalah wanita.


"Ck, terus punya lo, Jeje, dan Rere??" tanya Cecil lagi.


"Sorry Cil kemarin aku bawa pulang," ucap Rere.


"Iya Cil punyaku juga," Jeje mengangkat tangannya dan membentuk tanda perdamaian. Seperti ini ✌


"Akkhhh tau ah," mood Cecil kembali anjlok.


"Gimana kalau gue beliin roknya di koprasi? Tapi pake duit lo hehe," usul Lala.


"Gak!! Pake duit lo dong. Gue lupa bawa dompet gue!" ucap Cecil ketus. Sebenarnya dia bawa cuma dia malas mengambilnya.


Lala memandang ke Rere dan Jeje bergantian. Namun ternyata mereka mengisyaratkan tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli roknya Cecil.


"Yahhh duit gue melanyang huhuhu," Lala mengasihani uangnya. Dia anak yang kurang suka menghamburkan uangnya.

__ADS_1


"Yaelah La perhitungan amat sama temen lo sendiri," geruntu Cecil.


"Iya iya, tapi ntar ganti yahh hehe," ucap Lala.


"Iya iya,,, ribet amat lo. Cepet sono beliin gue keburu kering nih ntar jadi sia - sia rok barunya!" ucap Cecil semakin kesal.


Lala segera pergi ke koperasi membeli roknya Cecil. Rere dan Jeje hanya bisa menghela napas melihat Lala. Mereka heran, selain lola ternyata Lala juga perhitungan.


Sebenarnya Lala itu gadis yang baik. Dia memilih bergabung dengan Cecil karena dia tidak mau menjadi bahan bully-an Cecil. Lala sadar dia punya banyak kekurangan, yang paling parah adalah loading lamanya. Dia bergabung untuk mengamankan dirinya dari cemooh orang lain.


Beberapa saat kemudian Lala mendapatkannya. Dia memberikannya ke Cecil. Setelah semuannya beres mereka merundingkan langkah apa yang akan mereka lakukan untuk membalas perbuatan Nisa.


*********


Di waktu yang sama, Siswi culun yang dibully Cecil dan teman - temannya sangat berterima kasih pada Nisa dan Okta karena telah bersedia membantunya. Dia tidak menyangka ternyata masih ada orang baik yang mau menolongnya.


"Kak makasih ya udah bantuin aku," ucap siswi itu.


"Iya sama sama " Nisa mengulas senyum tulusnya.


"Aku Nisa," Nisa mengulurkan tangannya.


"Rindang," Rindang menerima uluran tangan Nisa.


"Okta."


"Rindang."


Okta melakukan hal yang sama seperti yang Nisa lakukan. Mereka pun bercakap - cakap sebentar di awal perkenalan mereka.


"Oh ya Rin, panggil aku langsung namanya aja ya. Soalnya kita seangkatan jadi santai saja," ucap Nisa tersenyum.


Rindang pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Yaudah deh karena dah mau masuk gue sama Nisa duluan Rin, bye," pamit Okta pada Rindang. Dia tahu walaupun mereka satu jurusan, Rindang berbeda kelas dengan Nisa dan Okta.

__ADS_1


Nisa dan Okta berjalan menjauhi Rindang, melangkahkan kaki ke kelas mereka.


Tanpa mereka sadari, seorang siswa mengamati mereka bertiga. Dia kagum dengan sosok Nisa yang pemberani dan menentang Cecil. Sampai saat ini baru Nisa lah yang berani melawan Cecil. Dia bertekat ingin berkenalan dengan Nisa bagaimanapun caranya.


__ADS_2